Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Perubahan di Era Digital  dan Budaya Indonesia

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang dengan tema “Bangun Masyarakat Digital Berbudaya Indonesia”, Kamis (30/9)(BP/IST)

Palembang, BP- Perubahan di era digital tersebut tidak serta merta mengubah budaya Indonesia dalam kehidupan masyarakat di dunia digital.  Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang dengan tema “Bangun Masyarakat Digital Berbudaya Indonesia”, Kamis (30/9) memberikan pencerahannya.

Moderator Reni Risty yang memandu webinar yang dimulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 ini tampak menghidupkan suasana sehingga antusias peserta mengikuti sampai acara selesai.

Keynote Speech H. Harnojoyo, S.Sos, Walikota Palembang pun pada kesempatan ini tetap antusias menyemangati peserta webinar yang mayoritas warga kota Palembang. “Saya mendukung kegiatan ini sebagai sebuah pencerahan. Bijak gunakan media dan makin cakap digtal Indonesia. Saya sebagai Walikota Palembang sangat mengapresiasi kegiatan yang sudah dimulai pada Mei 2021 dan berakhir hingga Desember 2021 mendatang,” ujarnya.

Adapun narasumber yang dihadirkan kali ini di antaranya Dr. Gushevinalti, M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi dan Penggiat Literasi Digital),
Fitri Khusyu Aini, PhD (Peneliti, Pemilik @skinzie.you & @dapursimbok75, Co-founder Medina Farm), Drs. Sukardi, M.Pd. (Wakil Rektor III Universitas PGRI Palembang) dan  Dr.L.R.Retno Susanti, M.Hum (Dosen Universitas Sriwijaya/Sejarawan dan Budayawan).

Key Opinion Leader, Adetya (pengusaha @therealfood.jkt, @trfhomemade_beeclub, HDI Executive Diamond) dengan seabrek aktivitas kali ini pun dengan suka cita berbagi pengalaman. “Ruang digital sangat membantu, sangat bermanfaat dan terbukti. Usaha saya terdampak pandemi yang sudah 8 tahun saya geluti bisnis makanan sehat. Digital sosial media selama pandemi sangat membantu. Berkat dunia digital saya bisa bertahan bahkan bisa eksis melintas tempat melalui dunia maya..Sebagai seorang influencer saya pernah nangis akibat ada  komen netizer yang cenderung melontarkan komplain di publik. Saya awalnya shok karena banyak yang nanggapi namun akhirnya kita berinisiatif tidak terburu-buru menanggapi dan terbawa emosi. Jadi acara seperti webinar ini sangat bermanfaat sekali supaya kita jadi pintar dan tau bagaimana cara mengatasi berbagai hal yang ditemui misalnya orang yang mencaci maki di ruang digital atau peristiwa yang tidak mengenakkan lainnya.,” ujarnya.

Dr. Gushevinalti, M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi dan Penggiat Literasi Digital) menjadi narasumber pertama pada kegiatan webinar ini. Selama lebih kurang 20 menit, ia membawakan  materi dengan tema “Digital Skill” Jaga Bersama Ruang Digital Kita”. Dosen ilmu komunikasi di Universitas Bengkulu ini memulai dengan data penduduk Indonesia yang lebih banyak gunakan koneksi telepon seluler. Data per Januari 2021 dari 274,0 juta penduduk gunakan ponsel. “Temuan-temuan ini ada kaitan dengan pandemi yang hampir dua tahun ini terjadi di Indonesia sehingga mengubah kebiasaan dan pola hidup masyarakat. Ada 179 juta penduduk Indonesia yang aktif,” ujarnya seraya juga memaparkan beberapa data lain yang berhubungan dengan habit masyarakat di era digital saat ini.

Baca:  Jadikan Ruang Digital untuk Pembelajaran

Ia juga memaparkan tips ruang digital aman antara lain dengan menjaga data pribadi, mengenali regulasi yang ada, hindari hoaks, terapkan etika komunikasi di ruang digital serta hindari kontens negatif.  Selain itu, narsum mengingatkan agar berhati-hati dengan percakapan negatif di media digital.

Fitri Khusyu Aini, PhD (Peneliti, Pemilik @skinzie.you & @dapursimbok75, Co-founder Medina Farm) yang merupakan narasumber kedua, tak kalah serunya. Dengan berbagai atribut seperti pengusaha berbagai produk, narasumber ini pun berbagi tips dan pengetahuan. Membawakan materi dengan tema “Keamanan Berinternet di Dunia Digital”, Fitri memaparkan bagaimana berinternet yang aman, bagaimana menggunakan aplikasi yang tepat dan beberapa tips lain yang dipaparkan selama 20 menit.  “Hati-hati dengan iming-iming misalnya bisa mendapatkan kuota gratis tapi dengan syarat mengisi biodata pribadi. Hal ini sangat riskan dan harus berhati-hati. Jangan mudah percaya secara online orang yang kita kenal belum tentu asli sesuai fisiknya. Selanjutnya informasi yang mereka berikan belum tentu betul. Untuk itu perlu senantiasa check and richeck. Apalagi bila berinteraksi perbankan, sangat hati-hati ketika mereka minta nomor pasword. Tips selanjutnya, bagi yang belum dewasa, ingat jangan pernah malu untuk berbicara dengan orang yang lebih dewasa ketika menerima gambar atau kiriman foto yang dianggap ragu dan tidak enak dilihat. Selanjutnya, block saja kiriman dari orang yang belum jelas identitasnya. Terkait keamanan internet, ketika mau menginstal aplikasi jangan sembarangan. Pilih situs yang memang sudah terdata kreabilitasnya dan sudah diakui secara nasional atau internasional. Update aplikasi digital,” katanya.

