Ultimate magazine theme for WordPress.

Bekas Wabah Covid-19 yang Masih Melekat

Oleh: Sri Wahyuni Lubis, S.Pd
(No.UKG : 201500087209/Unit Kerja: SMPN 8 Tanah Putih) 

WABAH  Virus Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia banyak meninggalkan bekas yang mendalam bagi masyarakat Indonesia, khususnya dunia pendidikan.

Dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat(PPKM), berdampak pada sekolah yang harus melakukan kegiatan proses belajar mengajar mode daring. Siswa diwajibkan untuk mempunyai gawai untuk menunjang proses pembelajaran tersebut. Dengan adanya kebijakan tersebut, meninggalkan dampak negatif hususnya bagi siswa, penggunaan gawai bukan hanya untuk belajar tetapi lebih banyak digunakan anak untuk berbagai aplikasi terutama game online.

Akibatnya banyak siswa yang kecanduan game online, sehingga mereka tidak lagi menghiraukan tujuan utama kegunaan gawai yaitu untuk belajar.

Baca Juga:  Angela Merkel Merampungkan Tugasnya

Menyusul ditemukan nya ratusan anak di Jawa Barat yang masuk rumah sakit jiwa karena kecanduan game online di telepon selular.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Sirait Merdeka, mengatakan,  pemerintah tidak bisa membuat laranganterkait gadget untuk anak, karena itu ranah pribadi, dikutip dari, Suara.com (Jumat, 19 Maret 2021).

Hal tersebut menimbulkan keresahan yang sangat mendalam bagi penulis sebagai tenaga pendidik khususnya sebagai orang tua.

Dimana anak-anak tidak lagi memperdulikan waktu untuk belajar, beribadah bermain, bersama teman, membantu pekerjaan rumah.
Bahkan ironis nya mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain game  online.

Baca Juga:  Apa Cita-Citamu?

Setelah hampir 2 tahun anak belajar dari rumah, sekarang sebagian sekolah sudah mulai pembelajaran luring, dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat, dan jam pelajaran yang di persingkat.

Tak terkecuali juga di tempat penulis mengajar anak-anak sudah boleh belajar tatap muka. Inilah penomena yang penulis lihat, anak-anak sekolah sudah tidak bisa lekang dari gawainya, sebelum bel masuk berbunyi mereka berkumpul baik itu di ruang kelas, di kantin, di belakang sekolah,apa yang mereka lakukan ternyata mereka berkumpul bermain game online.

Bahkan pada saat bel masuk pun mereka indahkan, karena sedang asyik dengan permainan game online tersebut.

Baca Juga:  Pasca Keputusan MK : Apa Tugas Pertama Presiden Terpilih ?

Pola berfikir anak-anak tersebut sudah berubah, bahkan gaya bicara mereka pun sudah jauh dari etika sopan santun. Saya sebagai
guru khususnya orang tua hanya bisa memberikan pengarahan dan pengertian bahaya serta efek samping dari permainan game online tersebut, supaya tidak bertambah lagi korban anak-anak dan remaja yang kecanduan game online dan media sosial lainnya.

Harapan supaya anak-anak bisa menjalani hidup normal seperti dulu, tau akan waktu belajar, bermain,beribadah, membantu pekejaan rumah, memiliki etika dan sopan santun terhadap yang lebihtua dan menyayangi yang lebih muda. Semoga anak Indonesia segera kembali pulih seperti sedia kala.#

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...