Ultimate magazine theme for WordPress.

Kisah Dinding Tipis yang Memisahkan Dua Lautan, Berikut Penjelasannya

Palembang, BP – Bagi umat muslim pasti sering mendengar kisah tentang perjumpaan Nabi Musa dan Nabi Khidir di tempat bertemunya dua laut yang berbeda.

Dalam Al-Qur’an Surat al-Kahfi ayat 60, laut dua warna yang berada di Selat Gibraltar ini di sebut dengan مجمع البحرين atau majma’ al-bahrain yang artinya tempat pertemuan dua laut.

Nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab Jabal Thariq yang berarti gunung Thariq. Nama ini merujuk pada Jendral Muslim Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol pada tahun 711 M. Selat ini menghubungkan antara Lautan Mediterania dan Samudra Atlantik serta memisahkan Maroko dan Spanyol.

Allah SWT berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’”

Ada beberapa pendapat ulama tentang keberadaan tempat pertemuan dua lautan ini.

Salah satunya, menurut Muhammad bin Ka’ab yang dimaksud dengan مجمع البحرين atau majma’ al-bahrain pada ayat di atas adalah Tonja/ Tangier (طنجة). Tonja adalah salah satu kota di Maroko yang berbatasan langsung dengan negara Spanyol. Keterangan ini sebagaimana yang di sebutkan dalam kitab Tafsir Al-Baghawi. Orang Maroko menyebutnya Cap Spartel dalam bahasa Prancis.
Fenomena alam yang aneh di Selat Gibraltar ini telah membuat semua orang takjub sekaligus mengundang decak kagum dunia. Jangankan masyarakat awam, kalangan akedemisi pun di buat terheran-heran dengan keberadaan laut ini. Sebab, bagaimana mungkin satu laut memiliki warna yang berbeda dan tidak tercampur sama sekali.

Allah SWT menjelaskan tentang fenomena pertemuan dua laut yang berbeda ini dalam surat ar-Rahman ayat 19-22, dan al-Furqon ayat 53.
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. ar-Rahman [55]: 19-22)

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. al-Furqan [25]: 53)

Terkait dua lautan itu. Para ilmuan dari seluruh dunia berlomba-lomba untuk meneliti mencari penjelasan mengenai keanehan yang terjadi di Selat Gibraltar ini. Banyak dari kalangan akademisi yang mencoba mengkolerasikan penemuan ini dengan keterangan dalam Al-Qur’an.

Penjelasan secara fisika modern terkait fenomena ini baru ada di abad 20 M oleh ahli-ahli Oseanografi (Ilmu tentang segala aspek yang berhubungan dengan kelautan). Fenomena ini disebut halocline.

Halocline adalah sebuah zona vertikal di dalam laut dimana kadar garam berubah dengan cepat sejalan dengan perubahan kedalaman. Perubahan garam ini akan mempengaruhi kepadatan air sehingga zona ini kemudian berfungsi sebagai dinding pemisah antara air asin dan air tawar.
Menurut penjelasan para ahli kelautan seperti William W Hay, guru besar Ilmu Bumi di Universitas Colorado, Boulder, AS dan mantan dekan Sekolah Kelautan Rosentiel dan Sains Atmosfer di Universitas Miami, Florida AS, serta Prof Dorja Rao, seorang spesialis di Geologi Kelautan dan dosen di Universitas King Abdul-Aziz, Jeddah, air laut yang terletak di Selat Gibraltar tersebut memiliki karakteristik berbeda, baik dari kadar garamnya, suhu maupun kerapatan air laut(densiti).

Seperti dijelaskan dalam surah al-Furqan [25] ayat 53, yang satu bagian rasanya tawar dan segar, sedangkan bagian lain rasanya asin lagi pahit.
Untuk warna juga berbeda, terlihat dengan jelas mana air yang berasal dari Lautan Atlantik, dan mana air yang berasal dari laut tengah. Air laut dari Samudera Atlantik berwarna biru lebih cerah. Sedangkan air laut dari Laut Tengah berwarna lebih gelap. Dan antara keduanya, tak pernah saling bercampur, seolah ada dinding tipis yang memisahkanya.

Dinding pemisah itu bergerak di antara dua lautan dan dalam Al-Qur’an dinamakan dengan barzakhun (pemisah) yakni pemisah antara dua pasukan. Dengan adanya pemisah ini setiap lautan memelihara karakteristiknya sehingga sesuai dengan makhluk hidup (ekosistem) yang tinggal di lingkungan itu.
Fenomena bertemunya dua air laut namun tidak saling bercampur ini juga disebabkan karena gaya fisika yang disebut ‘tegangan permukaan’. Para ahli kelautan menemukan bahwa air dari laut-laut yang bersebelahan memiliki perbedaan massa jenis. Karena perbedaan massa jenis ini, tegangan permukaan mencegah dua lautan untuk saling bercampur, seolah-olah terdapat dinding tipis yang memisahkan keduanya.

