Ultimate magazine theme for WordPress.

Hasrat Politik Dimasa Pandemic

Dr. Markoni Badri, MBA. (BP/IST)

Oleh: Dr Markoni Badri, MBA
Dosen Manajemen Bisnis, Politeknik Negeri Sriwijaya dan
Magister Manajemen Universitas Sriwijaya
Political Marketing Analyst

MESKIPUN Pemilihan Umum serentak untuk Presiden, Kepala Daerah maupun Legislatif masih cukup lama, yaitu tahun 2024, namun aroma intensitas hasrat politik 2024, sudah mulai terasa baik di tingkat Pusat maupun di berbagai daerah, begitu juga di Kota Palembang.

Genderang politik pun sudah mulai dialunkan, meskipun ada sebagian politikus masih malu malu atau setengah malu malu tapi ada juga yang terang benderang menampakkan hasrat Politik nya.

Yang menjadi pertanyaan utama masyarakat adalah bahwa pemilu masih cukup lama, lebih kurang tiga tahun lagi? Apakah waktu (timing) nya sudah tepat, sementara itu, Indonesia saat sedang menghadapi goncangan dahsyat akibat Pandemic, gelombang sunami covid 19 yang tak kunjung reda dan bahkan semakin menggila. Berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi Covid ini belum mampu mengatasi berbagai persoalan, terutama kesehatan dan ekonomi. Kelangkaan obat, supply vaksin yang masih terbatas dan belum merata, keterpurukan ekonomi, gelombang PHK dimana mana dan masih banyak persoalan lain yang harus dilakukan.

Perbincangan dan issue hangat saat ini yaitu semaraknya baleho dan billboard politikus dari beberapa partai politik. yang berukuran besar dan bermunculan secara massif di seantero nusantara. Misalnya Baleho Puan Maharani yang saat ini menjabat Ketua DPR RI, dengan tagline atau posisioning statemen “ Mengepak Kebhinnekaan”.

Begitu juga dengan Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, yang saat ini menjabat Menteri Koordinator di bidang Ekonomi, dengan membawa tagelin “Kerja Untuk Indonesia, Airlangga Hartarto 2024. Tak ketinggalan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, yang lebih dikenal dengan Cak imin, dengan positioning statemen “Padamu Negeri Kami Berbakti, Gus Muhaimin 2024”.

Meskipun beberapa partai lain juga menampilkan kader partai nya, tapi ketiga politikus tersebut dianggap menonjol dan menjadi issue hangat ditengah masyarakat. Hasrat politik para politikus juga lebih semarak terlihat dimedia media sosial, seperti twitter, instagram, facebook dan media sosial lainnya.

Selain dari ketiga politisi tersebut, sosok politikus yang juga gencar memanfaatkan dunia maya dalam berselancar politik yaitu Ganjar Pranowo yang kini menjabat Gubernur Jawa Tengah dan Ridwal Kamil, Gubernur Jawa Barat. Begitu juga Anis Baswedan, meskipun belum terlalu proaktif, juga terlihat tak ketinggalan melakukan berbagai maneuver politik sebagai bagian dari komunikasi politik.

Di berbagai daerah pun mulai bermunculan tokoh masyarakat dan politisi melakukan sosialisasi politik, termasuk di Palembang, untuk menggantikan posisi Harnojoyo sebagai Walikota. Tokoh-tokoh masyarakat dan para politisi dengan gencar melakukan tebar pesona melalui media media sosial.

Pesan Komunikasi Politik
Setiap partai tentu saja memiliki strategi dan agenda politik untuk meraih cita cita dan keinganan partai. Apa yang telah dilakukan oleh partai dan para politisi tersebut merupakan bagian program political message (pesan politik) untuk memperoleh tiket dalam panggung suksesi tahun 2024.

Bahkan beberapa lembaga survey telah melakukan survey dan jajak pendapat terhadap para politisi tersebut, dan tentu saja dengan mencantumkan politisi lain, seperti Prabowo Subyanto, dan lain lain untuk memotret dan memperoleh gambaran seberapa besar peluang dari masing-masing politisi tersebut.

Pesan komunikasi politik menjadi bagian penting dalam menyampaikan program program partai politik. Dalam merancang pesan komunikasi tentusaja harus mempertimbangkan banyak faktor dengan meilhat situasi yang ada. Pesan komunikasi yang disampaikan dapat membangun persepsi posititif maupun negatif.

Dalam perspektif pemasaran politik, sosialisasi paling tidak mengandung tiga makna antara lain, pertama menyampaikan informasi yang berkaitan dengan program partai dan figur sebagai kader partai; kedua mempengaruhi publik untuk menyukai program partai dan figur yang diusung sehingga nantinya diharapkan dapat meningkatkan popularitas atau bahkan elektabilitas dan yang terakhir, mengingatkan publik atau calon pemilih akan keberadaan atau existensi partai maupun figur tertentu.

Persoalan paling penting dalam hal ini adalah bagaiamana partai politik dan politisi membangun
narasi dari pesan komunikasi selama pandemic dimana situas nya berbeda dengan ketika kondisi normal. Jangan sampai pesan komunikasi yang dibangun justru akan menimbukkan antipati dari masyarakat atau publik.

Respon publik dari berbagai pengamatan yang ada, banyak kalangan menganggap Partai termasuk politikus tersebut tidak peka dengan kondisi yang ada. Seharus nya partai dan politikus tersebut lebih fokus dengan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Hal seperti ini akan menciptakan persepsi publik yang kurang baik dan tentu saja hal ini akan merugikan partai politik maupun politikus itu sendiri. Kita juga mengakui bahwa partai partai dan kader partai juga telah banyak berbuat, yang berkaitan dengan sosialisasi maupun membantu secara langsung masyarakat atau konstituen yang terdampak covid-19.

Catatan penting bagi partai dan politikus atau tokoh mayarakat ketika merancang pesan politik (political message) baik melaui media komunikasi, seperti billboard, baleho, maupun media sosial harus mampu membangun emphati publik bukan justru menimbulkan antipati publik. #

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...