Ultimate magazine theme for WordPress.

Efektivitas Pola Belajar Jarak Jauh Secara Online

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang dengan topik “Sukses Belajar Online dengan Kemampuan Literasi Difgital”, yang digelar, Selasa (21/9)  pukul 09.00.(BP/IST)

Palembang, BP- Pola belajar jarak jauh yang optimal tak kalah efektif dibanding pola belajar tatap muka, apalagi pola belajar dilakukan secara online ?  Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang dengan topik “Sukses Belajar Online dengan Kemampuan Literasi Difgital”, yang digelar, Selasa (21/9)  pukul 09.00.

Webinar gratis  100 Persen bahkan peserta mendapatkan  E-sertifikat dari Kementerian Kominfo RI. Selain itu ada hadiah voucher menarik untuk 10 peserta kali ini menghadirkan narasumber antara lain DR. Devie Rahmawati (Peneliti & Pengajar Tetap Vokasi UI), Dr (C) Rr Vemmi Kesuma Dewi, MPd (Akademisi Bid.Pendididikan dan Praktisi Pendidikan Ramah Anak),  Dr. Nurlina, M.M. (Pengawas YPLP-PT PGRI Provinsi Sumatera Selatan, Dosen Tetap Yayasan Program Pascasarjana Univ. PGRI Palembang) serta H. Heru Supeno, S.Pd., M.Si. (Kepala SMA Negeri 18 Palembang).

Moderator membuka acara dengan  menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar. Moderator juga pada kesempatan pertama memberikan ruang kepada Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI untuk menyapa salam digital kepada para peserta webinar. Tak lupa setelah itu, keynote speech Walikota Palembang H Harnojoyo pun ikut menyemangati para peserta dengan juga memberikan salam digital.

Lebih seru lagi, Moderator Sonnaria akan memandu acara dengan menghadirkan juga beberapa keseruan misalnya akan memberikan kesempatan kepada penanya terbaik untuk langsung berinteraksi dengan para narasumber. Tak lupa, Key Opinion Leader:@tomrist_ (Moderator Debat Capres-Cawapres 2019) dihadirkan untuk lebih menyemarakkan suasana webinar yang diperkirakan akan berakhir sekitar pukul 12.00  ini.

Pembicara DR. Devie Rahmawati (Peneliti & Pengajar Tetap Vokasi UI) berikan triks-triks. Media digital harus menjadi berkah bukan bencana. Ada sisi positif dan negative. Mau jadi pengikut saja atau mau ambil manfaatnya. “Mari buat hobi menjadi sesuatu yang menghasilkan uang,” ujar Devie dengan antusias.

Konsep Marketing 5.0 dipaparkan peneliti dan dosen di Universitas Indonesia ini dengan sangat detail. Waktu 20 menit tak terasa dihabiskan beliau dengan berbagi tips, trik dan berbagai pengalaman dirinya berselancar di dunia digital.

Pembicara selanjutnya, Dr (C) Rr Vemmi Kesuma Dewi, MPd (Akademisi Bid.Pendidikan dan Praktisi Pendidikan Ramah Anak) yang pada kesempatan selama 20 menit juga menambah wawasan peserta webinar. Vemmi yang menyajikan materi tentang Keamanan Digital. Bagian awal, Bunda Roro ini memaparkan tentang hasil survei kegiatan belajar mengajar di sekolah di Indonesia berdasarkan data hasil survei yang dilakukan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). “Apa yang harus dilakukan saat ini menjadi seorang guru? Harus mampu mengembangkan diri, memiliki kematangan moral, merefleksikan evaluasi pembelajaran pada murid kepada siswa, selanjutnya berkolaborasi baik dengan orangtua maupun pihak sekolah,” ujarnya.

Situasi saat ini diakui Roro agar kreativitas dikembangkan dengan mengkombinasi antara pembelajaran daring dan luring. Pembelajaran dengan menggunakan aplikasi beberapa sistem. Selanjutnya metode pembelajaran dipaparkannya secara lugas seperti sinkronus, asinkronus dan blended. “Etika berdigital antara lain berpikir sebelum berbicara, selanjutnya kolaborasi (saling menjaga untuk mencapai suatu tujuan), kreativitas (gunakan aktivitas dengan aplikasi penunjang),  sebelum berinteraksi harus tahu konteks segala sesuatu prihal yang akan dilakukan. Dan yang terpenting, informasi yang akan diberikan itu bermanfaat apa tidak untuk orang banyak,” tambah Bunda Roro yang memberikan tips sehat dan aman. Tips belajar online bagi pelajar antara lain buat area belajar senyaman mungkin, atur jadwal dan buat rencana dengan meluangkan waktu untuk aktivitas sosial di sekitar. Makan dan tidur yang cukup untuk kebugaran tubuhsebagai keseimbangan melakukan kegiatan digital.

