Udara di Sumsel Terasa Lebih Dingin, Ini Penjelasan BMKG Terkait Fenomena Bediding

54

Palembang, BP – Udara di beberapa daerah di Indonesia beberapa hari terakhir lebih dingin dari biasanya. Sehingga membuat masyarakat pun bertanya-tanya fenomena apa yang tengah terjadi saat ini.

Pertanyaan masyarakat pun dijawab oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum lama ini dan mengatakan fenemona tersebut sebagai hal yang biasa terjadi.

Seperti dilansir dari unggahan Instagram resmi BMKG @infobmkg pada Jumat (09/07), dikatakan bahwa pada saat ini wilayah Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau, yaitu mulai Juli hingga Agustus atau September.

Pada saat inilah suhu menjadi terasa lebih dingin, yang orang Jawa istilahkan sebagai “bediding”. Tak hanya di Jawa, fenomena bediding juga dialami di beberapa wilayah di Indonesia.

Wilayah yang biasanya mengalami fenomena bediding merupakan wilayah yang tipe hujannya monsunal, yaitu yang pola hujannya mengalami puncak di sekitar bulan Desember-Januari-Februari dan mengalami kondisi kering (hujan minimal) pada Agustus-September-Oktober. Wilayah yang termasuk tipe hujan monsunal yakni pada Indonesia bagian selatan seperti Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, Pulau Bali NTB NTT.

Fenomena ini banyak dipengaruhi oleh dinamika dan atmosfer fisis dekat permukaan bumi, dan hal yang biasa terjadi setiap tahun.

1. Posisi matahari

Saat ini posisi matahari relatif sedang berada di belahan bumi utara (BBU), sehingga BBU menerima radiasi matahari yang lebih besar, dibandingan wilayah belahan bumi selatan (BBS). Akibatnya, suhu udara rata-rata di BBS menjadi lebih rendah dibandingkan di BBU.

2. Angin monsun musim dingin Australia

Pada bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering.

Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia (dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia).

Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut, juga relatif lebih dingin.
Akibatnya, suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa terasa juga lebih dingin.

3. Musim kemarau

Berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, turut diikuti berkurangnya kandungan uap air di atmosfer.
Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas.

Rendahnya kandungan uap di atmosfer ini, menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumipada malam hari, tidak tersimpan di atmosfer tetapi langsung dilepaskan dengan maksimal ke angkasa.

Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan. #ric