Karena adanya dinding pemisah dan perbedaan warna itu pula, hewan yang hidup di laut berwarna kebiruan dan asin, tak bisa hidup di laut yang airnya tawar. Demikian pula sebaliknya. Masyaallah. #rid/net

Palembang, BP – Bagi umat muslim pasti sering mendengar kisah tentang perjumpaan Nabi Musa dan Nabi Khidir di tempat bertemunya dua laut yang berbeda.

Dalam Al-Qur’an Surat al-Kahfi ayat 60, laut dua warna yang berada di Selat Gibraltar ini di sebut dengan مجمع البحرين atau majma’ al-bahrain yang artinya tempat pertemuan dua laut.

Nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab Jabal Thariq yang berarti gunung Thariq. Nama ini merujuk pada Jendral Muslim Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol pada tahun 711 M. Selat ini menghubungkan antara Lautan Mediterania dan Samudra Atlantik serta memisahkan Maroko dan Spanyol.

Allah SWT berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’”

Ada beberapa pendapat ulama tentang keberadaan tempat pertemuan dua lautan ini.

Salah satunya, menurut Muhammad bin Ka’ab yang dimaksud dengan مجمع البحرين atau majma’ al-bahrain pada ayat di atas adalah Tonja/ Tangier (طنجة). Tonja adalah salah satu kota di Maroko yang berbatasan langsung dengan negara Spanyol. Keterangan ini sebagaimana yang di sebutkan dalam kitab Tafsir Al-Baghawi. Orang Maroko menyebutnya Cap Spartel dalam bahasa Prancis.
Fenomena alam yang aneh di Selat Gibraltar ini telah membuat semua orang takjub sekaligus mengundang decak kagum dunia. Jangankan masyarakat awam, kalangan akedemisi pun di buat terheran-heran dengan keberadaan laut ini. Sebab, bagaimana mungkin satu laut memiliki warna yang berbeda dan tidak tercampur sama sekali.

Allah SWT menjelaskan tentang fenomena pertemuan dua laut yang berbeda ini dalam surat ar-Rahman ayat 19-22, dan al-Furqon ayat 53.
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. ar-Rahman [55]: 19-22)

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. al-Furqan [25]: 53)

Terkait dua lautan itu. Para ilmuan dari seluruh dunia berlomba-lomba untuk meneliti mencari penjelasan mengenai keanehan yang terjadi di Selat Gibraltar ini. Banyak dari kalangan akademisi yang mencoba mengkolerasikan penemuan ini dengan keterangan dalam Al-Qur’an.

Penjelasan secara fisika modern terkait fenomena ini baru ada di abad 20 M oleh ahli-ahli Oseanografi (Ilmu tentang segala aspek yang berhubungan dengan kelautan). Fenomena ini disebut halocline.

Halocline adalah sebuah zona vertikal di dalam laut dimana kadar garam berubah dengan cepat sejalan dengan perubahan kedalaman. Perubahan garam ini akan mempengaruhi kepadatan air sehingga zona ini kemudian berfungsi sebagai dinding pemisah antara air asin dan air tawar.
Menurut penjelasan para ahli kelautan seperti William W Hay, guru besar Ilmu Bumi di Universitas Colorado, Boulder, AS dan mantan dekan Sekolah Kelautan Rosentiel dan Sains Atmosfer di Universitas Miami, Florida AS, serta Prof Dorja Rao, seorang spesialis di Geologi Kelautan dan dosen di Universitas King Abdul-Aziz, Jeddah, air laut yang terletak di Selat Gibraltar tersebut memiliki karakteristik berbeda, baik dari kadar garamnya, suhu maupun kerapatan air laut(densiti).

Seperti dijelaskan dalam surah al-Furqan [25] ayat 53, yang satu bagian rasanya tawar dan segar, sedangkan bagian lain rasanya asin lagi pahit.
Untuk warna juga berbeda, terlihat dengan jelas mana air yang berasal dari Lautan Atlantik, dan mana air yang berasal dari laut tengah. Air laut dari Samudera Atlantik berwarna biru lebih cerah. Sedangkan air laut dari Laut Tengah berwarna lebih gelap. Dan antara keduanya, tak pernah saling bercampur, seolah ada dinding tipis yang memisahkanya.

Dinding pemisah itu bergerak di antara dua lautan dan dalam Al-Qur’an dinamakan dengan barzakhun (pemisah) yakni pemisah antara dua pasukan. Dengan adanya pemisah ini setiap lautan memelihara karakteristiknya sehingga sesuai dengan makhluk hidup (ekosistem) yang tinggal di lingkungan itu.
Fenomena bertemunya dua air laut namun tidak saling bercampur ini juga disebabkan karena gaya fisika yang disebut ‘tegangan permukaan’. Para ahli kelautan menemukan bahwa air dari laut-laut yang bersebelahan memiliki perbedaan massa jenis. Karena perbedaan massa jenis ini, tegangan permukaan mencegah dua lautan untuk saling bercampur, seolah-olah terdapat dinding tipis yang memisahkan keduanya.

Karena adanya dinding pemisah dan perbedaan warna itu pula, hewan yang hidup di laut berwarna kebiruan dan asin, tak bisa hidup di laut yang airnya tawar. Demikian pula sebaliknya. Masyaallah. #rid/net

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...