Baca:  Era Digitalisasi Bawa Masyarakat  Menuju Era Masyarakat Digital

Dr. Nurlina, M.M. (Pengawas YPLP-PT PGRI Provinsi Sumatera Selatan, Dosen Tetap Yayasan Program Pascasarjana Univ. PGRI Palembang) yang menyajikan materi tentang “Membangun Budaya Literasi di Sekolah” pada kesempatan ini selama 20 menit memaparkan berbagai hal di antaranya  tentang definisi Literasi digital, yaitu kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat, dan mengkomunikasikan konten maupun informasi dengan kecakapan kognitif maupun teknikal.

Selain itu, Nurlina menganjurkan agar Gerakan literasi digital di sekolah harus dikembangkan sebagaimana mekanisme pembelajaran terintegrasi ke dalam kurikulum atau setidaknya terkoneksi dengan sistem belajar mengajar . Kemampuan Siswa perlu ditingkatkan . Keterampilan guru , pengetahuan dan kreativitas dalam proses belajar mengajar literasi digital juga perlu ditingkatkan. Kepala sekolah perlu memfasilitasi guru atau tenaga kependidikan dalam mengembangkan budaya literasi digital di sekolah.

8 elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital antara lain; Bertanggung jawab secara sosial, Kiritis dalam  menyikapi kontens, kepercayaan diri yang bertanggungjawab, Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru, komunikatif (Adalah memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital), konstruktif Adalah reka cipta sesuatu yang ahli dan actual),  kognitif (Adalah daya pikir dalam menilai konten), serta cultural (Adalah pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital). “Apa yang harus dilakukan guru/pembimbing agar siswa dapat meningkatkan budaya literasi digital, antara lain Memberikaan pemahaman tentang terkaid perlindungan data pribadi. 2. Menekankan pentingnya tata krama dan etika 3. Mengarahkan kepada sumber informasi yang kredibel dan cara menghindari berti palsu (hoax) 4. Memprioritaskan aspek kebermanfaatan 5. Menjaga keharmonisan ( menghindari cyber bullying) Membangun Etika Berinternet yang Sehat,” ujar dosen di UPGRI Palembang ini.

Selanjutnya, Nurlina juga memaparkan tentang Membangun etika berinternet sehat antara lain dengan cara-cara; Sebaiknya memeberikan informasi pribadi dan keluarga yang bijak yang tidak mengumbar informasi yang mengandung privasi. 2. Berkomunikasi secara santun. 3. Jangan menyebar konten yang bersifat pornografi dan dapat mengganggu suku, agama,ras antar golongan (SARA) ,baik berupa tulisan, foto/gambar, atau vidio. 4. Mengecek kebenaran kontendan informasi suatu berita . 5. Sebaiknya mengomentari suatu berita dengan memahami dulu isinya secara konperhensif dan tidak sepotong-potong. 6. Jangan menggunakan Medsos saat hati dalam keadaan emosi , pikiran jenuh dan kondisi kejiwaan yang labil. 7. Pergunakan media sosial untuk hal-hal positif ,baik dari segi konten maupun cara penyampaiannya,” katanya.

Baca:  Kehidupan Serba Online Miliki Kecakapan Digital Yang Baik

Pembicara keempat,  H. Heru Supeno, S.Pd., M.Si. (Kepala SMA Negeri 18 Palembang) yang pada kesempatan ini membawakan materi tentang “Sukses Belajar Online dengan Kemampuan Literasi Digital, Digital Etik, Interaksi dan Kolaborasi di Ruang Digital Sesuai Etika”. Selama 20 menit Kepala SMA Negeri 8 Palembang ini memaparkan materi.

Mengapa pentingnya etika digital, Heru menjabarkan antara lain Perkembangan komunikasi digital, memiliki karakteristik komunikasi global yang melintasi batas-batas geografis dan batas-batas budaya.Setiap batas geografis dan budaya juga memiliki batasan etika yang berbeda. Setiap negara, bahkan daerah memiliki etika sendiri, begitu pula setiap generasi memiliki etika sendiri, Interaksi digital antar gender, dan antar golongan sosial lainnya akan memunculkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan etika. “Dalam ruang digital,  kita berinteraksi, dan berkomunikasi dengan berbagai perbedaan kultural, sehingga sangat mungkin pertemuan secara global tersebut akan menciptakan standar etika baru. Statistik digital market outlook 2020 mengungkapkan, pengguna internet di indonesia saat ini sudah mencapai 212 juta jiwa. Adapun setiap orang rata-rata kini menghabiskan waktu sekitar 8 jam per hari berada di internet,” katanya.

