Ultimate magazine theme for WordPress.

Perjuangan Kapten A Rivai: Bukan Sebatas Nama Jalan Saja

Oleh: Dedi Irwanto
(Sejarawan di Universitas Sriwijaya Palembang)

Kapten A Rivai adalah anak Pesirah Marga Semendawai Suku II, Pangeran Harun. Beliau berasal dari Cempaka, Onderafdeeling Komering Oeleo.

Sebagai anak pasirah Beliau mengenyam pendidikan di HIS Palembang (sekarang SMPN 1 Palembang). Baru saja menyelesaikan HIS tahun 1938 serta dilanjutkan ke MULO 1938-1941 dan bekerja sebagai juru tulis di kantor kontrolir pada Onderafdeeling Komering Oeloe, Jepang masuk.

Pada tahun 1943, pemerintah penduduk Jepang mendirikan Pendidikan Gyu-Gun Kamboe (Pendidikan PETA untuk wilayah Sumatera). Dua orang tokoh pada waktu itu, Abdul Rozak sebagai wedana Muara Enin dan Bay Salim sebagai kepala PU Lahat menganjurkan agar pemuda anak pasirah yang minimal tamatan sekolah HIS mendaftar untuk dididik di Gyu-Gun. Maka anak-anak pasirah tamatan HIS, banyak yang mendaftar ke Gyu-gun ini, salah satunya adalah A. Rivai.

A. Rivai mendapat pendidikan Gyu-Gun selama 3 tahun, 1943-1945. Bersama para kader Gyu-Gun lainnya seperti Hasyim Alamlah, Hasan Kasim, Bambang Utoyo, Haroen Sohar, M. Simbolon, Noerdin Panji, Alamsyah Ratuperwiranegara, Dani Effendi, Animan Achyat, Muhammad Nuh, Makmun Murod, Abunjani, Barlian, A. Bastari,  Zurbi Bustan, dll.

Setelah menyelesaikan pendidikan Gyu-Gun, A. Rivai mendapat pangkat Gyui Syoi (setingkat Letnan Dua). Kemudian bersama kawan-kawan lainnya, beliau ditempatkan di kantor militer Jepang, Dai Ichi Shotaitjo sampai menjelang kemerdekaan.

Berita kekalahan Jepang dan pembentukan BPKR (Badan Pembantu Keamanan Rakyat) yang berpusat di Yogyakarta waktu itu menyebar. Sehingga para eks-Gyu Gun di Palembang selanjutnya membentuk BPKR di Palembang untuk mengawasi pelucutan senjata tentara jepang yang dilakukan di bekas sekolah Mizuho Gakuen (HIS zaman Belanda, sekarang SMPN 1 Palembang) oleh mantan perwira Gyu Gun, termasuk Gyui Syoi A. Rivai.

Baca:  Nisan Kuno di Muara Cawang, Lahat Selatan Ditemukan

Markas utama BPKR Palembang selanjutnya dipusatkan di Gedung Methodist Jalan Tengkuruk. Pada 13 Nopember 1945 BPKR Palembang dirubah menjadi BKR dengan struktur pimpinan yang lebih jelas dari BPKR.
Pada struktur pimpinan BKR Palembang, Gyui Syoi A. Rivai, menduduki posisi strategis sebagai Kepala Divisi Keamanan.

Pimpinan BKR Palembang saat itu sendiri dijabat oleh Gyui Syoi Hasan Kasim dengan wakilnya Gyui Syoi Mohammad Rifai. Jabatan dibawah pimpinan langsung dibagi pada kepala divisi (pembantu pimpinan).

Salah satunya dipegang oleh Gyui Syoi A. Rivai. Selain itu ada Gyui Syoi Dani Effendi Kepala divisi Perlengkapan, Gyui Syoi R. Abdullah sebagai kepala divisi persenjataan,  Gyui Syoi P. Hutagalung sebagai kepala divisi organisasi, Gyui Syoi Bambang Utoyo sebagai kepala divisi pendidikan dan latihan.

Ketika BKR berubah ke TKR dan menjadi Sub Komandemen Sumatera Selatan (Subkoss) Divisi Garuda, Gyui Syoi A. Rivai dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Satu. Lettu. A. Rivai ditempatkan sebagai wakil Brigade Garuda Merah Pertempuran (BGMP) sebagai wakil komando di bawah Mayor Iskandar.

