Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Ribuan Pasien COVID-19 di Sumsel Meninggal Karena Komorbid, Ini Jenis-jenisnya

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Lesty Nurainy . (BP/IST)

Palembang, BP – Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Lesty Nurainy mengatakan salah satu faktor pasien COVID-19 bisa meninggal dunia disebabkan oleh komorbid atau penyakit penyerta. Khususnya bagi mereka yang menderita penyakit tersebut dengan status cukup parah.

Sebab jika status komorbidnya sudah cukup parah maka penyembuhannya akan lebih kompleks jika dibandingkan dengan mereka yang dirawat tanpa adanya komorbid.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mencatat ada 14 jenis komorbid atau penyakit penyerta menjadi salah satu faktor penyebab pasien COVID-19 di provinsi ini meninggal dunia. 14 jenis penyakit komorbid tersebut meliputi Hidrosefalus, HIV, Demam Berdarah Dengue (DBD), Hipertiroid, Tyfoid, PPOK, Kanker, Stroke, Gastritis, TB Paru, Asma, Ginjal, Jantung, Diabetes Militus dan Hipertensi. Seperti dilansir dari Antara.

“Saat pasien COVID-19 tidak mempunyai komorbid dalam waktu 14 hari kebanyakan sudah sembuh dengan istirahat dan minum vitamin. Tapi sebaliknya bila mempunyai riwayat komorbid perawatan akan lebih panjang, apalagi yang sudah cukup parah,” ujarnya, Kamis (23/9).

Menurut dia, berdasarkan pada data rekapitulasi terbaru yang dirilis pada Rabu (21/9), jumlah total pasien COVID-19 yang meninggal dunia karena 14 jenis komorbid tersebut ada sebanyak 1.475 orang.

Rinciannya tercatat untuk penyakit Hidrosefalus ada sebanyak satu orang, HIV satu orang, Demam Berdarah Dengue (DBD) satu orang, Hipertiroid satu orang, Tyfoid empat orang.
Penyakit PPOK 10 orang, Kanker 22 orang, Stroke 31 orang, Gastritis 37 orang, TB Paru 44 orang, Asma 56 orang, Ginjal 68 orang, Jantung 176 orang, Diabetes Militus 503 orang dan Hipertensi sebanyak 620 orang.
Diketahui dari ke-14 komorbid itu, tiga di antaranya meliputi penyakit jantung, diabetes militus dan hipertensi, menjadi penyakit yang paling banyak diderita dalam kasus ini.

Oleh itu Lesty mengharapkan masyarakat yang mempunyai riwayat penyakit tersebut agar dapat lebih berhati-hati.
“Khususnya mereka yang berada di rentang usia 55 tahun ke atas, dalam data rekapitulasi tercatat di usia itu kasus kematian COVID-19 ada sebanyak 1.473 orang meninggal dunia,” Kata Lesty.

Diketahui selama diberlakukannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Sumsel, berpengaruh pada kasus kematian pasien COVID-19 menjadi turun secara signifikan.
“Membaiknya penyebaran kasus COVID-19 di semua kabupaten kota memberikan dampak pada penurunan angka kasus kematian. Dari ratusan orang per hari, menjadi bahkan tidak sampai 10 kasus per hari,” jelasnya.

Lesty menegaskan walaupun kondisi sudah menjadi lebih baik namun bukan mengartikan kalau COVID-19 sudah tidak ada lagi sehingga diharapkan masyarakat tetap patuh terhadap protokol kesehatan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan dengan di air mengalir dengan sabun, dan menghindari kerumunan).

Serta penting untuk menjaga kebersihan lingkungan, menjaga kesehatan tubuh dengan rutin berolahraga, konsumsi vitamin dan istirahat yang cukup supaya daya tahan tubuh terjaga dan terhindar dari penularan COVID-19.

“Termasuk yang belum vaksinasi COVID-19 segera daftarkan diri di pelayanan kesehatan terdekat, supaya tubuh benar-benar terlindungi dari COVID-19,” tandasnya. #rid

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...