Ultimate magazine theme for WordPress.

Presiden Jokowi Minta Jumlah Tes Covid-19 Ditingkatkan, Sepekan Terakhir Malah Turun

Palembang, BP – Pemerintah Indonesia dalam rapat terbatas awal pekan ini telah mematok target tes sekitar 324 ribu orang per hari, hanya untuk di Jawa dan Bali.

Dalam rapat terbatas tersebut, Presiden Joko Widodo meminta bawahannya untuk meningkatkan jumlah tes Covid-19.

“Kami sendiri akan terus meningkatkan testing ini seusai arahan Menko dan Presiden sampai 300-400 ribu per hari yang penting kita tahu supaya kita tangani cepat,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada jumpa pers di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (02/08).

Namun bukan malah naik jumlah tes Covid-19 malah menurun sepekan terakhir. Padahal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memerintahkan tes ditingkatkan hingga 400 ribu sehari, sementara jumlah tes di 34 provinsi Indonesia hanya berkisar di angka 200 ribu per hari.

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyebut rasio tes pekan ini berada di angka 4,01 per 1.000 penduduk per minggu. Angka itu turun tipis dari pekan sebelumnya.

“Kita lihat testing rate nasional sudah berada pada 4,01:1000 penduduk per Minggu. Angka ini turun sedikit dari minggu lalu yang mencapai 4,03 per 10000 penduduk,” kata Nadia dalam jumpa pers daring di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (04/08).

Dari data yang dipaparkan Nadia, tes Covid-19 yang dilakukan Indonesia pun tidak merata. Beberapa daerah melakukan tes jauh dari target yang dicanangkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 1:1.000 penduduk per minggu.

Misalnya, DKI Jakarta yang melakukan tes dengan rasio 14,9:1.000 penduduk per pekan. Contoh lainnya adalah Daerah Istimewa Yogyakarta yang melakukan tes dengan rasio hingga 15,3:1.000 per minggu.

Di saat yang sama, ada tiga provinsi yang tidak mampu melakukan tes Covid-19 sesuai standar minimal WHO. Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku sama-sama mencatat rasio tes 0,9:1.000 penduduk per pekan.

Angka positif atau positivity rate Indonesia juga terlampau tinggi. Rata-rata positivity rate dalam sepekan terakhir berada di angka 25,2 persen. Padahal, positivity rate ideal menurut WHO maksimal 5 persen.

Sementara itu, Pemerintah belakangan mengklaim Indonesia telah melampaui puncak kasus covid seiring menurunnya angka kasus positif.
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai Jawa dan Bali belum melewati puncak pandemi Covid-19.

Dicky mengatakan hanya angka absolut harian Covid-19 yang menunjukkan tren penurunan. Namun hal itu juga dikarenakan jumlah testing yang naik turun dan belum sesuai target minimal 300 ribu orang sehari.

“Secara pemodelan yang menurun itu laporan kasusnya, tapi testingnya juga menurun. Jadi sekarang untuk Jawa-Bali itu masih di puncak kasus infeksi, belum melandai,” pungkasnya. #ric

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...