Ultimate magazine theme for WordPress.

Mengenal Pelabuhan Kuno pada Abad ke XVI dan XVII

Inilah Tempat Pelabuhan Jortan

Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) kembali digelar oleh Departemen Penelitian dan Pengembangan yang bekerjasama dengan Departemen Humas AGSI Pusat pada Sabtu (30/10).

Kali ini mengambil tema pelabuhan-pelabuhan kuno pada abad ke XVI dan XVII. Pembahasan difokuskan pada Pelabuhan Jepara yang dikaji oleh M. Dalhar dan Pelabuhan Jortan yang dibahas oleh Eko Jarwanto.

Lilik Suharmaji sebagai host membuka diskusi dengan menuturkan bahwa Pelabuhan Jepara pada abad XVI sangat ramai karena Jepara memang merupakan kota pelabuhan yang diandalkan di Pantai Utara Jawa. Bahkan Demak saja sebagai kerajaan mengandalkan Pelabuhan Jepara dalam militer maupun perdagangan. Lilik menegaskan bahwa Benteng Jepara didirikan karena keinginan dari Raja Mataram Anyakrawati yang ingin bersekutu dengan Kompeni Belanda untuk meruntuhkan dominasi Kerajaan Surabaya di Jawa Timur yang memang belum dikuasai Mataram. Untuk itulah Mataram kemudian mengirimkan dutanya ke Maluku menemui Gubernur Jenderal Pieter Both untuk bekerjasama. Hasilnya Anyakrawati mempersilahkan Kompeni Belanda mendirikan Benteng di Jepara dan Mataram juga akan menyediakan bahan baku dan tenaga kerjanya.

Tetapi setelah Kompeni ingin mendirikan benteng itu janji yang diberikan Anyakrawati belum juga ditepati sehingga Kompeni menagih janji. Anyakrawati bersediamenyediakan bahan baku dan tenaga kerjanya asal Mataram diberi 6 meriam dan 2 diantaranya harus diberikan saat itu juga. Akhirnya Kompeni memberikan 2 meriam terbagus kualitasnya dan kelak 2 meriam itu digunakan oleh Sultan Agung untuk menggempur Batavia.

Baca Juga:  SMAN 1 Belitang Juara I LCC Sejarah Tahun 2019

Benteng Jepara yang memang di bawah kekuasaan Mataram di zaman Sultan Agung ditutup karena Sultan Agung menggempur VOC di Batavia agar pedagang Eropa itu tunduk kepada Mataram. Benteng itu kelak dibuka kembali oleh Sunan Amangkurat I karena hasil dari kecerdikannya Rijcklof van Goens yang menjadi utusan Kompeni Belanda dalam “Diplomasi Kuda Persia”.

Van Goens sering memberikan hadiah-hadiah kepada Raja Mataram disaat kunjungannya ke Mataram dan salah satu hadiah yang disukai Amangkurat I adalah kuda-kuda Persia yang kualitasnya bagus karena langsung didatangkan dari negeri Persia. Amangkurat I karena senang dengan hadiah-hadiah itu akhirnya membolehkan pos perdagangan Jepara (Benteng Jepara) dan pelabuhan di pantai utara termasuk Pelabuhan Gresik yang memang di bawah hegemoni Mataram dibuka lagi oleh Kompeni Belanda, tandas Lilik.

Lilik Suharmaji juga menambahkan bahwa keberadaan Pelabuhan Jortan sampai sekarang keberadaannya masih simpang siur karena banyaknya sumber yang menyebutkan tempat pelabuhan ini. Beberapa sumber ada yang menyebutkan Pelabuhan Jortan ada di Bangli daerah Pasuruan atau bahkan di Bangli itu sendiri. Ada juga yang menyebut bahwa pelabuhan ini letaknya di daerah Gresik yang berdekatan dengan Pelabuhan Gresik.

