Ultimate magazine theme for WordPress.

Melayuisasi UIN Raden Fatah Palembang

Oleh : Muhamad Setiawan, S.H.

(Anggota Lembaga Kajian Naskah Melayu (LKNM) Provinsi Sumatera Selatan)

 

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang yang biasa disebut UIN Raden Fatah Palembang memiliki sejarah yang cukup panjang dari awal mula sejak resmi berdirinya pada tanggal 13 Nopemer 1964 melalui Keputusan Menteri Agama RI No. 87 Tahun 1964 yang pada waktu itu bernama Institut Agama Islam Negeri Al-Jami’ah Raden Fatah. Namun jauh sebelum itu telah berdiri Perguruan Tinggi swasta yang hanya mengasuh satu fakultas yaitu Fakultas Hukum Islam dan Pengetahuan Masyarakat dibawah Badan Hukum Yayasan Perguruan Islam Tinggi Sumatera Selatan Akte Notaris No. 49 tanggal 16 Juli 1958. Pada 25 Mei 1961 Fakultas ini dinegerikan menjadi Fakultas Syariah IAIN Palembang cabang dari IAIN Yogyakarta.

Puluhan tahun lamanya sejak berdiri IAIN Raden Fatah Palembang mengalami peningkatan dari berbagai bidang mulai mutu pendidikan, sumber daya manusia, sampai ke sarana dan prasarana. Puncaknya pada 30 Oktober 2014 yang lalu Presiden RI menandatangani Surat Keputusan resmi perubahan IAIN Raden Fatah Palembang menjadi UIN Raden Fatah Palembang tepatnya dengan diterbitkannya Surat Keputusan (SK) Peraturan Presiden (Perpres) No. 129 Tahun 2014. Setelah sah dan resmi menjadi Universitas maka segenap civitas akademika UIN Raden Fatah Palembang bersyukur atas nikmat yang sangat besar ini kepada Allah SWT dengan semakin ditingkatkannya lagi semua lini di UIN Raden Fatah Palembang terkhusus menambah Fakultas dan Prodi yang bernuansa umum.

Beberapa tahun sebelum menjadi UIN, berbagai pihak senantiasa bersinergi untuk membawa transformasi IAIN menjadi UIN dengan kerja keras yang cukup lama memakan waktu, ketika kementerian agama menyetujui akan transformasi tersebut maka pihak kementerian agama pusat menanyakan sebuah pertanyaan yang cukup serius kepada utusan IAIN Raden Fatah Palembang kala itu, yakni semua persyaratan sudah memenuhi unsur-unsur untuk bertransformasinya suatu IAIN menjadi UIN, namun tindak hanya itu suatu transformasi perguruan tinggi dari tingkat IAIN akan menjadi UIN harus memiliki distingsi tersendiri yang unik dan tidak terdapat di perguruan tinggi sekelas UIN lainnya di Indonesia. Maka dengan tekad yang kuat dan data-data yang lengkap pihak utusan IAIN Raden Fatah Palembang mengajukan suatu distingsi yang belum pernah ada di perguruan tinggi lainnya baik perguruan tinggi di lingkungan kementerian agama maupun perguruan tinggi umum secara nasional yaitu distingsi “Peradaban Islam Melayu”. Setelah menerima presentasi dari utusan IAIN Raden Fatah Palembang tersebut pihak kementerian agama pusat menyetujui secara penuh transformasi IAIN Raden Fatah Palembang menjadi UIN Raden Fatah Palembang. Kala itu juga kementerian agama pusat menyatakan kepada UIN Raden Fatah Palembang bahwa UIN Raden Fatah Palembang harus senantiasa serius dan benar-benar konsisten untuk memegang dan menjalankan distingsi “Peradaban Islam Melayu” tersebut secara baik dan benar.

