Ultimate magazine theme for WordPress.

Bijak dan  Beretika di Dunia Internet

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang dengan topik “Etika Dunia Internet: Jarimu Harimaumu, Jumat (10/9) (BP/IST)

Palembang, BP- Jarimu adalah harimaumu, apalagi di media sosial (Medsos) harus  bijak dan jelas dalam menshare informasi agar tidak menjadi hoaks, bagaimana caranya kita lebih bijak berkomentar di ruang digital? Teliti dulu, baru share! inilah benang merah dari kegiatan webinar yang digelar, Jumat (10/9).

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang dengan topik “Etika Dunia Internet: Jarimu Harimaumu” yang dimulai pukul 09.00  dan diikuti 1214 peserta yang sangat luar biasa antusias ini mencerminkan bahwa apa yang dikhawatirkan pemerintah RI melalui Kemenkominfo RI sangat beralasan. Dengan sedikit pengetahuan dan pemahaman akan bahaya menyebar informasi yang belum valid kebenarannya akan berdampak buruk. Mengingat dalam hitungan jari, informasi langsung tersebar ke seantero dunia. Di samping itu, panitia tetap memberikan apresiasi kepada para peserta webinar dengan tetap memberikan fasilitas gratis bagi seluruh peserta, mendapatkan e-sertifikat dari Kemenkominfo RI, serta 10 peserta terbaik akan mendapatkan voucher menarik.  “Itu sebabnya kita harus tetap cakap digital. Cerdas membawa situasi dan jangan gegabah ikut-ikutan mengshare apa yang didapat sebelum meneliti keberadaannya,” kata Samuel, saat menyampaikan sambutan mewaliki Kemenkominfo RI di webinar, Jumat (10/9).

Deden Mauli Darajat, M.Sc., Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) UIN Jakarta yang menjadi salah satu narasumber pada kesempatan pertama ini mengingatkan peserta seminar bahwa apa yang kita unggah bisa menjadi boomerang kalau itu hal yang negative dan tidak benar.  “Apa yang kita unggah bisa jadi bumerang kalau itu negatif karena jejak digital tidak bisa dihapus. Yang merusak ruang digital itu antara lain berita hoaks,” kata Deden seraya memberikan tips, apa yang dilakukan ketika berita yang kita terima hoaks? “Maka Anda cukup mengetahui dan tidak ikut menyebarkan. Terus kasih tau si pengirim bahwa itu hoaks. Lalu kita buat kontens yang benarnya,” katanya.

Selanjutnya, Deden juga memaparkan tentang hal lain yang juga merusak ruang digital yaitu membuat kontens atau pernyataan luapan emosi, jengkel dan marah. Menurutnya, ada 4 hal yang merusak ruang digital.

Selanjutnya, narasumber Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, M.T., Dosen Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya yang membawakan materi berjudul Budaya Digital: Jarimu, Harimaumu memaparkan media sosial fungsi untuk administrasi seperti memperkenalkan perusahaan dan publikasi. “Jadi budaya sudah digital. Zaman dulu presentasi langsung ke perusahaan-perusahaan,sekarang tidak lagi cukup dengan mengirim pdf  profil perusahaan ke email dituju sudah cukup efektif. Hemat dan efisien,” katanya.

Selanjutnya, Diah juga memaparkan budaya digital dalam dunia pendidikan. “Pendidikan sudah e learning, sudah zoom. Semua sudah dilakukan dengan memanfaatkan dunia maya. Apalagi di era pandemi Covid 19 ini,” tambah Diah.

Dua narasumber lainnya . Muhamad Arif Rahmat, SHI (Certified Life Coach) dan Rafli, S.Pd., M.Pd. (Kepala SMK Negeri 2 Palembang) dipandu Moderator Astrid Anggraeni juga memaparkan hal yang sama masing-masing selama 20 menit.

Rafli, S.Pd., M.Pd., Kepala SMK Negeri 2 Palembang yang menjadi narasumber terakhir misalnya, mengingatkan bahwa pengguna internet adalah manusia biasa juga. Ingat, pengguna internet juga manusia . Jangan lupa, pengguna, netizen atau orang yang membaca email atau postingan anda adalah manusia juga yang punya perasaan bisa tersinggung atau sakit hati, jangan menyakiti hati orang lain. Etika komunikasi dunia nyata berlaku di dunia maya, standar etika komunikasi internet sama saja dengan etika komunikasi didunia nyata, seperti etis, menghargai pendapat orang lain dan jangan dan melanggar hukum,” katanya.

Key Opinion Leader, Ratih, @ratihab (Founder @yourpersonalmodel) yang juga pada kesempatan webinar ini menjadi salah satu inspirator bagi peserta webinar.

Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel kali ini pun menyatakan kegembiraan atas antusias peserta webinar. “Alhamdulilah, webinar kali ini pun cukup banyak pesertanya yang mengikuti secara daring yaitu 1214 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dosen, pengajar dan dari kalangan umum. Kita sangat berterima kasih atas partisipasi dan antusias masyarakat bergabung dan memanfaatkan webinar yang diprakarsai Kemenkominfo RI ini. Semoga mereka dapat merasakan manfaat dan tambahan ilmu,” katanya.

Selanjutnya, Suryati mengatakan webinar akan tetap digelar yaitu pada Senin (13/9) besok dengan jadwal waktu yang sama yaitu pukul 09.00 sampai dengan 12.00  dengan topik “ Tantangan Generasi  Milenial Menjadi Pemimpin di Era digital” , dengan menampilkan narasumber: Dian Ikha Pramayanti, S.Pt., M.Si (Dosen dan Penulis), Ardi Lunardi, S. TP. (Praktisi Expert E-Commerce & Photograper), H. Ahmad Zulinto, S.Pd., M.M (Ketua PD-PGRI Provinsi Sumatera Selatan) dan

Fir Azwar, S.Pd, M.M (Kepala SMA Negeri 6 Palembang). Link Zoom: https://us02web.zoom.us/j/6450392706.#osk

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...