Ultimate magazine theme for WordPress.

Rektor UIBA: Selamat Jalan Tokoh Reformasi Sumsel

Chairil Syah dan Tarech Rasyid (BP/IST)

Palembang, BP–Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah sahabat Chairil Syah, salah satu tokoh reformasi Sumatera Selatan, hari ini, pukul 08.20  di rumah sakit Jakarta.

Menurut Rektor Universitas IBA (UIBA) , Tarech Rasyid , berita duka ini disampaikan Muhammad Chalid, mantan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, saat saya konfirmasi tentang berita wafatnya sahabat Chairil Syah yang juga dikenal sebagai Direktur LBH Palembang.

Kesedihan atas kepergiannya menggigit dinding hati. Karena terlalu banyak kenangan pahit dan manis bersama Chacha, begitu sapaan akrab di kalangan gerakan masyarakat sipil di Sumatera Selatan.

“Pada suatu siang, kalau tak keliru tahun 1991, ChaCha datang ke Taman Budaya Sriwijaya (TBS) yang kini telah berubah menjadi Palembang Squere, salah satu pusat bisnis di kota Palembang. Saat itu, seniman kota Palembang (Anwar Putra Bayu, Connie Sema, JJ. polong, Yunen Asmara, Warman, Memed, Taufik Wijaya, alm. Koko Bae, alm.Marah Halim, Harno, Yan Syarif, Maman Kumbu dan lain lain) yang tergabung dalam Kelompok Studi Kebudayaan Kali Musi (KSKKM) kebetulan sedang berkumpul. Kemudian kami berbicara tentang membangun gerakan sosial. Hal ini berkaitan dengan gerakan-gerakan protes yang dilakukan seniman. Dan, Chacha menawarkan kantor LBH Palembang dapat digunakan untuk kegiatan diskusi,” katanya, Senin (5/7).

Baca:  Putri Bungsu Bayumi Wahab Wafat

Kemudian akhir tahun 1992, kalau tak salah ingat, pameran lukisan Sathosi Sako yang digelar KSKKM dibubarkan oleh Mandor TBS. Alasannya gedung mau dipakai kongres PGRI. Seniman melakukan perlawanan. Akhirnya, pameran lukisan itu dibuka dan ditutup dengan protes ala seniman (baca puisi, lagu dan orasi), lalu pameran lukisan dipindahkan ke UNSRI atas jasa baik alm. Prof. Dr. Amran Halim. Dari sinilah cikal bakal gerakan sosial baru di Sumsel.

Seniman di kota Palembang berpindah markas dari TBS ke LBH Palembang. diskusi-diskusi tentang seni, budaya, bahkan politik digelar. Mulai bergabung Darto Marelo, Ucup Akar, Vebri Al Lintani, juga mahasiswa seperti Yan Iskandar, Yogi, Jamila, Yeni, Ade, Rina Bakrie dan lain-lain.

“Saya dan Chacha berdiskusi tentang eksistensi WALHI Sumsel. Lalu, menggagas berdirinya lembaga. Sekitar tahun 1993-1995, berdiri Yayasan Kuala Merdeka, Yayasan Orde, Yayasan OWA, Forum Pembelaan Hak Asasi Manusia (FOPHAM) Forum Komunikasi Budaya (FKB), Forum Komunikasi Mahasiswa Sumatera Selatan (FOKMASS). Bersama organisasi masyarakat sipil inilah dengan menggandeng organisasi lingkungan seperti wigwan melakukan restrukturisasi WALHI Sumsel yang kemudian dipercayakan kepada Jamilah sebagai Direktur. Namun, Jamila mundur. Saya dan Chacha sepakat digantikan dengan Nurkholis,” katanya.

Pada tahun 1995, dirinya rapat dengan Chacha untuk mendirikan KIPP Sumsel setelah ditelpon oleh Mulyana W. Kesuma.

Baca:  Rektor Universitas IBA: Berlebihan Tuding Munarman Terlibat Terorisme

“Chacha meminta saya untuk memimpin KIPP Sumsel. Sebetulnya, saya menolak karena saat bersamaan saya memimpin PUDI Sumsel yang ditunjuk Sri Bintang Pamungkas. Chacha tetap meminta saya memimpin KIPP Sumsel. Lalu, saya katakan: “Baik saya pimpin KIPP Sumsel sampai Pemilu 1997. Setelah itu, kita serahkan dengan Munarman. Chacha sepakat,” katanya.

Gerakan Masyarakat Sipil Sumsel senantiasa merespon situasi politik kala itu dengan menggelar aksi-aksi, juga isu-isu lokal yang berkaitan dengan sengketa lahan, lingkungan hidup, penegakan hukum, hak asasi manusia, baik hak anak, hak perempuan, hak buruh, maupun demokrasi. Selain itu, Chacha menggagas Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI)yang lebih fokus membela hak-hak politik PDIP. Berkaitan dengan ini, Gerakan Masyatakat Sipil Sumsel demontrasi di kantor PDI-Pro Suryadi mendukung PDI-Pro Mega.

Gerakan Masyarakat Sipil di Sumsel, kemudian menjelma menjadi gerakan reformasi yang kemudian muncul gerakan reformasi mahasiswa di Sumsel. Gerakan reformasi ini makin mengental usai mahasiswa Trisakti tewas ditembak.

Melihat perlunya komunikasi dan aksi yang satu tujuan, maka saya dan Chacha di ruang Direktur LBH Palembang berdiskusi untuk membuat Forum Komunikasi Gerakan Reformasi Sumatera Selatan. Forum ini kemudian melibatkan tokoh-tokoh Sumsel dan dosen dari beberapa Perguruan Tinggi di kota Palembang.

Baca:  Rektor Universitas IBA: Berlebihan Tuding Munarman Terlibat Terorisme

“Usai Orde Baru tumbang, Adjis Saib mendatangi LBH Palembang, dia menawarkan agar saya, Chacha, Febuar Rahman, Munarman, Nurkholis, Suharyono, Inggaris, M. Yamin, Anwar Putra Bayu, JJ. Polong, dan lain-lain. Pendek kata seluruh aktivis dan TPDI Sumsel bergabung ke PDI-P dan calon DPR RI, DPRD Provinsi, Kota atau kabupaten. Saat itu, semua menolak. Saya tetap memimpin PUDI, ChaCha dan Febuar Rahman mau merintis karir pengacara di Jakarta. Sedangkan Anwar Putra Bayu memilih karir sebagai penyair dan JJ. Polong memilih tetap sebagai dosen dan gerakan petani. Sedangkan Suharyono memilih sebagai Direktur LBH Palembang. Yang bergabung di PDIP saat itu, Gantada, Maizano, M. Yamin, Dharmadi,” katanya.

Tentu masih banyak kisah yang tak tercatat bersama Chacha. Sebulan yang lalu, kita sempat bertemu di kantormu, sembari menunggu Apenk.

“Lalu, kita makan malam bersama. Itulah pertemuan kita yang terakhir.
Semoga engkau ditempatkan pada surgaNya.

Selamat jalan Chacha, kami tetap mengenangmu dan pasti kangen dengan kelakarmu,” katanya.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...