Sebagai wakil komando BGMP Subkoss dan kepala divisi keamanan BKR, Beliau bertanggung jawab pada keamanan pasukan BGMP Subkoss yang sedang siap bertempur menjelang peristiwa perang 5 hari 5 malam. Ketika mulai terjadi kontak senjata awal pada tanggal 28 Desember 1946, Lettu A. Rivai memeriksa pasukan yang berkontak senjata di jalan Pagaralam, sekitar Charitas. Beliau dengan keberaniannya mengendarai sepeda motor menuju medan tempur di sana.

Namun tak dapat dihindari, ketika beliau mendekat ke lokasi sebuah peluru  menembak bahu kanan beliau yang membuat terlempar dari motor. Pasukan TKR yang sedang bertempur kemudian mengamankan beliau ke Klinik dr. Ibnu Sutowo Jalan Dempo.

Baca:  SMB IV Ajak Semua Kalangan  Untuk Ungkap Narasi Sejarah di Palembang

Sebagai perwira yang melindungi segenap prajuritnya, peristiwa ini tidak membuat beliau jerah. Selama perawatan beliau terus mengumpulkan berbagai informasi keadaan tentara BKR yang sedang menghadapi situasi hangat menjelang perang 5 hari 5 malam.

Pada tanggal 1 Januari 1947, Belanda mulai melakukan serangan membabi buta ke berbagai pelosok Palembang. Mendengar hal ini, Lettu A. Rivai sebagai kepala divisi keamaan pimpinan TKR gelisah. Belum pulih dari perawatan dan dalam keadaan masih terluka, Beliau mengajak Letda Aziz yang baru dirawat semalam untuk untuk bergabung dengan pasukan di Sungai Jeruju tanpa sepengetahuan perawat dan kepala klinik.

Namun, saat itu pasukan Sungai Jeruju sebagai markas BGMP mendapat serangan luar biasa dari Belanda. Lettu A. Rivai yang baru tiba langsung mengendalikan pasukan BGMP.  Selanjutnya mengumpulkan pasukan untuk menyusun rencana perlawanan balik ke Belanda.

Besoknya, tanggal 2 Januari 1947, perang kemudian kembali berkecamuk hebat di Sungai Jeruju dan Lettu A. Rivai memimpin langsung di garis depan. Tapi, sebuah montir yang ditembakan Belanda, tepat meledak di dekat Belaiu. Beliau terlempar ke Sungai Jeruju dan jasad beliau baru diketemukan keesok harinya mengapung di Sungai Musi dekat pipa kilang minyak Stanvac Plaju.

Baca:  CPI Gelar Diskusi Peninggalan Jepang di Palembang

Beliau wafat sebagai kesuma bangsa pada hari kedua, 2 Januari 1947 tepat di hari kedua perang 5 hari 5 malam di Palembang. Pangkat beliau dinaikkan satu tingkat dari Lettu ke Kapten.

Sayangnya, Pemprov Sumsel baru “hanya” menghargai Beliau sebagai sebuah nama jalan saja. Sayangnya juga, jalan ini mestinya lebih panjang lagi, muali dari bukit kecil, awal nama jalan Beliau, yang seharusnya tidak berhenti di lampu merah charitas saja. Namun harus terus memanjang hingga ke Boombaru. Karena sepanjang jalan inilah napak tilas perjuangan heroik beliau.

Selain itu, di tengah terpahan dunia maya di kalangan generasi muda saat ini. Sosok-sosok heroik ke pahlawanan di Sumatera Selatan, terutama Palembang. Semakin memudar dibenak generasi muda. Pada saat yang sama tulisan tentang jejak kepahlawan di Sumatera Selatan, termasuk sosok Kapten A. Rivai semakin jarang dituliskan. Apalagi dirancang untuk dijadikan Pahlawan Nasional.

Oleh sebab itu, ke depan mestinya, Pemprov Sumsel melalui Diknas Sumsel atau Dinparbud Sumsel, mulai merancang untuk membuat serial penelitian dan penulisan sejarah tokoh-tokoh “besar” pejuang kemerdekaan Sumsel, terutama masa revolusi fisik di Palembang.

Tokoh-tokoh ini adalah orang hebat yang keteladanannya harus terwariskan menembus zaman. Melalui penelitian, penulisan dan pembukuan  yang kontinuitas, maka keteladanan mereka dapat tetap terpatri ke generasi muda. Sehingga ketokohan mereka selalu mampu menjadi pengingat kebesaran perjuangan masyarakat Sumsel secara umum dan menjadi penyemangat dikalangan generasi muda untuk berprestasi dan mengharumkan Sumsel, seperti halnya para pahlawan ini. #

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...