Ultimate magazine theme for WordPress.

Ini Cara Pola Belajar Jarak Jauh yang Optimal

Webinar yang digelar Selasa (9/11) pukul 09.00  – 12.00  kali ini dengan mengangkat tema “Menjaga Kualitas Belajar dari Rumah” (BP/IST)

Palembang, BP– Belajar online sudah menjadi kebutuhan di mana-mana. Mau tahu tentang pola belajar jarak jauh yang optimal, yang tak kalah efektif dibanding tatap muka? Lalu bagaimana caranya agar kualitas belajar  dari rumah menjadi lebih baik?

Kemenkominfo RI melalui Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang menjawab keinginan untuk mengatasi hal itu. Webinar yang digelar Selasa (9/11) pukul 09.00  – 12.00  kali ini dengan mengangkat tema “Menjaga Kualitas Belajar dari Rumah” menghadirkan narasumber berkompeten di antaranya Ir. Prayudi Widyanto,MM (Professional Bussiness Coach), Inna Dinovita, S.TP (CEO Saesha Cantika Indonesia), Widya Fransiska Febriati Anwar, ST., MM., Ph.D (Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Sriwijaya) dan Arief Setiawan, S.Pd  (Guru SMP Negeri 50 Palembang).

Moderator Azzura Intan yang secara bergantian memberikan kesempatan kepada keempat narasumber ini masing-masing selama 20 menit. Selanjutnya, webinar ini juga disemarakkan dengan kehadiran Key Opinion Leader Popi @queenpopi (Owner @gaiabiai, Konten Kreator Youtube Bilik Biai). “Saya banyak melakukan kegiatan dengan memanfaatkan situasi pandemi dengan fasilitas digital saat ini. Baik untuk mempermudah kegiatan pribadi juga dalam rangka mencari rezeki. Alhamdulilah, berkah dari situasi yang diberikan Allah kepada kita dalam situasi pandemi ini. Kita harus memanfaatkan situasi ini dengan melakukan kolaborasi dengan orang lain. Dunia digital mempermudah kita memperoleh informasi tapi lakukan dengan cek an rechek. Selalu belajar dalam setiap kegiatan,” ujar Popi.

Ir. Prayudi Widyanto,MM (Professional Bussiness Coach) memaparkan berbagai kecakapan digital yang harus dimiliki. “Kita bahas Tipikal Thingking berkembang kemampuan terhadap analisis  terhadap dunia digital,. Selanjutnya sintetis yaitu mampu melakukan analisis tidak saja satu informasi tapi dari banyak informasi. Misalnya berita, kita cek dari berbagai sumber ini supaya terhindar dari berita hoaks. Selanjutnya, ada online service skill, banyak risiko yang bermunculan maka untuk itu harus mempersiapkan diri dengan sikap yang bijak. Berhati-hati terhadap apa yang akan dibagikan karena nanti ada UU yang akan menjerat.

Culture digital, ini dengan adanya online atau digital tidak menghancurkan karakter bangsa tapi justru sebaliknya menjunjung tinggi kelestarian seni dll. Seperti dalam webinar ini ada penayangan lagu Indonesia raya itu menumbuhkan rasa cinta tanah air kita. Selanjutnya KOL mengatakan dia melakuakan banyak kegiatan dengan situasi ini. Endosman dll itu kolaborasi dengan orang lain. Dunia digital mempermudah kita memperoleh informasi tapi lakukan dengan cek an rechek. Selalu belajar dalam setiap kegiatan.

Selanjutnya jaga etika. Meski orang tidak tampak di dunia digital tapi kita harus tekankan bahwa kita berinteraksi dengan orang banyak. Pahami dulu apa yang akan kita share. Interaksi harus tetap saling hormat menghormati. Etika sebagai manusia tetap kita kedepankan.