Selanjutnya, pembicara ketiga,  Drs. Sukardi, M.Pd. (Wakil Rektor III Universitas PGRI Palembang) yang membawakan materi tentang Digital Etika yang berjudul “Bangun Masyarakat Digital Berbudaya Indonesia. Dosen Pendidikan Sejarah ini memaparkan berbagai hal di antaranya  materi tentang Pengertian Etika Digital, perbedaan pengertian etika dan etika berinternet, pelanggaran etika dan etika berdigital, strategi dalam membangun relasi sosial menggunakan media digital yang sesuai etika serta beberapa hal lainnya. “Etika digital adalah kemampuan individu dalam
menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Drs Sukardi.

Baca:  Jangan Biarkan Kecanduan Digital Terjadi Pada Anak Kita!

Ia juga memaparkan tentang Etika Berinternet antara lain; Jangan menggunakan huruf besar/ kapital, Apabila mengutip dari internet, kutiplah
seperlunya.

“Memperlakukan email sebagai pesan pribadi. Berhati-hati dalam melanjutkan email ke orang lain. Biasakan menggunakan format plain text dan jangan sembarangan menggunakanHtml. Jangan kirim file berukuran besar melalui attachment tanpa izin terlebih dahulu dari
penerima pesan,” ujarnya seraya menyimpulkan bahwa Kegiatan di dunia digital perlu dilakukan dengan berpartisipasi aktif bersama-sama
serta didukung dengan konten-konten yang positif. Sehingga kita dapat menggunakan kompetensi berpartisipasi dan dapat mengekspresikan secara lebih terbuka dan bebas. Meskipun terbuka dan bebas namun wajib selalu mengedepankan etika digital dan netiket berinternet agar komunikasi dan
interaksi kita dapat berjalan aman, nyaman.

Selanjutnya pembicara keempat, Dr.L.R.Retno Susanti, M.Hum (Dosen Universitas Sriwijaya/Sejarawan dan Budayawan) yang membawakan materi tentang Masyarakat Digital Berbudaya Indonesia. Sama seperti tiga pembicara sebelumnya, Dr Retno pun kebagian waktu 20 menit untuk memaparkan materinya. Masyarakat Digital Berbudaya Indonesia dijabarkan Dr Retno dengan beberapa hal seperti

  • Memahami konteks ke-Indonesiaan sebagai Masyarakat Digital, harus mendukung toleransi keberagaman, membiasakan bersikap demokratis, mengutamakan Indonesia diatas kepentingan pribadi dan golongan, serta menginisiasi cara kerja melalui gotong-royong
  • Indonesia yang kaya akan berbagai nilai-nilai budaya yang berkembang secara turun temurun, artinya bahwa Masyarakat Digital Berbudaya Indonesia harus menjunjung tinggi adab kesopanan dan nilai moral kemanusiaan.
  • Dalam konteks keIndonesiaan, sebagai Masyarakat digital, tiap individu memiliki tanggung jawab (meliputi hak dan kewajiban) untuk melakukan seluruh aktivitas bermedia digitalnya berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan, yakni Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini karena Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan panduan kehidupan berbangsa, bernegara dan berbudaya di Indonesia.
  • Sebagai masyarakat digital kita harus paham tipe media sosial, pasang perisai anti-hoaks, dan memakai etika saat berinteraksi,”
Baca:  Era Digital Kita Harus Lebih Produktif

Selanjutnya, Retno pun memberikan kesimpulan bahwa Sebagai pengayaan konteks ke-Indonesiaan, berbicara tentang pilihan politis Indonesia membangun sistem demokrasi, adalah hak warga negara untuk mendapatkan perlindungan atas kebebasan berekspresi dan berpendapat di ranah publik, termasuk di ruang digital. Jika Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika ada dalam kebebasan berekspresi, maka tidak akan muncul hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber atau pembatasan akses digital lainnya. “Tidak akan ada black campaign berbasis agama dan ras, doxing kepada jurnalis yang menulis berbasis data ilmiah (science journalism) atau perang meme ”cebong vs kampret” dan “kadrun vs togog” di lini media sosial,” ujarnya.

Webinar ini dibuka moderator dengan dilanjutkan menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar. Selanjutnya dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI.
Lantas keynote speech kedua disampaikan Wali Kota Palembang H Harnojoyo.

Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam penanya lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.

Terpisah, Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti secara daring oleh 844 orang peserta dari mahasiswa dan pelajar.

Selanjutnya, webinar Literasi Digital Kemenkominfo RI akan digelar kembali pada Jumat 1 Oktober 2021 pukul 09.00-12.00 WIB dengan tema “Hidup Produktif di Era Digital” dengan menghadirkan beberapa narasumber di antaranya Karlina Octaviany, M.Sc (Digital Access Programme Adviser British Embassy Jakarta), M Muhaimin, S.IP, MA (CEO Nextup ID), Dra. Poniyem, M.Pd. (Kepala UPTD. BTIKP Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan) dan Ika Mardiana, M.Pd (Kepala Perpustakaan SMP Negeri 6 Palembang) Pendaftaran melalui tautan :
https://s.id/lidigpalembang1oktoberLink Zoom: https://us02web.zoom.us/j/8033010024.#osk

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...