Ultimate magazine theme for WordPress.

Said Didu Sebut Pandemi COVID 19 Melahirkan Banyak Pebisnis Baru

Said Didu (BP/IST)

Palembang, BP – Mantan Sekretaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Said Didu menyebut, pandemi COVID 19 melahirkan banyak pebisnis baru.

Pandemi COVID 19 yang mengancam nyawa, membuat banyak pihak tergiur dan ikut berbisnis.
Said Didu mulai menuturkan aneka bisnis yang banyak dijadikan ladang ditengah pandemi COVID 19, seperti APD, hand sanitizer, masker, vaksin, swab antigen dan test PCR.
“Awal-awal APD itu mahal sekali dan banyak orang yang kaya raya saat itu, kemudian masuk hand sanitizer, kemudian masker sempat mahal sekali lalu muncul persaingan sehat sehingga harganya menjadi normal kembali,”
“Selanjutnya vaksin yang muncul dengan 2 versi yakni vaksin tidak berbayar dan berbayar. Vaksin berbayar melalui pengadaan pemerintah,” kata Said Didu saat menjadi tamu di kanal YouTube Karni Ilyas Club. Senin, (30/8/21).

Menurut Said Didi, antara vaksin berbayar dan tidak berbayar sama-sama berbisinis.
“Vaksin pengadaan pemerintah bukan berarti tidak ada pembisnis perantara, tidak menutup kemungkinan antara BUMN dan pemilik vaksin tidak berbisnis,” ujarnya.
Tak hanya itu, test swab antingen dan test RT-PCR sempat menduduki tarif tinggi di daerah-daerah.

“Test PCR pernah Rp3,5 juta, kemudian turun Rp1,5 juta dan turun surat edaran Menteri Kesehatan menjadi Rp900 ribu,” tambahnya.

Bisnis test PCR menjadi bisnis dadakan yang muncul akibat aturan pemerintah.
“Selama pemerintah tidak mewajibkan rakyat untuk melakukan test PCR, swab antigen tidak akan terjadi monopoli, karena tidak diwajibkan,” ucapnya.

Peraturan yang mewajibkan rakyat melakukan sesuatu, akan dipakai pembisnis untuk mendapatkan keuntungan.
“Semakin banyak rakyat melakukan test PCR semakin banyak pembisnis yang akan kaya,” tuturnya. #rid

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...