Distingsi “Peradaban Islam Melayu” yang dimiliki oleh UIN Raden Fatah Palembang sangat jarang dimiliki oleh Universitas lain baik skala Nasional maupun skala Internasional, sehingga dari penelusuran yang penulis ketahui tidaklah dikatakan bersikap sombong dan sangatlah layak rasanya jikalau kita katakan bahwa UIN Raden Fatah Palembang merupakan Universitas dengan distingsi “Peradaban Islam Melayu” di Nusantara satu-satunya di Indonesia bahkan tidaklah berlebihan jikalau juga dikatakan satu-satunya di dunia. Distingsi yang sangat langka ini tercermin secara langsung di UIN Raden Fatah Palembang dengan adanya program studi di jenjang strata satu yaitu Sejarah dan Kebudayaan Islam di Fakultas Adab dan Humaniora, dan juga program studi Sejarah Peradaban Islam untuk jenjang strata dua di fakultas yang sama, dan puncaknya di program studi peradaban Islam di Pascasarjana untuk jenjang strata tiga. Tidak hanya itu disetiap prodi yang ada di UIN Raden Fatah Palembang secara menyeluruh juga mewajibkan semua mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah Islam dan Peradaban Melayu sebanyak 2 SKS. Bukti nyata bahwa UIN Raden Fatah Palembang benar-benar serius untuk menggali dan mengkaji distingsi Peradaban Islam Melayu yakni dengan berbondong-bondongnya para mahasiswa dari berbagai negeri yang ada di semenanjung jazirah melayu baik yang ada di lokal seperti aceh, medan, padang, riau, jambi, lampung, bengkulu, bangka belitung, semenanjung pulau kalimantan, maupun negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan negeri negeri lainnya yang berbondong-bondong untuk melakukan studi di UIN Raden Fatah Palembang baik jenjang strata satu, strata dua, maupun puncaknya di strata tiga. Bahkan peminatan mereka pun sangat tertuju kepada satu kerucut ilmu yakni distingsi Peradaban Islam Melayu.

Baca Juga:  Bekas Wabah Covid-19 yang Masih Melekat

Palembang yang di sebut bernama Sanfotsi di masa Kerajaan Sriwijaya pernah dan bahkan sangat lama menjadi pusat peradaban di tanah Melayu baik pusat politik, ekonomi, ilmu pengetahun dan lain sebagainya. Tak hanya sampai disitu ketika diproklamirkannya Kesultanan Palembang Darussalam oleh Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam Palembang tetap menjadi pusat peradaban Islam melayu terbukti dengan Palembang adalah Kesultanan yang diimbuhkan kata Darussalam di belakangnya yang berarti negeri yang selamat selain dua Kesultanan lainnya yakni Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Brunai Darussalam. Palembang benar-benar menjadi pusat agama Islam dengan berbagai macam disiplin ilmu-ilmu lainnya baik disiplin ilmu agama maupun disiplin ilmu umum dikala itu terbukti dengan lahirnya banyak para alim ulama besar yang mendunia atau skala Internasional salah satu diantaranya yang cukup masyhur yakni Syekh Abdus Somad bin Abdurrahman Al-Palimbani. Cahaya terang peradaban Islam di tanah Melayu Palembang sejak Masa Kerajaan Sriwijaya kemudian semakin eksis di masa Kesultanan Palembang Darussalam tersebut nampaknya tidaklah pudar dimasa sekarang, baik secara struktural maupun secara kultural. Secara kultural masyarakat Palembang hingga kini sangat banyak yang menjadi alim ulama dan cendikiawan baik dalam ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum. Maupun secara struktural dengan lahirnya IAIN Raden Fatah Palembang kala itu dan bertransformasinya menjadi UIN Raden Fatah Palembang saat ini ditambah lagi diamanahkannya UIN Raden Fatah Palembang untuk menggali dan mengkaji distingsi Peradaban Islam Melayu menjadikan Palembang senantiasa menjadi negeri yang cahayanya mendunia yang berasal dari semenanjung Melayu yang tak pernah lekang oleh zaman, terbukti sejak dulu hingga kini Palembang menjadi pusat peradaban Islam Melayu.

Amanah besar yang diemban oleh UIN Raden Fatah Palembang berupa distingsi Peradaban Islam Melayu ini mulai giat digaungkan setelah tiga tahun transformasi UIN Raden Fatah Palembang tepatnya pada tahun 2017, Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang membentuk sebuah lembaga yang bernama Lembaga Kajian Melayu yang pada akhir-akhir 2021 ini secara kelengkapan administrasi Organisasi bernama Lembaga Kajian Naskah Melayu (LKNM) Provinsi Sumatera Selatan. LKNM berafiliasi dengan Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang yang mana setiap kegiatannya lebih banyak dipusatkan di Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, kegiatan utamanya yakni melakukan pengkajian terhadap manuskrip atau naskah kuno karya ulama melayu setempat yang dihadiri oleh berbagai kalangan yang juga turut bergabung di lembaga ini seperti Ulama, Cendikiawan, Akademisi, Praktisi, Jurnalis, Sejarahwan, Budayawan, Mahasiswa Pascasarjana, Sultan Palembang Darussalam dan para Pangerannya, Filolog, Penggiat Literasi, Penggiat Ziarah, Arkeolog, Pegawai Balai Diklat dan Litbang Kemenag, Penggiat Tarekat, dan masih banyak lagi para anggota LKNM yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan dan pendidikan, hal ini menjadikan LKNM dan Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang membawa nama besar almamater UIN Raden Fatah Palembang menjadi lebih baik dan lebih maksimal lagi untuk menggali dan mengkaji peradaban Islam Melayu di Nusantara pada kancah Internasional dan mengharumkan nama UIN Raden Fatah Palembang sebagai pusat peradaban Islam Melayu di mata dunia.

