Ultimate magazine theme for WordPress.

Fenomena Johatsu, Orang-orang yang Menghilang Tanpa Jejak di Jepang

Ilustrasi Fenomena Johatsu, menghilang dari kehidupan lama, berharap kehidupan baru yang lebih baik. (BP/IST)

Jepang, BP – Negeri sakura Jepang menjadi negara dengan angka bunuh diri paling tinggi. Namun kini negeri sakura ini seperti ada pilihan lain untuk menghilang selain bunuh diri. Dikenal dengan sebutan Johatsu. Fenomena Johatsu menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menghilang tanpa jejak tanpa harus menghadapi kematian.

Dari laman Statistia Research Department, pada 2018 terdapat sekitar 87.960  orang hilang di Jepang. Johatsu dapat diartikan sebagai “evaporation” atau “penguapan”.

Salah satu faktor yang memengaruhi Johatsu adalah faktor ekonomi dan sosial seperti mereka yang tak mampu membayar hutang, kehilangan pekerjaan, orang-orang yang menghadapi tekanan dan ingin kebebasan. Sementara rasa malu akibat suatu aib menjadi faktor lainnya.

Baca Juga:  Battle Of Palembang, Kisah Penyerangan Pasukan Jepang Di Kilang Minyak Plaju

Mengutip dari Owlcation, (16/10). Mereka ‘orang yang Menguap’ ini akan meninggalkan pekerjaan, studi, atau keluarga dan memulai hidup yang baru.
Sebagian dari mereka bahkan membuat identitas baru, mengganti wajahnya baik dengan operasi plastik atau menggunakan aksesoris tambahan seperti rambut palsu demi memastikan dirinya benar-benar terlepas dari kehidupan lamanya.

Sementara BBC News, melaporkan seorang sosiolog Hiroki Nakamori yang telah meneliti jouhatsu selama lebih dari satu dekade mengatakan, istilah jouhatsu mulai digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang memutuskan untuk menghilang secara sadar di 1960-an. Dengan privasi yang sangat dilindungi, orang-orang di Jepang bisa dengan mudah melakukan jouhatsu. Mereka yang menghilang, dapat dengan bebas menarik uang dari ATM tanpa terdeteksi, dan tinggal di apartemen atau hotel tanpa harus repot-repot memberikan tanda pengenal sebagai persyaratan wajib.

Baca Juga:  Jepang Sapu Bersih Emas Triathlon di Asian Games

“Polisi tidak akan campur tangan kecuali ada alasan lain, seperti kejahatan atau kecelakaan. Yang bisa dilakukan keluarga hanyalah membayar banyak untuk detektif swasta atau menunggu. Itu saja,” tuturnya.

Kendati jouhatsu menjadi fenomena sosial yang lumrah ditemui di Jepang, nyatanya fenomena ini sangat sedikit diperbincangkan bahkan oleh orang Jepang sendiri. Paul O’Shea, peneliti di studi Jepang universitas Lund dalam The Perspective mengatakan bahwa topik jouhatsu tidak terlalu banyak dipublikasikan dan penelitiannya pun sangat sedikit karena stigma yang dia punya. Stigma seputar jouhatsu bermain kuat di masyarakat. #rid

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...