Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

“Nak dikawani dak yo..?”

Ilustrasi. (BP/IST)

Palembang-BP, – Jarum jam menunjukkan pukul 22.35 WIB, suasana jalanan masih ramai. Lantas masuk jalan Diponegoro dari arah simpang Kedaung, suasana sedikit berubah karena memang gelap dan banyak pepohonan tua. Sepanjang jalan hanya ada satu lokasi yang kelihatan aktifitas, tempat makan dengan menu steak.

Samar terlihat di sebelah kiri jalan sosok perempuan mengenakan kaos hitam lengan panjang dan bawahan bahan jean berwarna krem. Tangan kirinya tampak sedikit melambai memberi isyarat agar kendaraan kami berhenti. Kami memperlambat laju kendaraan, hanya mungkin 20 km/jam saja, sang perempuan masih berdiri sambil memperhatikan apakah kendaraan berhenti atau tidak.

Kami terus melaju, sekitar 50 meter dari perempuan tadi tampak dua orang lagi duduk mengobrol di bawah pohon. Memang harus jeli karena suasa gelap, kadang tak begitu tampak.

Masuk jalan Dr Wahidin, tampak dari kejauhan perempuan muda berdiri berkaos putih dan rok hitam di atas lutut dengan tangan sedikit melambai. Kendaraan berhenti dengan tak jauh perempuan itu berdiri, dia datang perlahan menghampiri.

Baca:  Wawako Palembang Minta Warga Aktif Bersihkan Drainase

 

Kaca mobil sebelah kiri diturunkan lebih separuh, baru jelas kelihatan mukanya. Mungkin sekitar 25 tahunan usia perempuan ini, sedikit kurus dan bergincu lumayan menyala.

“Nak kemano kak,…” ujarnya dengan logat Palembang. Belum sempat dijawab, kembali dia bertanya, “Nak dikawani dak yo? Aku jugo ado kawan nah di sano itu,” tambahnya setelah melihat kalau di dalam mobil kami berdua.

Baca:  Sekda Ratu Dewa Motivasi Mahasiswa di Kuliah Umum UTP

“Siapo namonyo dek?” tanya kami. “Namo aku Sella kak..” jawabnya. Dalam hati kami bergumam, tak mungkin nama ini asli sesuai identitasnya.

“Ayolah kak kalu nak dikawani, aku belum ado tamu kak dari tadi,” tambah Sella, anggap saja namanya benar.

Perbincangan berlanjut, saat ditanya dia minta berapa. Awalnya tarif yang dipasang Rp 400 ribu untuk berkencan dengannya. Belum juga ditawar, Sella langsung saja kembali bertanya mau nawar berapa.

Uniknya, mereka yang menjajakan diri di kawasan ini tak mau dibawa ke penginapan atau hotel. Sepertinya sudah berlaku SOP bagi mereka, hanya mau “eksekusi” di kawasan rumah susun saja. Dan tarif yang dipatok juga sudah termasuk sewa tempat.

Baca:  KPU Palembang Rutin Pemutakhiran Mata Pilih

Satu lagi, mereka pasti menolak jika diajak ikut dengan kendaraan pelanggan.  Karena tak jauh dari tempatnya berdiri biasanya berdiri atau duduk di atas motor seorang pria yang siap mengantarnya ke tempat “eksekusi” tadi. Bisa jadi pria ini multi fungsi sebagai bodyguard.

Kawasan jalan Diponegoro dan sekitarnya ini memang sejak lama seperti tak terjamah penertiban aparat terkait. Sekarang memang jumlah PSK di sana jauh lebih sedikit dibanding kurun waktu 5 tahun terakhir ini. #tim

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...