Baca Juga:  Haramnya Cryptocurrency dan Pinjol

Setelah melihat gebrakan yang dilakukan oleh para civitas akademika UIN Raden Fatah Palembang tersebut, nampaknya masih ada yang kurang dalam proses Melayuisasi UIN Raden Fatah  Palembang yakni Melayuisasi dalam setiap bidang keilmuan dan Melayuisasi kampus UIN Raden Fatah itu sendiri.

Melayuisasi terhadap semua bidang keilmuan yang ada di UIN Raden Fatah Palembang rasanya sangat diharuskan guna menjadi lebih meningkatnya peradaban Islam Melayu di kampus ini. Melayuisasi disemua bidang keilmuan yakni meleburkan unsur-unsur peradaban Islam Melayu di disiplin ilmu yang ada dan menjadikannya sebuah modul kurikulum khusus dan dapat dijadikan sebuah mata kuliah tersendiri yang diwajibkan kepada semua mahasiswa sebanyak 2-3 SKS misalnya. Mata kuliah tersebut nantinya merupakan turunan dari mata kuliah Islam dan Peradaban Melayu yang sudah ada selama ini, namun perbedaannya mata kuliah Islam dan Peradaban Melayu bersifat umum dan dasar, sedangkan mata kuliah ini nantinya bersifat khusus dan lebih terperinci sesuai fakultas dan prodi masing-masing. Sebagai pandangan dan gambaran awal dapat dibuat mata kuliah misalnya di fakultas syariah dan hukum ada mata kuliah besarnya yakni Syariah dan Hukum di tanah Melayu, turunannya sesuai prodi masing-masing misalnya yakni Hukum Keluarga di tanah Melayu, Perbandingan Mazhab di tanah Melayu, Hukum Pidana di tanah Melayu, dan Hukum Ekonomi Masyarakat Melayu. Selanjutnya di fakultas tarbiyah dan keguruan mata kuliah besarnya yaitu pendidikan ditanah Melayu, turunannya sesuai prodi yakni mata kuliah pendidikan Islam Melayu, pendidikan bahasa arab melayu, manajemen pendidikan melayu, pendidikan guru melayu, dan pendidikan ilmu-ilmu lainnya seperti matematika, fisika, kimia, biologi yang diambil dari unsur pendidikan dan keilmuan di tanah melayu. Selanjutnya pada fakultas ushuluddin dan pemikiran Islam dibuat mata kuliah studi agama-agama di masyarakat melayu, hadits di kalangan ulama melayu, aqidah dan filsafat para cendikiawan melayu, ilmu Al-Qu’ran dan tafsir ulama-ulama melayu, serta tasawuf dan psikoterapi masyarakat melayu. Pada fakultas adab dan humaniora dibuat mata kuliah bahasa dan sastra melayu, sejarah dan kebudayaan Melayu, politik tanah melayu, dan perpustakaan masyarakat melayu. Fakultas dakwah dan komunikasi membuat mata kuliah, komunikasi dan penyiaran masyarakat melayu, bimbingan dan penyuluhan masyarakat melayu, jurnalistik di tanah melayu, manajemen dakwah ulama melayu, dan pengembangan masyarakat melayu. Fakultas ekonomi dan bisnis Islam membuat mata kuliah ekonomi masyarakat melayu, dan perbankan di tanah melayu. Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik membuat mata kuliah ilmu politik masyarakat melayu dan ilmu komunikasi masyarakat melayu. Fakultas sains dan teknologi membuat mata kuliah biologi di tanah melayu, kimia di tanah melayu, dan sistem informasi masyarakat melayu. Fakultas psikologi membuat mata kuliah psikologi masyarakat melayu. Terakhir pascasarjana menambahkan mata kuliah yang dapat dilebur dengan program studi masing-masing sesuai keilmuan masing-masing prodi. Begitupun dengan fakultas-fakultas baru yang akan dibuka seperti misalnya fakultas kedokteran dibuat mata kuliah kedokteran melayu, fakultas teknik dibuat mata kuliah teknik melayu, dan selanjutnya disesuaikan dengan keilmuan masing-masing fakultas yang akan dibuka nantinya.