Baca Juga:  Hidup di Dunia Digital Dituntut Lebih Pintar dan Cerdas

Perangkat dan aplikasi dalam penggunaan digital seperti laptop, smartphone, tablet, reuter, modem dll. Aplikasi juga banyak digunakan yang akrab dengan dunia digital kita. Aplikasi mudah murah bahkan free yang bisa digunakan terutama bagi para guru utuk anak didiknya. Makanya kita jangan sampai berhenti untuk terus belajar di dunia digital ini. Tak kalah pentingnya, mainset seorang pendidik dalam dunia digital ada dua yaitu fix mainset yaitu berada di suatu pikiran yang terlalu tua di digital. Pemikiran dengan mengidolakan tradisi lama yang lebih baik. Padahal tradisi baru justru jika dihadapi bisa membantu dan mempermudah kita. Dengan kebiasan baru kita berusaha mengikutinya. Seperti belajar online dan pergunakan perangkat digital ini dengan baik.

Narsum kedua, Inna Dinovita, S.TP (CEO Saesha Cantika Indonesia) tentang Internet Sehat dan Aman, Digital Safety. Inna dengan berbagai aktivitas dan jabatannya di sesi perkenalan menyebutkan dirinya berdomisili di kota Bogor. Internet sehat dan aman, disebutkannya dengan memaparkan data pengguna internet 222, 6 Juta dari populasi penduduk Indonesia. “Pengguna sudah semakin banyak tapi apakah sudah dioptimalkan apa belum itu yang betul tahu. Jangan sampai kita tidak tahu potensi apa yang harus kita kembangkan. Penggunaan internet berdasarkan data, warga Indonesia mayoritas menggunakan WA untuk informasi rutinitas. Selanjutnya facebook, youtube, dan beberapa fasilitas lainnya,” kata Inna yang juga memaparkan tentang proteksi perangkat digital.

Inna juga memaparkan tentang beberapa perangkat jaringan internet dan kegunaan masing-masing. Menurutnya, share informasi dari berbagai perangkat ini harus dioptimalkan. Internet harus kita mainsetkan berusaha terus menerus mengikuti dan bisa mengikutinya dengan baik. Kita coba untuk terus belajar. Dampak positif dan negatif menurut Inna tentu tak bisa dihindari. “Ini harus disikapi juga dengan bijak dengan tetap berpikiran positif bahwa yang positif kita kedepankan dan yang negatif kita waspadai dan hindari.

Internet sehat dan aman dipaparkan Inna dengan menyebutkan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Kemenkominfo terus berupaya mengeluarkan berbagai program. Dinas Kominfo disebutkan Inna dengan berbagai domain yang aman diperkenalkan bagi masyarakat digital di Indonesia. “Bahaya tersembunyi di internet juga harus kita pelajari. Ini penting sekali bagi kita. Informasi iming-iming bantuan kuota, bantuan dana gratis dan sebagainya harus dicek dulu sebelum kita mengirim data pribadi yang dipindah pihak tersebut. Pencurian data informasi sangat rentan terjadi sehingga data-data terkait pribadi seperti KTP dan identitas lain harus dijaga betul,” kata Inna yang juga mengingatkan agar etika tetap dijaga. Tips internet sehat juga dipaparkan Inna dengan beberapa hal di antaranya batasi penggunaan wifi gratis di ruang publik, batasi pemberian data pribadi, hindari situs-situs yang berbau pornografi, gunakan batasan waktu untuk interaksi internet bersama apalagi dengan melibatkan anak-anak, jadwalkan waktu bagi anak-anak dalam penggunaan internet, tidak menanggapi chart dari orang yang tidak dikenal, dan sebagainya.

Baca Juga:  Kepemimpinan Milenial di Era Digital

Widya Fransiska Febriati Anwar, ST., MM., Ph.D (Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Sriwijaya) yang memaparkan materi tentang Budaya Digital pada kesempatan ini mencontohkan budaya sebelum covid dan setelah covid. “Budaya belajar di sekolah, Absensi fisik, Inisiasi elearning, Kuliah kelas, Diskusi – 20-25% e learning (daring). Sebaliknya, setelah covid semua dikerjakan di rumah, Absensi online, Hybrid;luring vs daring – Kuliah – Rapat – Seminar – 50% elearning (daring),” ujar Widya.

