Pengguna Medsos Dihimbau Bangun Demokrasi dengan Cerdas

18

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Wilayah Sumatera 1 di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) yang dilaksanakan secara gratis dengan difasilitasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI), Sabtu (10/7).(BP/IST)

Palembang, BP- Peran media sosial (medsos)juga meningkatkan peran serta masyarakat dalam demokrasi. Nah, bagaimana cara membangun demokrasi di medsos? Topik ini pula yang dipilih dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Wilayah Sumatera 1 di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) yang dilaksanakan secara gratis dengan difasilitasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI), Sabtu (10/7).

Webinar dengan moderator Ayu Irti Batul Qolby menampilkan empat narasumber di antaranya Dr Gushevinalti M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi dan Penggiat Literasi Digital), Cecep Nurul Alam ST MT (Bidang Ahli ICT Kopertais II Jawa Barat, Kepala Divisi e-Learning), Dr Meita Istianda SIP MSi (Direktur Universitas Terbuka Palembang) serta Firdaus Komar MAP (Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sumsel). Bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOY) yakni Seera Safira (News Presenter, Journalist Tv One, Moderator/MC).

Diketahui, webinar ini dimulai pukul 09.00 dibuka oleh moderator Irman Heryana. Kemudian menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI.

Baca:  Pelajaran Agama Tak Lagi Menegangkan Karena Ada Literasi Digital

Pada kesempatan ini Firdaus Komar memaparkan tentang materi Undang-Undang (UU) Pers terkait dengan keberadaan media mainstream dan medsos. Disebutkan oleh Firdaus bahwa media mainstream itu dalam mengumpulkan data tetap mempergunakan medsos namun dalam melakukan olah berita tetap dengan mengedepankan kaidah-kaidah dan azas sesuai dengan fakta dan data.

Hal ini diakui oleh Firdaus karena media mainstream atau media massa yang mainstream itu tetap mengedepankan prosedur yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Pers. Sementara medsos itu biasanya tidak disertai dengan kaidah-kaidah yang seperti itu.

Menurut Firdaus, media massa itu berupaya bagaimana literasi masyarakat untuk tetap mendapatkan info yang benar dan bisa memilah-milah mana info yang bersifat positif maupun negatif. Hal ini dengan tujuan agar masyarakat tidak terjebak pada eufhoria langsung mengshare di medsos. Berita-berita di medsos yang belum belum pasti kebenarannya karena biasanya di medsos itu data tidak valid.

“Media massa juga dalam bekerja atau melaksanakan tugasnya tetap tidak lepas dari media sosial karena sebagai salah satu sumber informasi tercepat namun dalam mengolah data di medsos jadi sebuah berita tetap dengan mengedepankan kaidah-kaidah,” kata Firdaus.

Baca:  Literasi Digital  Bisa Perkuat Karakter Kebangsaan

Terkait peran membangun demokrasi di medsos, diakui Firdaus sebagai fungsi corong informasi, media mainstream juga berperan besar. Dia mencontohkan pelaksanaan Pemilihan Umum baik di tingkat pemilihan Presiden, Legislatif sampai ke pemilihan kepala desa (kades), media meanstream tetap menjalankan kontrolnya sebagai media penyampai informasi.

“Tentunya dengan tetap mengedepankan fakta dan data yang akurat. Hal ini penting supaya tidak terjebak pada berita opini yang bersifat subjektif dan tidak akurat. UU Pers jelas mengatur itu,” kata Firdaus.

Pada kesempatan ini moderator juga memberikan kesempatan para peserta untuk bertanya kepada keempat narasumber. Di antaranya Wahyu Erlangga yang pertanyaannya ditujukan kepada Gusti tentang bagaimana orang tua memfilter anak-anaknya menggunakan medsos terkait dengan sistem pembelajaran yang masih daring saat ini karena pandemi virus corona atau coronavirus disease 2019 (covid-19).

Sementara narasumber Gusti memberikan solusi bahwa sebagai orang tua ada baiknya menggunakan PIN untuk Android anaknya. Sehingga orang tua bisa mengontrol kapan ponsel anaknya itu digunakan dan kapan tidak digunakan, atau ketika sudah digunakan untuk melakukan daring, belajar secara daring mereka akan terkontrol.

Baca:  InI Tips dan Trik Jadi Youtuber Positif dan Produktif

“Setelah itu anak masih tetap menggunakan gawai untuk hal-hal yang positif ataupun yang negatif,” pungkas Gusti.

Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel menyebutkan, webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti 308 orang peserta dari kalangan mahasiswa dan aktifis organisasi.

Untuk webinar selanjutnya diselenggarakan Senin, 12 Juli 2021 dengan tema “Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital” yang bakal menghadirkan empat narasumber berkompeten, di antaranya Dr Ir Soni Trison SHut MS (Akademisi IPB), Mariana RA Siregar (Akademisi Bidang Komunikasi), Drs Maju Partogi Simanjuntak MSi (Kepala SMP Negeri 19 Palembang/Plt Kasi Kurikulum Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Palembang) dan Novi Yusliani MT (Dosen TI Unsri). #osk