Baca Juga:  Dinamika Pengelolaan Haji, Persoalan Nasional atau Internasional?

Terakhir Melayuisasi kampus UIN Raden Fatah Palembang sendiri yang nampaknya belum direalisasikan. Melayuisasi kampus dapat berupa memberi nama bangunan gedung, nama ruangan, nama jalan dan lorong, nama lapangan, nama jembatan, nama kanal, dan bangunan besar lainnya dengan nama-nama tokoh melayu lokal seperti misal zaman sriwijaya misal ruangan sri indra varma, lalu zaman melayu islam seperti jalan sang nila utama, lalu zaman kesultanan misal seperti gedung sultan ahmad najamuddin adi kusumo, sampai ke para ulama yang ada hingga kini misal kanal syekh abdus somad al-falimbani, jembatan syekh kms azhari, sampai ke nama para ulama dan akademisi yang berjasa kepada UIN Raden Fatah Palembang. Masih seputar fisik kampus, kampus UIN saat ini dijuluki kampus biru yang memadukan warna biru dan putih sesuai logo UIN sendiri, namun alangkah baiknya jikalau bangunan kampus biru ditambah dengan nuansa melayu, misal seperti wallpaper ruangan menggunakan motif kain songket palembang dan motif kain tajung palembang serta motif batik palembang, lalu atap bangunan gedung dan gapura menggunakan konsep atap dan gapura rumah limas palembang yang terdapat hiasan tanduk kambing disetiap sudutnya. Lalu penulisan-penulisan resmi baik dalam surat menyurat atau plang nama-nama bangunan menggunakan tiga aksara asli masyarakat melayu lokal yakni aksara sumatra kuno / pallawa, lalu aksara kaganga / paku / ulu, dan aksara arab melayu / jawi, tentunya ketiga aksara tersebut disandingkan dengan aksara resmi negara kita yaitu aksara latin. Menjadi tugas pusat bahasa juga untuk membuat kelas belajar tiga macam aksara asli melayu palembang itu dan kelas belajar bahasa melayu palembang. Melayuisasi juga harus menyentuh penampilan setiap civitas akademika UIN Raden Fatah Palembang dalam setiap ada acara resmi maupun nonresmi, misalnya pada jaket almamater mahasiswa dan dosen diberi unsur motif melayu baik itu motif songket, motif tajung, maupun motif batik palembang, begitu juga dengan seragam dinas dosen dan pegawai diluar seragam resmi dari pemerintah, untuk kemeja, batik, dan baju muslim dapat digunakan unsur pakaian melayu, misal batik menggunakan batik jumputan, batik jupri, lalu kemeja songket, dan baju telo belango sebagai pakaian muslim di hari dinas. Untuk pakaian di momen acara-acara baik acara resmi yang bersifat akademik maupun acara resmi yang bersifat kemahasiswaan agar juga kiranya menggunakan unsur pakaian melayu seperti laki-laki menggunakan baju telo belango dan celananya ditambah atribur tanjak dikepala dan kain tajung atau rumpak setengah tiang di bagian bawahan, adapun yang wanita mengenakan baju kurung melayu palembang dipadu dengan kain sebagai bawahan baik itu songket, pelangi, blongsong, batik palembang, atau kain khas melayu lainnya lalu ditambahkan kemben atau selendang di bahu dan terakhir memakai gandik dikening. Lalu busana sakral akademik yang terakhir yaitu toga wisuda, alangkah baiknya jikalau toga wisudawan/wati tidak hanya berwarna hitam polos akan tetapi di bubuhi unsur melayu palembang seperti motif songket misalnya, motif tajung, motif batik palembang, motif jumputan, sesuai dengan fakultas dan tingkatan strata masing-masing yang dapat di atur sedemikian rupa. Dengan menerapkan melayuisasi yang penulis opinikan tersebut, maka Insya Allah UIN Raden Fatah Palembang akan benar-benar terasa sebagai pusat peradaban Islam Melayu di dunia baik secara zhohir atau fisik dikampusnya dan bathin atau secara keilmuan para civitas akademikanya.#

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...