Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Unsri Genjot Peran BPP dalam Kelembagaan Tani di Muara Enim

Pemerintah Kabupaten Muara Enim lewat  Maryono, SP mewakili Dinas Pertanian dan Yadi Setiadi, SP mewakili Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perternakan mengumpulkan kurang lebih 60 penyuluh, petani dan pelaku bisnis usahatani di BPP Sri Tanjung Sabtu (19/9).(BP/IST)
Tim Agribisnis  Universitas Sriwijaya (Unsri ) melakukan penguatan peran pada BPP di Muara Enim sepanjang satu hari penuh, Minggu, (19/9).(BP/IST)

Muara Enim, BP- Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) ujung tombak pemerintah dalam
berkomunikasi dengan para petani. Namun dalam otonomi daerah saat ini, BPP lebih ditempatkan
sebagai penyusun dan pelaksana program pertanian semata. Kendala lain BPP lebih memaksimalkan menonjolkan BPP Pemerintah, sehingga BPP Swadaya dan Swasta kurang diperhatikan.

Demikian juga di Kabupaten Muara Enim. Sejalan dengan ini, Tim Agribisnis  Universitas Sriwijaya (Unsri ) melakukan penguatan peran pada BPP di Muara Enim sepanjang satu hari penuh, Minggu, (19/9).

Pemerintah Kabupaten Muara Enim lewat  Maryono, SP mewakili Dinas Pertanian dan Yadi Setiadi, SP mewakili Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perternakan mengumpulkan kurang lebih 60 penyuluh, petani dan pelaku bisnis usahatani di BPP Sri Tanjung Sabtu (19/9).

Mereka dikumpulkan untuk mendapat fasilitator dan bimtek penguatan peran penyuluh
dalam kelembangaan tani dalam Program IPDMIP IFAD.

“Para penyuluh, petani dan pelaku bisnis ini perlu kita sadarkan bahwa ada peran besar para
penyuluh yang perlu ditingkatkan. Peran ini menyangkut peran yang jarang dimainkan. Peran
penyuluh dalam mengembangkan kelembagaan dan kemitraan. Yakni kemampuan penyuluh dalam
menyatukan pelaku utama, para petani dan pelaku bisnis dalam pertanian di Muara Enim”, kata Dr.
Yulius, Pakar Kelembagaan Tani Unsri dan narasumber utama kegiatan.

Baca:  Unsri Dorong Kelompok Tani Manajemen Irigasi Partisipatif di Muaraenim

“Peran ini harus terlihat dalam indikator keberhasilan fasilitasi para penyuluh di BPP. Salah
satu indikator ini adalah adanya kuantitas besar penyuluh pertanian, baik itu PNS, Swadaya maupun
Swasta yang mampu menciptakan jumlah besar kelembagaan tani yang melakukan jejaring dan
kemitraan. Jejaring dan kemitraan ini, terutama mulai dari hulu, petani dan supplier sampai ke hilir,
para pelaku usaha dan pasar”, lanjut Dr. Yulius.

Kondisi ini tidak lepas dari peran besar penyuluh pertanian di BPP yang hanya bermain di
hulu. Sementara peran tidak kalah besar yang harusnya ada di hilir jarang disinggung. Peran di hilir dengan memperkuat kemitraan di para pelaku serta jejaring pasar tani.

“Kami berusaha tingkatkan pemberdayaan penyuluh. Agar mereka mampu melakukan
pelayanan konsultasi agribisnis ke petani di hulu. Demikian juga mengembangkan inkubator
agribisnis di tingkat hilirnya pada pelaku bisnis dan pasar tani”, ujar Dr. Maryadi, pakar penyuluh
pertanian dan narasumber utama lainnya.

Baca:  ALSA Social Project #1 Respon Masalah Lingkungan dan Sanitasi

“Seperangkat pengembangan kemitraan penyuluh di Muara Enim ini harus kita hubungkan
tidak saja dengan Bulog misalnya. Namun juga dengan lembaga keuangan dan bisnis, seperti
perbankan, pasar dan perusahaan agribisnis yang ada. Tidak saja tingkat lokal, kabupaten dan
provinsi. Namun juga tingkat nasional”, tambah Dr. Maryadi yang juga ketua jurusan Sosek Pertanian
Unsri.

Pada kesempatan ini peserta bimtek merasa mendapat ilmu baru dari tim Agribisnis Unsri.
“Kita diminta bertransformasi menjadi BPP Kostratani. Terutama menyediakan sarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi penyuluh pertanian kita yang memang jarang dilakukan”, kata Marhup, SP salah satu peserta yang juga koordinator BPP Sri Tanjung.

Sarana TIK bagi penyuluh pertanian ini penting karena sebagai pusat data informasi
pertanian sekaligus pusat pengembangan jejaring kemitraan.

Keberadaan TIK pengembangan
jejaring kemitraan para penyuluh pertanian di Muara Enim dapat menghubungkan petani binaannya sebagai produsen hasil pertanian dengan para pelaku bisnis dan pasar sebagai pemanfaatnya.

“Titik pengembangan jejaring kemitraan TIK para penyuluh ini kami berikan ke para
penyuluh Muara Enim. Dimasa sekarang yang serba online. beberapa aplikasi yang ada dapat
dimanfaatkan oleh penyuluh”, ujar Dr. Nurillah Elsya Putri, narasumber pendamping dengan
pengalaman sebagai Kepala Lab. Pengembangan dan Komunikasi Pertanian Unsri.

Baca:  Value Chain Komoditas Holtikultural Muarenim dapat Perhatian Ekstra dari Tim Agribisnis Unsri

Lebih jauh peran pasar sangat dibutuhkan petani dalam memasarkan hasil tani. Merelasikan
pasar dengan petani juga menjadi pekerjaan rumah penguatan kelembagaan penyuluh pertanian di
BPP. Oleh karena itu, Dr. Agustina Bidarti, narasumber pendamping juga mengingatkan penyuluh dalam bimtek. Perlu adanya pusat data informasi pertanian.

Pusat data tersebut bukan saja mengenai informasi komoditas pertanian di Muara Enim.
Namun mengenai update data harga komoditas tani. Update data harus difasilitasi oleh penyuluh
dan disampaikan ke petani. Sehingga mereka memiliki bargaining position kuat dalam memasarkan hasil tani. Pada akhirnya melalui penguatan peran penyuluh di kelembagaan tani ini, mereka dapat memiliki handil dalam mensejahterakan petani binaannya di Muara Enim”, tutup Dr. Agustina Bidarti berdasar pengalamannya sebagai kepala Klinik Agribisnis Unsri.#osk

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...