Ultimate magazine theme for WordPress.

Menjadi Kreatif dan Produktif dari Rumah di masa Pandemi

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang  Kamis (28/10) digelar pukul 09.00  sampai dengan pukul 12.00 dengan tema “Kreatif dan Produktif dari Rumah di Masa Pandemi” (BP/IST)

Palembang, BP-Dengan memanfaatkan teknologi digital kita tetap bisa menjadi kreatif dan produktif walaupun dari rumah. Mau tau caranya ? Kemenkominfo RI melalui Gerakan Nasional Literasi Digital tak pernah bosan mencari cara untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat Indonesia. Salah satu cara untuk bisa cakap menghadapi situasi selama pandemi,

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang  Kamis (28/10) digelar pukul 09.00  sampai dengan pukul 12.00 dengan tema “Kreatif dan Produktif dari Rumah di Masa Pandemi” dengan dipandu moderator Hikmatun Hassana dengan menghadirkan narasumber di antaranya Muhamad Arif Rahmat, SHI (CEO PT Kampung Kaleng Indonesia), Inna Dinovita, S.TP (CEO Saesha Cantika Indonesia), Ardo Okilanda, M.Pd. (Dosen Universitas PGRI Palembang) dan Hj. Komalawaty, M.Pd. (Kepala SMP Negeri 9 Palembang)
Key Opinion Leader yang akrab disapa Rizki kali ini pun berbagi pengalaman dengan peserta webinar yang cukup banyak kali ini tercatat 1106 peserta. Rizki rezky_passionwriter (Founder @pejuang30dwc) yang pada kesempatan ini berbagi pengalaman dengan mengajak peserta untuk kreatif menulis dimulai dengan mempelajari bagaimana cara menulis yang baik dan benar. “Saya kebetulan ada program memberikan pelatihan gratis teknik menulis. Saya gunakan fasilitas perangkat digital seperti WA untuk mengkonfirmasi tugas-tugas. Dalam sekolah menulis ini ada beberapa level yang kami terapkan di antaranya level dasar atau level 1 yaitu kelas yang pemula, membangun habit dulu. Bagaimana kebiasan menulis kita tularkan dulu. Selanjutnya, setelah jadi kebiasaan maka akan ada lanjutan yaitu di level 2 di mana di segmen ini peserta sudah kita arahkan fokus membuat buku. Jadi menurut saya, webinar seperti ini sangat besar manfaatnya dalam rangka meliterasi digital setiap orang dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang sudah disiapkan melalui narasumber yang ditampilkan,” ujar Rizki.
Muhamad Arif Rahmat, SHI (CEO PT Kampung Kaleng Indonesia sebagai narasumber pertama pun berbagi ilmu. Dengan berbagai aktivitas dan kesibukannya, Muhamad Arif masih meluangkan waktu berbagi ilmu. “Saya maunya mengajak lebih banyak berdiskusi dalam kesempatan ini karena menurut saya banyak peluang yang bisa diraih. Perlu diingat bahwa, era digital dengan banyaknya pemakai internet itu merupakan suatu peluang besar. Jadi kita coba memanfaatkan peluang ini. Coba raih penghasilan baik yang sengaja untuk penghasilan utama maupun penghasilan sampingan, ” ujar Arif mengimbau para peserta.
Menurutnya, siapa yang mau belajar maka peluang terbuka. Modal jangan jadi halangan, mulailah dengan berapa modal yang dipunya dengan mencari peluang bermula dari lingkungan sekitar kita dulu. “Perlu diingat bahwa bisnis di dunia digital tidak memerlukan modal besar. Tak perlu biaya sewa gedung atau ruko atau tempat, tak perlu sediakan fasilitas yang lengkap. Dengan perangkat jaringan internet yang memadai sudah bisa memulainya. Bisa bermula dari hobi atau keahlian yang kita geluti. Atau bisa join dengan orang yang berpengalaman. Atau banyak peluang lain, bisa juga tanpa modal,” ujarnya seraya menambahkan tips seperti tentukan market place, tentukan produk dan selanjutnya tentukan target pembeli. Bisnis lain yang juga disebutkan Arif bisa jadi peluang adalah menjadi konten kreator. Sejumlah triks berjualan dan memulai usaha juga dipaparkan Arif pada kesempatan ini.
Inna Dinovita, S.TP (CEO Saesha Cantika Indonesia) yang merupakan narasumber kedua pada kesempatan ini membawakan materi tentang keamanan digital. “Sekarang ini banyak sekali bisnis online. Itu membuka peluang positif tapi juga negatif. Untuk itu perlu pengamanan,” ujar Novita yang memiliki seabrek aktivitas ini.
Menurutnya, kemudahan-kemudahan dengan aplikasi teknologi bisa kita akses dalam rangka mempermudah aktivitas. Namun memang dengan perlu menyikapi dengan kehati-hatian bahwa semua ada risiko baik positif maupun negatif. “Intinya, yang utama faktor keamanan kita yang perlu sangat diperhatikan dalam berselancar di dunia internet ini. Setiap detik perlu waspada karena ketika berselancar, setiap detik pula ada kemungkinan terjadi hal positif dan hal negatif. Contohnya, sedang berkomunikasi dengan tugas tiba-tiba muncul wa atau SMA yang berisi pesan “Anda mendapatkan hadiah sekian juta silahkan buka link dan masukan beberapa langkah di sana,” ini adalah sebuah contoh. Kiriman SMS berhadiah, undian berhadiah,tawaran pekerjaan atau beberapa metode yang digunakan utk melakukan penipuan. Minta transfer atau ngaku teman dengan menghacker no wa teman kita. Ada juga iming-iming memberi bantuan tapi kita digiring untuk memberikan data privasi detail,” ujar Novita yang juga pada kesempatan ini menyebutkan berbagai aplikasi proteksi digital untuk pengamanan perangkat keras dan perangkat lunak. Selanjutnya ia juga memberikan tips aman bertransaksi, jangan memberikan sembarangan nama ibu kandung. KTP dan KK. Rajin cek trasanksi yang sudah kita lakukan . Jangan gunakan wf publik,” pesannya.
Ardo Okilanda, M.Pd. (Dosen Universitas PGRI Palembang) sebagai narsumber ketiga pada kesempatan ini selama lebih kurang 20 menit juga berbagi ilmu. Ardo memaparkan bagaimana perkembangan era demi era dengan berbagai aktivitas yang dilakukan. Ia juga memaparkan tentang budaya digital. arsum yang juga merupakan salah satu staf di DOPING CONTROL OFFICER (Lembaga Anti Doping Indonesia) ini berbagi ilmu. Narsum ini memulai pemaparan dengan definisi budaya digital. Literasi digital adalah kecakapan dan tanggungjawab.Ingat Ketika kita diminta data, perlu dipertanyakan mengapa?, kemudian di mana data tersebut disimpan. Kemudian siapa saja yang mempunyai akses terhadap data yang kita berikan itu. Selanjutnya, perlu kita ingat bahwa digital memiliki kecepatan dalam menyebarluaskan informasi. Maka bijaklah dalam menggunakannya. “Penguasaan digital ada pada beberapa segmen di antaranya Digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Sebaliknya ada beberapa dampak di antaranya dampak positif yaitu konektivitas, informasi, kemudahan/praktis, setiap orang memiliki kebebasan untuk berkreativitas terhadap teks sehingga imbul masalah hak cipta, tidak ada batasan geografis cashless and paperless society.
Dampak negatif di antaranya penggunaan medsos yang berlebihan, peleburan ruang privat ke ruang publik di medsos, addicted, menyendiri dan kurang percaya diri, hoax, cyber bullying dan hate, serta peretasan.Selanjutnya, tips yang diberikan narsum di antaranya yang perlu dingat bahwa jangan curhat di media digital, etika jurnalistik harus dijaga, menulis yang bermanfaat, tingkatkan literasi digital, selalu ambil manfata positif, dan perlunya perlindungan data privasi.

