Ultimate magazine theme for WordPress.

Produktivitas Lahan Rawa Pasang Surut di Sumsel Belum Optimal

Staf ahli Pusat Data Informasi Daerah Rawa dan Pesisir (Pusdatarawa) Sumsel Dr. Momon Sodik Imanudin, S.P., M.Sc. (BP/IST)

Palembang, BP – Kebutuhan pangan nasional saat ini terus meningkat, namun lahan irigasi makin berkurang karena areal di pulau Jawa

terjadi alih fungsi lahan.

Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri merupakan daerah yang memiliki potensi Rawa pasang surut terbesar di Indonesia.

Reklamasi rawa pasang surut di Sumsel dimulai sejak tahun 1961, dimana lebih dari 70% luas areal reklamasi berada di Kabupaten Banyu Asin, saat ini menghasilkan lebih
kurang 519 ribu ton beras.

Banyuasin menjadi lumbung pangan nomor satu di Sumsel dan masuk empat besar dari 10 besar Nasional sebagai kabupaten penyumbang pangan di Indonesia. Pada beberapa daerah potensial seperti Telang,
produksi padi mencapai 7-8 ton/ha

Namun, sayangnya Staf ahli Pusat Data Informasi Daerah Rawa dan Pesisir (Pusdatarawa) Sumsel Dr. Momon Sodik Imanudin, S.P., M.Sc mengatakan produktivitas lahan rawa pasang surut di Sumsel masih belum optimal.

“Belum optimal, perlu pendampingan teknis. Teknologi yg dihasilkan hrs ada verifikasi dan adaptasi. Perlu peningkatan peran serta petani, dan unsri hrs dilibatkan dr perencanaan dan pelaksanaan,” ujarnya kepada Berita Pagi, Jumat (17/9).

Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya ini juga meminta agar pemerintah setempat segera lakukan perlindungan lahan yg potensial untuk pertanian pangan agar tidak beralih fungsi.

Dalam hal ini, ia mengatakan petani harus dilibatkan secara langsung dalam pembangunan kontruksi jaringan dengan mendorong penguatan kelembagaan agar mereka bisa berbadan hukum dan mendapat kontrak kegiatan.

“Ini sdh dilakukan pusdata rawa dan unsri. Bangunan pintu air yg dibangun di Desa Sugihan OKI dan Desa
Mulya Sari Telang II pada tahun 2006 masih berfungsi dan kokoh,” ungkap Momon.

“Mereka merasa memiliki dan pembangunan menjadi berkualitas. Meskipun tidak ada biaya OP tapi kondisi bsngunan bagus. Tujuan sustainability tercapai,” tambahannya.

Selain itu, Momon juga menyebut Sistem informasi juga penting agar karakteristik di berbagai daerah tahu semua, sehingga harus berbasis digital dan ada info spasial dan temporal yang mudah di akses.

“Kedepan berbasis web, sehingga mempercepat pemerintah dalam pengambilan keputusan decission suport system,” pungkasnya. #ric

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...