Sementara itu Dalhar yang membahas tentang Pelabuhan Jepara menuturkan bahwa Pelabuhan Jepara memang pada abad XVI dan XVI letaknya terpisah denganPulau Jawa karena wilayah Jepara, Kudus dan Pati dibatasi oleh Selat Muria sehingga apabila orang-orang Mataram maupun wilayah lain yang ingin ke Jepara, Kudus dan Jepara harus melewati selat itu dengan perahu kecil. Tetapi walaupun harus menyebarangi selat,Pelabuhan Jepara sangat ramai karena sebagai urat nadi perekonomian dan militer saat itu. Pelabuhan Jepara pada saat Demak diperintah Pati Unus bukan saja sebagai tempat perdagangan semata tetapi juga pangkalan militer termasuk persiapan mengempur Malaka di bawah hegemoni Portugis. Untuk itulah Pati Unus disebut sebagai Pangeran Sabrang Lor atau pangeran yang menyebarang ke utara menyerang Portugis di Malaka.

Baca Juga:  Bappenas Lakukan Eksplorasi Awal Data AK Gani di Sumsel, Guna Rencana Pendirian Museum

Pelabuhan Jepara memang satu-satunya pelabuhan sebagai tempat untuk mengangkut beras dan komoditi lain dari Mataram sampai terbentuknya Vorstenlanden sebagai komoditi perdagangan dengan Kompeni Belanda dan pedagang lainmisalnya pedagang Arab, Persia, Cina, Gujarat, Portugis dan sebagainya. Tetapi sayang pada abad XVII Pelabuhan Jepara mengalami kemerosotan karena sedimentasi yang terus menerus sehingga pendangkalan dan letaknya yang jauh dari Vorstenlanden sehingga perdagangan dirasa sangat memberatkan. PelabuhanJepara semakin merosot setelah Pelabuhan Semarang bertambah ramai karena memang pelabuhan ini lebih dekat letaknya dengan Vorstenlanden sehingga para pedagang berasdan komoditi lain  lebih menyukai Pelabuhan Semarang sebagai tempat perdagangan dari pada Pelabuhan Jepara, tandas Dalhar.

Eko Jarwanto menyoroti tentang Pelabuhan Jortan yang sekarang hilang keberadaannya.Pelabuhan Jortan menurut Eko memang beberapa sumber ada dimana-mana tetapi menurutnya Pelabuhan Jortan ada di Gresik yang letaknya di sebelah Pelabuhan Gresik dan Giri Kedaton. Ketiga tempat itu (Jortan, Pelabuhan Gresik, Giri Kedaton) pada abad XVI dan XVII berperan penting dalam menghidupkan bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan spiritual masyarakat di Jawa Timur dan sekitarnya.

Baca Juga:  Tampilan Sejarah Harus Dibuat Seinovatif Mungkin

Eko Jarwanto mengatakan bahwa Pelabuhan Jortan memang saat itu sangat ramai karena di pelabuhan ini tempat berdagang dan bongkar muat komiditi rempah-rempah, beras, pala, kain, kulit binatang, binatang buruan dari Jawa Timur yang didistribusikan ke penjuru dunia. Tetapi sejak Kompeni Belanda pada tahun 1719 menguasai Gresik maka Pelabuhan Jortan mulai ditinggalkan. Di Pelabuhan Gresik inilah Kompeni mulai membangun vasilitas pendukung pelabuhan seperti kantor, gudang, benteng, jalan yang lebih lebar  dan vasilitas lain sehingga Pelabuhah Jortan semakin tidak mendapat perhatian yang akhirnya lama-kelamaan menjadi bukan lagi sebagai pelabuhan utama tetapi hanya sebagai pelabuhan pelengkap dan hanya dikunjungi kapal-kalpal kecil tempat rakyat melakukan aktivitas maritim.

Di era kemerdekaan Pelabuhan Jortan semakin pudar eksistensinya dan lama-kelamaan keberadaannya hilang karena di kawasan ini dibangun kawasan industri dengan cara diuruk (direklamasi) dan garis pantai semakin menjauh dari daratan karena proses pendangkalan, tandas Eko.#osk

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...