Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Muslim Yunus, Si Einstein Dunia Pertanian Sumsel


Muslim Yunus Si Einstein Pertanian (BP/IST)

Palembang, BP- Sosok ceking nan energik bernama  H Muslim Yunus kini berusia 59 tahun ini sudah memperlihatkan tanda-tanda kejeniusan sejak kecil.

Setiap kali diminta menyebutkan nama kawannya Ia akan berbeda dengan kawan sebaya dengan menyebutkannya secara terbalik.

Karena inilah pada kelas 3 SD ketika diminta mengabsen nama-nama kawannya, semuanya disebut secara terbalik dengan cepat dan fasih. Mendengar cara itu gurunya marah besar dan memukulkan mistar kayu panjang kebadannya hingga patah. Ketidakpenerimaan guru pada cara Muslim kecil ini menyebabkan ia memohon pada ibunya untuk memutuskan berhenti sekolah. Sebuah tindakan yang disesalinya dikemudian hari.

Namun berhenti sekolah membuatnya mengasah keterampilan tangan dingin orang Tanjung Batu di dunia perantauan. Sejak berhenti sekolah tahun 1973, ia merantau di Tanjung Sakti,  Pagaralam dengan membuat rumah knock down. Berbeda dengan tukang kebanyakan, Ia mampu membangun sebuah rumah khas Palembang ini sendirian dengan cepat dan cantik.  Keterampilannya seperti itu, membuat seorang pastur Belanda di Tanjung Sakti kagum dan tertarik untuk menyekolahkan jurusan teknik di Negeri Belanda.

 

Namun, sang ibu tidak mengizinkannya. Dan memintanya pulang kampung pada tahun 1986 untuk menyunting gadis didesanya. Setelah menikah, bapak empat anak ini menetap di kampung halaman.

Selanjutnya mulai mengembangkan pengrajinan emas, mengolah emas batangan menjadi emas hiasan, cincin, kalung, giwang, dll yang dijual toko-toko emas terkenal di Palembang.

 

Kreativitas dimunculkannya dalam mengolah emas batangan dengan membuat alat yang mampu menata emas bercorak padi ramping. Sehingga pesanan mengalir dari Palembang ke Tanjung Batu. Setelah melahirkan berbagai teknik corak pengolahan emas yang diikuti dengan bergairahnya kembali kerajinan emas di Tanjung Batu. Muslim mulai mengarah ke persoalan lain yang dihadapi masyarakat didesanya.

 

“Pada pertengahan tahun 1990-an, tanah-tanah didesa kami bekas eks perkebunan tebu yang tidak produktif. Direncanakan untuk dijadikan tanaman hutan lindung oleh Pemda OKI waktu itu. Namun saya protes keras karenatidak mengajak para pemilik lahan, termasuk saya, bermusyawarah terlebih dahulu. Hasilnya saya dipanggil ke pemda dan kecamatan. Saya jelaskan ketidaksetujuan itu sebagai bentuk anarkis aparat terhadap para petani. Nah, sehingga rencana ini dibatalkan dan tanah dikembalikan ke pemilik lahan yang sebenarnya”, kenang Muslim saat pertama berkecimpung ke dunia pertanian ketika ditemui di P4S Karya Tani, Ogan Ilir (OI) . (Rabu, (6/10)

 

Kejeniusan Muslim selanjutnya, terlihat ketika ia mengajak para pemilik lahan menanam karet di eks lahan tebu ini. Namun, bibit karet yang ditanam awalnya tidak bisa berkembang baik, tumbuh kerdil dan banyak yang mati. Ia prihatin melihat kondisi ini. Dan mulai mengadakan penelitian-penelitian mandiri. Berbeda dengan penelitian akademisi yang melakukan pengkaji dengan membaca literatur baru uji coba. Muslim sebaliknya, seperti masa kecilnya dulu melakukan sesuatu dengan cara terbalik, Ia melakukan ujicoba terlebih dahulu baru membaca berbagai literatur.

 

Penelitian ini sebagai ejawantah dari semangat hidupnya dalam dunia pertanian bahwa seorang petani harus menanam dengan cerita, memupuk dengan data, memanen dengan angka dan mengerjakan seperti orang gila. Sejak saat itu Muslim seperti seorang Einstein. Melakukan berbagai percobaan peneliti untuk menemukan pupuk murah dan mensejahterakan petani.

 

“Pada tahun 2004, saya menemukan pupuk organik plus Liquitermy Fertilizer yang mampu memenuhi nutrisi tanaman pada tanah tidak subur. Pupuk saya telah uji lab dan diteliti dengan dana mandiri di lab IPB serta sudah dipatenkan. Tahun 2007, saya melakukan uji lab dan penelitian tentang Pestisida Fungisida Organik Plus My-1 yang mampu mengendalikan bakteri tak bersahabat sekaligus memunculkan unsur makro dan mikro aktif yang dibutuh tanamanserta sebagai ZPT. Pestisida ini juga telah dipatenkan di IPB”, tutur Muslim.