Baca Juga:  Bedakan Informasi Hoaks atau Bukan

Hj. Komalawaty, M.Pd. (Kepala SMP Negeri 9 Palembang) sebagai narasumber treakhir menyajikan materi tentang Etika Digital. Hj Komalawaty yang berhalangan karena pada saat bersamaan menerima penghargaan juara 2 tingkat nasional cerdas cermat. Ia digantikan oleh Rina Andriana, S.Pd. MSi yang merupakan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Negeri 9 Palembang. Ia memulai pemaparan tentang definisi etika digital yaitu Kemampuan Individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital atau netiquet dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa etika digital perku? Menurutnya, UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menjadi salah satu alasan. Bahwa sanksi dari UU ini jelas. Selanjutnya, faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah rekam jejak digital di setiap aktivitas online itu tercatat tak tak bisa dihapus. Maka perlu kehati-hatian ketika yang terekam itu adalah hal negatif dan bertentangan dengan UU maka siap-siap menerima sanksi hukumnya. “Antisipasi Hoax, Pornografi, SARA, Cyberbullying, Ujaran Kebencian/Hate Speech\Tidak memposting suatu hal yang bisa menimbulkan kesalahpahaman atau menyinggung privasi orang lain. Tak ikut campur dan menulis komentar yang mengandung unsur SARA.Unggahan di dunia maya sangat memungkinkan untuk dilihat oleh orang banyak. Saring sebelum sharing. Pastikan konten yang diunggah atau komentar yang posting tidak mengandung isu SARA, pornografi, ujaran kebencian dan hal lain yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Unggahan yg terlalu sering dan banyak dapat bersifat menggangu daripada informatif. Semua ini adalah hal-hal yang harus kita hindari,” ujarnya.
Webinar menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI. Lantas keynote speech kedua disampaikan Walikota Palembang H Harnojoyo yang mengapresiasi penyelenggaraan webinar tersebut. Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam penanya lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.
Terpisah, Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemkot Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti secara daring 1.106 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa, dosen dan kalangan umum. “Alhamdulilah kita terus berharap antusias masyarakat masih tetap tinggi dalam rangka literasi digital ini. Semoga bermanfaat bagi masyarakat banyak dalam mendukung program pemerintah cerdas berinternet dengan Program Webinar Literasi Digital yang digelar Kemenkominfo RI ini,” ujar Suryati.
Selanjutnya. webinar digelar kembali pada Jumat (29/10) pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB dengan menampilkan tema tentang Menjadi Masyarakat Digital yang Pintar. Narasumber yang ditampilkan di antaranya Dr. Gushevinalti, M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi dan Penggiat Literasi Digital),Komang Aryasa, S.Kom., M.T (Dosen dan Praktisi),Dwi Puspita Sari, S.Si., B.IT (Hons)., M.Sc. (Akademisi dan Penggiat Literasi Digital) dan Fitha Yurista Sari, S.Pd., M.Pd. (Guru SMA PGRI 2 Palembang). Pedaftaran melalui tautan :https://s.id/lidigpalembang29oktober, link zoom:https://us02web.zoom.us/j/2017384651. #osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...