Ultimate magazine theme for WordPress.

Calon Pemimpin Palembang Kedepan Miliki Sense Of Crisis Yang Tinggi Hadapi Covid-19

Suasana Diskusi Publik “Pemimpin Ideal Palembang, Siapo ?” Di Hotel The Zury Palembang, Sabtu (3/7).(BP/IST)

Palembang, BP- Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), HM Giri Ramanda N Kiemas mengungkapkan, calon pemimpin Palembang ke depan adalah yang memiliki sense of crisis yang tinggi.

“Terlebih seperti menghadapi masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, terutama Kota Palembang yang mengandalkan pendapatan dari sektor perdagangan dan jasa. Saya bisa memaklumi jika jadi pemimpin Palembang saat ini dilematis. Satu sisi ingin meningkatkan pendapatan daerah tapi disisi lain ingin warganya sehat dan terhindar dari penularan pandemi Covid-19,” kata Giri saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik “Pemimpin Ideal Palembang, Siapo ?” Di Hotel The Zury Palembang, Sabtu (3/7).

Selain itu menurut politisi PDI Perjuangan ini  pemimpin yang ideal untuk Kota Palembang adalah sosok yang mengerti Kota Palembang. Kedua, memiliki program untuk kesejahteraan masyarakat dan bisa mengayomi masyarakat.

“Itulah syarat menjadi Walikota Palembang yang baik. Jadi tau kota Palembang, tahu bagaimana mengatasi permasalahan kota Palembang, dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga Palembang,” katanya.

Ketika ditanya mulai banyak sosok sosok yang bermunculan yang siap maju si Pilkada Kota Palembang, Giri menuturkan, kalau sekarang figur yang muncul semua masih pencitraan. Pada tahun 2023 mereka mulai bicara program programnya .

“Mudah mudahan apa yang dicitrakan, itu yang dilaksanakan. Kan kita punya perjalanan, apa yang kita citrakan hari ini, begitu terpilih jangan lupa apa yang dijalani masa lalu. Itulah beratnya kalau membuat pencitraan, jika bukan karakternya tapi karena hanya ingin menang melakukan sesuatu. Setelah menang lupa yang pernah dicitrakannya,” kata wakil Ketua DPRD Sumsel ini.

Menurutnya, siapapun Walikota Palembang kedepan. Buatlah program yang benar benar dibutuhkan masyarakat. Sehingga keberhasilannya itu akan terus diingat oleh masyarakat,” kata Giri.

Sedangkan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumsel Mgs Syaiful Padli menilai meski pemilihan kepala derah kota Palembang masih 3 tahun lagi (2024), sosok calon Walikota penerus Harnojoyo sendiri sudah ramai tersiat dan menjadi topik hangat untuk terus dibicarakan.

Sekretaris Fraksi PKS DPRD Sumsel ini melihat, tantangan pemimpin ke depan lebih kompleks. Salah satunya upaya pengentasan angka kemiskinan yang menyumbang tingkat kemiskinan terbesar bagi provinsi Sumsel.

“Kalau mau berbicara secara jujur, sampai saat ini untuk urusan program dalam membangun Palembang, belum ada yang bisa menggantikan sosok dari seorang Eddy Santana Putra (mantan Walikota Palembang),” kata Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel ini.

 

Maka dari itu, kedepan pemimpin Palembang harus bisa membawa Palembang dengan gagasan dan ide, agar Palembang menjadi kota lebih maju.

Pengamat politik Sumsel, Bagindo Togar menyebut calon pemimpin, haruslah tahu apa persoalan inti Kota Palembang yang urgen.

 

“Ini yang menyedihkan ada calon pemimpin yang hendak mencalonkan diri menjadi calon Walikota Palembang justru tidak mengetahui jumlah penduduk dan jumlah kelurahan yang ada di Palembang,” sebut Bagindo.

 

Di kesempatan itu, Bagindo berharap agar meniru sistem demokrasi di Negara Swiss yang membangun sisten dengan pemikiran yang realistis

Sedangkan Sekretaris DPW PAN Sumsel, Joncik Muhammad, yang menyebut Palembang ke depan haruslah memiliki seorang strong leader, dan yang lebih penting haruslah mempunyai ukuran moral yang jelas.

“Palembang dengan jumlah penduduk sekitar 1,8 juta memiliki multi permasalahan. Yang harus diselesaikan, diskusi semacam ini perlu terus dilaksanakan. Yang perlu diingat pemimpin juga tidak melulu harus punya modal banyak, ideal pada integritasnya,” kata  yang kini menjabat sebagai Bupati Empat Lawang ini.

Sementara itu, Sekretaris DPD Partai Golkar Sumsel Herpanto  menilai calon pemimpin yang ideal kota Palembang,  sebenarnya sederhana dia tahu apa potensi yang terkandung di kota Palembang. Kemudian dia tau, apa dampak akibat pembangunan kota Palembang. Masalah ekonomi politik sosial budaya ini adalah potensi yang terjadi perubahan termasuk perubahan-perubahan yang yang berdampak seperti biasanya hilangnya usaha di bidang pertanian.

“Kemudian terjadinya urbanisasi penduduk,  itu masalah tapi dari masalah ini akan menimbulkan potensi potensi ekonomi dan lapangan pekerjaan,” katanya.

 

Menurutnya penambahan jumlah penduduk, kemungkinan akan berdampak kepada persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari ada banjir, ada saluran yang mampet dan lain sebagainya. Tapi bagi Walikota yang kreatif ini suatu potensi untuk dikembangkan.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...