Manfaat Etika Digital antara lain Melancarkan komunikasi dengan orang lain, sehingga hubungan yang sudah terjalin akan semakin Baik, Memahami apa yang dikomunikasikan oleh orang lain, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik, Dengan  mentaati etika yang berlaku, kita akan diterima dengan baik dalam lingkungan sosial masyarakat.

Mengapa etika digital penting di masa pandemi? Heru mengatakan Di masa pandemi literasi digital sangat penting sebagai sarana komunikasi, kolaborasi atau mendukung kegiatan masyarakat ,bisnis, maupun pemerintahan . “Selama Pandemi transpormasi masyarakat sangat tinggi dalam menggunakan internet terutama dunia Pendidikan, dunia kerja, dan transaksi keuangan. Untuk mengatasi dampak penyebaran Covid-19 sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi melakukan pembelajaran daring. Siswa, guru, dan masyarakat lainnya harus menguasai penggunaan digital dengan penerapan etika digital. Selain itu perlu diingat bahwa Penerapan kemampuan digital / Digital skills harus di iringin dengan pemahaman etika digital /digital ethics agar tercipta kenyaman dalam berkomunikasi,” demikian anjuran Heru.

 

Dampak positif pembelajaran daring  menurut Heru antara lain Guru dan siswa  terpacu untuk menguasai Teknologi Informasi Komunikas dan  internet. “Kita bisa belajar dimana saja, Efisien waktu dan dapat mengatur kapan harus belajar dan mengajar, Dapat mengenal dan menggunakan berbagai aplikasi Pendidikan dan mengakses secara gratis serta Dapat menerima materi dengan mudah dengan cara mengunduhnya. Ada bantuan kuota dari pemerintah untuk siswa dan guru, Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan perangkat digital / internet, dan Aktivitas yang bersentuhan dengan teknologi lebih mewarnai kehidupan siswa dan guru, “ tambah Heru yang juga pada kesempatan ini menyebutkan dampak negative di antaranya Penurunan Kompetensi belajar siswa, Banyaknya waktu senggang , Anak lebih banyak waktu bermain games online , interaksi dengan media, Kurang berinteraksi dengan teman sebaya di lingkungan rumah, teman bermain, “ katanya.

Baca:  Begini Cara Berekspresi di Dunia Digital

Kesimpulan yang diberikan Heru adalah bahwa  perkembangan pengguna digital yang semakin meningkat lintas batas geografi dan budaya adanya perbedaan agama, suku dan budaya, memelukan  adanya standar etika baru yaitu etika digital. Perlunya membangun kualitas diri / karakter , pengetahuan dan pemahaman peraturan / UU ITE agar dapat menerapkan  “etika digital” sehingga tercipta kenyaman keamanan berkomunikasi, Bimbingan peran serta orang tua, dan sekolah sangat dibutuhkan dalam membantu perkembangan anak/siswa  dalam menumbuhkan dan menerapkan etika digital.

Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam penanya lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.

Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti secara daring oleh 1084 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa dan orangtua (umum). “Alhamdulilah, anomi masyarakat cukup tinggi untuk mengikuti webinar hari ini. Angka 1084 yang sudah lebih dari 1000 merupakan suatu kehormatan bagi kami atas partisipasi ini,” ujar Suryati.

Untuk webinar selanjutnya imbuh Suryati, webinar diselenggarakan kembali pada Kamis 23 September 2021 waktu pukul 09.00 – 12.00 WIB dengan topik “Upaya Mencegah Menghadapi dan Melawan Perundungan Digital (Cyberbullying)”.

Adapun narasumber antara lain Dr. Gushevinalti, M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi dan Penggiat Literasi Digital), Uli Hartati Panggabean (Blogger, Content Creator), Hj. Nyayu Nurlaila, M.Pd. (Kepala SMA Negeri 14 Palembang) dan Dra. Hj. Tetrayanti, M.Si. (Kepala SMP Negeri 17 Palembang) dengan moderator Azzura Intan dan Key Opinion Leader: @qonitah_azzahra (Founder @halomentors , Trainer Market Place).

Pendaftaran melalui tautan: https://s.id/lidigpalembang23september dan Link Zoom:https://us02web.zoom.us/j/4209362077.#osk

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...