Ada hal unik yang dipaparkan Widya yaitu bagaimana budaya mengikuti kegiatan online dengan mengaktifkan kamera dan tidak mengaktifkan kamera. “Kalau kameranya aktif atau on, itu jelas hadir orangnya, penampilannya sopan minimal  pakaiannya. Sebaliknya, kalau kameranya tidak aktif alias off maka  ada kemungkinan yang bersangkutan tak hadir, Perangkat yang tidak support, Sinyal yang tidak bagus, Sambilan (tidur, menyetir, jaga warung),” kata Widya yang pada bagian akhir juga memberikan tips untuk sukses berselancar di dunia online di antaranya Untuk pelajar/mahasiswa; Set waktu konsiste’ dan Untuk guru/pengajar’ Hadir online dan visible, Buat lingkungan pembelajaran yang supportif – Forum diskusi, grup kecil dll. Ini di antaranya, faktor lain masih banyak,” ujarnya.

Arief Setiawan, S.Pd  (Guru SMP Negeri 50 Palembang) pada pemaparannya mengemukakan empat poin penting dalam Etika Digital yaitu bertanggungjawab, menghargai orang lain, menjaga privasi dan berpikir kritis. “Mengapresiasi karya orang lain di dunia digital dengan cara mencantumkan pemilik atau sumber konten yang kita ambil, baik itu tulisan, puisi, quotes, desain, audio dan video. Ini yang saya maksud dengan menghargai orang lain. Sebaliknya, Tidak boleh menyebarkan informasi pribadi atau orang lain secara detail, itu masuk dalam criteria menjaga atau menghargai privasi orang lain,”ujarnya.

Arief juga mengajak berpikir kritis, sebelum membagikan sesuatu di internet pastikan postingan itu benar dan selalu cek validasi postingan dari sumber lain, kredibitas dan keaslian gambar/ video tersebut agar kita tidak menjadi penyebar fitnah/ hoax. Pada bagian akhir Arief memberikan beberapa kesimpulan di antaranya Terdapat 4 point penting dalam beretika digital, yaitu: 1) bertanggung jawab untuk setiap konten yang diupload, 2) menghargai orang lain, 3) menjaga privasi, 4) berpikir kritis. Kesamaan etika digital dan etika didunia nyata adalah sama-sama harus memiliki sikap sopan santun, tatakrama yang baik dan menghargai orang lain. Di era yang semakin modern seperti sekarang, sangat penting pengetahuan dan penerapan dalam beretika digital. Karena pemanfaatan digital dapat menjadi penolong dalam berbagai aspek kehidupan, namun jika kita salah gunakan kecanggihan daripada teknologi digital ini tidak mustahil dapat menjadi ancaman bagi diri sendiri dan orang terdekat. Maka dari itu, bijaklah dalam beretika digital. “Harapan saya untuk kita semua diharapkan lebih berhati-hati lagi menjaga perilaku kita di dunia digital, agar tidak ada lagi pihak-pihak yang merasa dirugikan baik yang bersifat materiil maupun immaterial,” ujarnya menutup pemaparan.

Baca Juga:  Cerdas Jualan Online di Media Sosial

Webinar menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI. Lantas keynote speech kedua disampaikan Walikota Palembang H Harnojoyo yang mengapresiasi penyelenggaraan webinar tersebut. Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam penanya lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.

Terpisah, Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemkot Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti secara daring ada 486 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa, dosen dan kalangan umum. “Alhamdulilah kita terus berharap antusias masyarakat masih tetap tinggi dalam rangka literasi digital ini. Semoga bermanfaat bagi masyarakat banyak dalam mendukung program pemerintah cerdas berinternet dengan Program Webinar Literasi Digital yang digelar Kemenkominfo RI ini,” ujar Suryati, Selasa (9/11).

Selanjutnya. webinar Gerakan Literasi Digital Nasional 2021 Kota Palembang akan digelar kembali Kamis, 11 Nopember 2021 pukul 09.00– 12.00 dengan tema “Bijak Berkomentar di Ruang Digital” dengan menghadirkan narasumber Syali Gestanon, S.Sos (Kepala Seksi Pengelolaan dan Aspirasi Publik Dinas Kominfotik ), Feri F. Alamsyah, M.I.Kom (Dosen Ilmu Komunikasi), Faradillah, S.Si, M.Kom (Kepala bagian Penjaminan Mutu Akreditasi dan ISO Universitas IGM Palembang) dan Dra. Hj. Khoiriah M.Pd (Kepala SMP Negeri 2 Palembang).

Pendaftaran melalui tautan :https://s.id/lidigpalembang11november, Link Zoom:https://us02web.zoom.us/j/3679338663.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...