 

Kegilaannya untuk meneliti tidak berhenti sampai disitu. Tahun 2018, Ia menemukan lagi pupuk MAXIlatek yang bisa meningkatkan kuantitas produksi hasil panen tiga kali lipat dari biasanya. Produk ini juga sudah diuji lab dan mendapat paten dari IPB. Penelitian mandiri yang menghabiskan dana pribadi sebesar 2,9 milyar ini.

 

Justru kemudian diakui dunia internasional. Pupuk-pupuk organik yang mampu menjadikan hasilnya sebagai pangan sehat dan bebas dari residu kimia ditawar perusahaan multiinternasional Bayern untuk dibeli patennya. Namun Muslim tak bergeming karena tak ingin pupuk hasil penelitiannya dikomersilkan pihak luar. Muslim juga diminta memaparkan hasil temuan yang mencengangan ini oleh Pemerintah Malaysia. Dan ditawari untuk dibeli hak patennya untuk diproduksi secara massal oleh pihak Malaysia. Namun takut temuannya dimanfaatkan mereka, Muslim juga tak bergeming.

 

“Saya bukannya tidak mau temuan saya go internasional. Namun secara filosofi kajian saya sebenarnya berawal dari sebuah keprihatinan bahwa hampir seluruh petani Indonesia itu petani tradisional, termasuk di Sumsel. Mereka membangun kebunnya benar-benar swadaya tanpa bantuan pemerintah. Artinya, kebun rakyat kita masih bercirikan produksi yang rendah dengan keadaan kebun yang kurang terawat. Jadi saya ingin hasil temuan ini dimanfaat dan bermakna bagi mereka suatu saat kelak”, ujar Muslim.

 

“Menurut saya petani kita melakukan kegiatan usahataninya hanya mengandalkan pengetahuan dan keterampilan turun temurun dari orang tua maupun dari sesama petani. Pengetahuan seperti inilah yang mereka praktekkan dalam usahatani. Akibatnya, keterampilan mereka sangat terbatas. Mestinya mereka harus dicerdaskan oleh negara”, tambah petani yang juga dijuluki Harimau Sumatra akibat sikap kritisnya ini.

 

Namun kejeniusannya ini bukan tanpa aral. Ia ditentang oleh banyak pihak yang merasa tersaingi oleh temuannya tersebut. “Sesungguhnya kalau saya lihat. Petani kita tidak pernah dibuat pintar. Kalau saya ibaratkan petani itu bila rubuh mau ditegakkan. Bila tinggi ia dipancung. Dan mereka lebih banyak digiring ke ranah politik praktis”, kata Muslim.

Muslim pernah melakukan kritik terhadap jarangnya penyuluh pertanian turun ke lapangan membantu petani. Pada tahun 2004, Ia mengibarkan bendera di lahan pertanian.

 

Kemudian Dinas Pertanian OI turun tangan dan meminta agar membentuk kelompok tani. Selanjutnya, Ia membuat kelompok tani untuk menghimpun para petani di Tanjung Batu.

 

Selanjutnya tahun 2008, kelompok tani yang didirikannyaberkembang pesat sehingga dijadikan Pusat Penelitian Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Tani yang langsung dibawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. P4S Karya Tani dibina oleh Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi. Pada tahun 2011 P4S menjadi binaan BPP Lampung .

 

“Iya P4S ini diarahkan  sebagai mitra pemerintah dalam mengembangkan SDM pertanian di Sumbagsel. Lembaga ini diharapkan berperan penting dalam pengembangan kelompok tani kita. Serta dapat mendorong dan memotivasi para kelompok tani agar mau mengubah cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup mereka yang lama dengan cara-cara yang baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi pertanian yang lebih maju”, urai Muslim.

 

Namun Muslim sekarang bangga, walau kurang dilirik dan diperhatikan di tanah kelahirannya Ogan Ilir dan Sumsel. Berbagai kajian dan penelitian mandirinya telah membuka jalan bagi tamatan kelas 3 SD ini untuk berperan dalam dunia pertanian. Ia dijadikan narasumber tetap di BPP Lampung, Jambi dan Pusat sebagai petani inovator. Dan digandeng para akademisi untuk dilibatkan dalam berbagai penelitian. Tidak hanya Unsri yang telah menjadikan tenaga ahli. Bahkan Ia diajak oleh dosen-dosen IPB dan UGM untuk melakukan penelitian dan uji lab kolaborasi.#osk

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...