Ultimate magazine theme for WordPress.

Dampak Perang Jawa di Jawa Timur

Palembang, BP- AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia) kembali menggelar diskusi Historia.AGSI #3 yang kali ini bertajuk Menelusuri Dampak Perang Jawa di Jawa Timur. Diskusi yang dipandu oleh Lilik Suharmaji itu menghadirkan nara sumber Aprilia Nur Hasanah dan Harmaji, sejarawan Jawa Timur, Jumat (30/7).

Aprilia Nur Hasanah yang memang orang asli Jember bahkan masa kecilnya juga pernah mengalami sebagai pekerja anak di perkebunan tembakau Jember mengulas tentang pekerja anak di zaman kolonial Belanda  dan masa sekarang. Sedangkan Harmaji, sejarawan asli Trenggalek ini memaparkan perkebunan di Trenggalek serta dampak sosial ekonomi yang terjadi pada rakyat Trenggalek.

Adanya Perang Jawa walaupun berlangsung lima tahun (1825-1830) ternyata menguras pundi-pundi keuangan Kolonial Belanda untuk biaya operasional perang menghadapi Pangeran Diponegoro di Jawa. Untuk mengatasi kesulitan keuangan itu pemerintah Belanda di Eropa kemudian mengangkat Johanes van den Bosch (1830-1870)  sebagai gubernur jenderal. Strategi yang diterapkan van den Bosch adalah memberlakukan tanam paksa di tanah jajahan. Tanaman yang diwajibkan untuk ditanam rakyat harus tanaman yang laku dipasaran Eropa seperti kopi, tembakau, tebu, karet, teh dan lain sebagainya. Karena kebijakan itu disertai dengan kebijakan koersif akhirnya program tanam paksa sukses luar biasa sehingga dapat menutup kas yang dulunya kosong bahkan surplus.

Baca:  Sejarah Sebagai Sapujagat

Tentu saja kesuksesan van den Bosch ini mendapat pujian setinggi langit dari orang-orang Belanda di Eropa, sehingga Bosc dipuja bak seperti dewa. Tetapi disisi lain seiring dengan kesuksesan tanam paksa, kaum liberal di negeri Belanda mengktirik keras kebijakan tidak manusiawi yang dilakukan orang-orang Belanda di tanah jajahan. Mereka terus mendesak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan baru untuk memperbaiki rakyat di tanah jajahan yang semakin menderita, tandas Lilik Suharmaji untuk memantik diskusi.

Untuk itulah keluar UU Agraria dan UU gula yang kemudian membuka pintu seluas-luasnya para pengusaha perkebunan untuk berinvestasi di Jawa dan daerah lain di Indonesia. Pengusaha yang berminat membuka perkebunan dan pabriknya itu tidak hanya orang-orang Belanda tetapi ada Cina, Jepang, Amerika dan para bangsawan yang memiliki modal besar. Tentu saja tamanan yang ditanam di perkebunan itu yang laku di pasaran Eropa seperti kopi, teh, tebu, tembakau, karet, kakao dan sebagainya, tambah Lilik.

Dengan dibukanya industriperkebunan untuk pihak swasta inilah kemudiaan di daerahJember dan Trenggalek dibuka perkebunan yang dikelola oleh pihak swasta. Di Jember seorang warga negara Belanda keturunan Scotlandia yang bernama George Birnie merintis perkebunan tembakau dan kemudian mengalami kesuksesankarena daerah Jember memang cocok untuk tanaman tembakau. Hasil tembau Jember mendunia hingga sampai sekarang.

Baca:  Respon Atas Wacana Penyederhanaan Kurikulum Yang Tidak Berpihak Pada Sejarah

Dalam merekrut para pekerja tembakau, Birnie ini memang akrab dengan rakyat kecil dan dia tidak melibatkan para pejabat terkait sehingga perilaku ramah Birnie ini mendapat sambutan hangat dari rakyat Jember. Awalnya yang direkrut laki-laki kemudian para wanita turut serta dan akhirnya anak-anak juga dipekerjakan di perkebunan tembakau itu, kata Aprilia.

Tugas anak-anak di bawah umur dalam bekerja itu mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan dari hama, memanen, menjemur dan mendistribusikan ke gudang-gudang. Tentunya pekerjaan anak-anak itu dipilihkan pekerjaan yang ringan-ringan saja yang memang bisa dilakukan oleh anak-anak. Dalam hasil risetnya Aprilia mengatakan  di perkebunan Jember yang mempekerjakan anak-anak dan sampai sekarang masih diwariskan anak-anak Jember disebabkan karena kemiskinan, lapangan kerja sempit, pendidikan rendah dan tidak kalah mirisnya karena rendahnya kesadaran orang tua terhadap hak-hak anak. Bahkan ada pameo yang sampai sekarang masih terdengar “Anak jika ingin makan maka harus bekerja dulu”, tandas Aprilia.

Sementara itu Harmaji mengulas perkebunan tebu, kelapa, kopi, cengkeh yang ada di Trenggalek. Menurtu Harmaji, makin berkembang pesatnya industri  perkebunan di Trenggalek berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan para petinggi dan pejabat setempat. Bahkan di dalam koran yang berbahasa Belanda sebagai sumber primer disebutkan karena mudahnya mendapatkan uang para petinggi itu suka berfoya-foya seakan-akan tidak ada hari esok. Bahkan kuda-kuda mereka dihiasi dengan logam berlapis emas termasuk menghias istri-istri mereka dengan emas berlian.

Baca:  Kepengurusan AGSI Sumsel Periode 2019-2022 di Lantik

Sikap berfoya-foya itu diperparah dengan dilegalkannya candu jenis opium di tengah-tengah masyarakat Trenggalek. Akibatnya karena mereka kecanduan orang-orang  kaya banyak yang jatuh miskin dan yang miskin semakin sengsara hidupnya. Permasalahan sosial tersebut diperparah dengan berbagai krisis ekonomi dan krisis yang lain seperti adanya wabah flu Spanyol, kejahatan dimana-mana di wilayah Trenggalek, tanaman kopi banyak yang mati karena hama jamur, dan gizi buruk yang melanda rakyat sehingga banyak orang tua, remaja dan anak-anak yang meninggal dunia, pungkas Harmaji.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...