Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Awas, Gelombang Ketiga COVID-19 Indonesia dalam 3 Bulan ke Depan

Ilustrasi

Jakarta, BP – Masyarakat diminta tetap mewaspadai gelombang ketiga COVID-19 meski kasus Corona di Indonesia terkendali saat ini. Kepatuhan menjalankan protokol kesehatan dan menaati kebijakan Pembatasan Protokol Kesehatan Masyarakat (PPKM) tetap harus dilakukan.

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, menilik pola lonjakan kasus (gelombang COVID-19) di Indonesia yang berselang 3 bulan dari lonjakan di negara lain, masyarakat harus waspada. Meski demikian, Wiku tak menyebut secara detail bulan apa yang dimaksud.
“Saat ini, lonjakan COVID-19 terjadi negara lain, seperti India, Malaysia, dan Jepang. Maka, kita harus waspada dan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan, agar tidak menyusul lonjakan (gelombang) ketiga dalam beberapa bulan ke depan,” terang Wiku di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta pada Selasa, (21/9).

Pola kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia, lanjut Wiku Adisasmito, relatif lebih lambat dari kenaikan kasus dunia. Apalagi menjelang masa libur akhir tahun.

“Kita perlu mewaspadai kondisi dunia yang saat ini tengah mengalami third wave (gelombang ketiga). Pada pola second wave (gelombang kedua) di Indonesia, di mana terdapat jeda 3 bulan (setelah lonjakan di dunia), perlu kita antisipasi,” tegasnya.

Baca:  Pemerintah Minta Palembang dan Enam Daerah Berzona Merah Perbaiki Penanganan

“Ini mengingat dalam 3 bulan ke depan, kita akan kembali memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru 2022.”

Belajar dari gelombang kedua COVID-19 di di Indonesia pada Juli 202, Wiku Adisasmito menekankan, hal itu tidak disebabkan oleh naiknya kasus global atau datang dari negara-negara lain, melainkan dari dalam Indonesia sendiri.

“Beberapa faktor internal penyebab kenaikan kasus COVID-19 dan penyebaran virus Corona adalah meningkatnya mobilitas dan aktivitas sosial masyarakat yang terjadi bersamaan dengan periode mudik Idul Fitri serta sikap abai terhadap protokol kesehatan,” jelasnya.

Artinya, umumnya peluang lonjakan COVID-19 dapat meningkat saat datang libur panjang dan pelaksanaan kegiatan besar di masyarakat dalam negeri.

Baca:  Perbaikan Ekonomi Harusnya Beriringan Dengan Penyelamatan Jiwa Dari Virus Covid-19.

Walaupun terdapat gelombang COVID-19 baru di beberapa negara lain di dunia, Indonesia juga perlu memerhatikan ancaman lonjakan kasus yang ada di dalam negeri akibat faktor yang khas ditemui di Indonesia.

“Misalnya, tradisi bepergian, berkumpul saat hari raya yang seringkali menyebabkan masyarakat abai protokol kesehatan. Namun, perlu diingat bahwa potensi kenaikan kasus dapat dihindari apabila kita tidak mengendorkan pelaksanaan kebijakan berlapis,” Wiku menambahkan.
“Seperti akselerasi vaksinasi, pengendalian mobilitas dalam dan luar negeri, pengendalian aktivitas masyarakat dan menggalakkan upaya 3T (testing, tracing, treatment) dan 3M (mencuci tangan, pakai masker, jaga jarak).”

Baca:  Sung Po Yung Tewas di Kamar Penginapan, Sebelumnya Dinyatakan Positif Covid-19

Sementara itu Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyampaikan, gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia diprediksi terjadi pada Desember 2021. Prediksi tersebut berdasarkan pemodelan yang dilakukan.

“Sebelumnya, saya sampaikan potensi gelombang ketiga ada pada September. Lalu potensi gelombang ketiga mundur, tadinya Oktober, mundur lagi Desember (2021),” kata Dicky dalam dialog bertajuk Berdampingan dengan COVID-19 baru-baru ini.

“Ini karena Pemerintah memperpanjang PPKM. Jadi kan, ini (prediksi) estimasikan proyeksi. Ada intervensi yang kuat dengan penerapan PPKM berlevel dan hasilnya efektif. Maka, jangan sampai kita abai dalam indikator-indikator pelongaran, termasuk vaksinasi.” ujarnya.

Intervensi dan kebijakan penerapan PPKM, menurut Dicky berpotensi prediksi kehadiran gelombang ketiga semakin mundur, tapi diperkirakan melonjak besar seperti gelombang sebelumnya, jika tidak berhati-hati.#rid

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...