Penimbunan Keramasan Untuk Kawasan Perkantoran Pemprov Sumsel Berpotensi Menimbulkan Banjir

77

Dr Momon Sodik Imanudin

Palembang, BP–Penimbunan keramasan untuk kawasan baru terpadu Pemprov Sumatera Selatan (Sumsel) masih terus menimbulkan kontoversi.

Pasalnya, penimbunan tersebut dinilai jauh dari sosialiasi kepada masyarakat dan tidak memperhatikan aspek lingkungan.

Ahli hidrologi atau teknik sumber daya air Dr. Momon Sodik Imanudin saat ditemui mengatakan sebagai warga palembang dirinya ingin sekali pemerintah dalam hal pembangunan itu selalu memperhatikan lingkungan terlebih palembang ini kota rawa yang fungsinya secara hidrologis itu menampung air.

“Kalo rawa itu makin hari makin habis kan tentunya akan kesulitan di kemudian hari terutama bahaya banjir akan menghantui kita, oleh karena itu mulai dari sekarang kita harus mengedukasi bagaimana pembangunan dan reklamasi rawa yang berwawasan lingkungan,” ujarnya, Selasa (13/07).

Baca:  Aktifis: Penimbunan Keramasan Berpotensi Rugikan Negara Puluhan Milyar

Akademisi Universitas Sriwijaya (UNSRI) ini juga mengajak pemerinah untuk bersama-sama menata kembali itu, jika sudah kejadian yang ditimbun maka harus dipersiapkan sistem drainase kawasan, katanya namanya reklamasi itu tidak hanya kepentingan drainase yang ada di lahan itu tetapi juga harus memperhatikan sisi lingkungannya.

“Jangan sampai akibat pembangunan kita maka kawasan2 sekitarnya itu jadi banjir belum lagi kita inikan harus pelopori bahwa palembang itu pernah memperoleh predikat terbaik dalam penanganan drainase, jangan sampe predikat ini malah tidak ada kembali,” tuturnya.

Baca:  Izin Lingkungan Penimbunan Keramasan Melanggar Berbagai Aturan

Terkait kasus penimbunan keramasan tersebut, Momom sangat menyayangkan karena dibangun sebelum adanya sistem drainase yang berpotensi menimbulkan banjir atau genangan di tengah-tengah masyarakat.

“Itulah disayangkan timbunan sudah dilakukan terhadap rawa, fungsi rawa yang ditimbun tadi harus dikembalikan, maka pembangunan selanjutnya adalah pembangunan dreinase atau long storoge,” sambungnya.

Dia mengatakan jangan sampai nanti air hujan itu jatuh ke 40 hektare tadi semuanya itu menjadi sumber dari aliran permukaan yang nanti akan berceceran kemana-mana, pasti nanti masuk kepada lahan-lahan yang belum ditimbun dan lama-lama akan mengalir kepada saluran-saluran ataupun sungai-sungai alam yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Baca:  Izin Lingkungan Penimbunan Keramasan di Gugat ke PTUN Palembang

“Sekarang sudah ditimbun maka harus ada usaha zonasi, pemblokiran air yang di area timbunan itu jangan sampai lari ke area perkampungan masyarakat,” sambungnya.

“Kalo drainase itu tidak dibangun segera, artinya dikhawatirkan terjadinya kenaikan genangan. Kalaupun tidak dikategorikan banjir karena mungkin banjir itukan prosesnya tidak hanya dari situ sumbernya ada dari sumber-sumber lain, tapi paling tidak ada kontribusi volume air yang masuk ke wilayah itu,” pungkasnya. #ric