Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Pelajaran Agama Tak Lagi Menegangkan Karena Ada Literasi Digital

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 seri ke-15 Wilayah Sumatera 1 Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), Kamis (1/7). (BP/IST)

Palembang, BP- Dampak positif transformasi digital ternyata ikut dirasakan kalangan pesantren dan lembaga pendidikan Agama Islam lainnya. Pelajaran Agama tidak lagi menjadi sesuatu yang menegangkan karena adanya literasi digital yang menambah daya tarik khususnya bagi milenial masa kini dengan pemanfaatan gadget/gawai.

 “Keterbatasan dalam sarana prasarana pesantren seperti kitab-kitab atau terjemahan tidak lagi menjadi kendala dalam pembelajaran, karena dapat memanfaatkan fasilitas internet,” beber Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Palembang H Deni Priansyah SAg MPdI yang diwakili Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kota Palembang Drs H Hermansyah SE MM, narasumber pamungkas Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 seri ke-15 Wilayah Sumatera 1 Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), Kamis (1/7).

Menurut Hermansyah, agar mampu beradaptasi dengan transportasi digital, para santri dapat dibiasakan membuat konten untuk menambah pengalaman belajar sehingga santri menjadi lebih kreatif dan terampil memanfaatkan media.

Lebih lanjut dia mengemukakan, standar literasi media online di lingkungan Kemenag Republik Indonesia (RI) mencakup prinsip dalam memproduksi pesan/berita, etika mendistribusikan informasi, menjamin adanya akurasi berita yang terpercaya dan komitmen anti hoaks, adanya semangat amar ma’ruf nahi munkar, azaz hikmah dalam dakwah, prinsip dalam interaksi virtual dan prinsip kekebasan.

“Misal prinsip dalam memproduksi pesan, kita mesti melakukan verifikasi (tabayyun dan tahaqquq) terhadap berita atau informasi, melakukan konfirmasi (taakud) terhadap berita atau informasi. Lalu etika distribusi informasi berupa memastikan bahwa informasi yang disebarluaskan mampu memberikan kebermanfaatan dan tidak menimbulkan perdebatan,” katanya.

Baca:  Mewujudkan Misi IKM Yang  Berdaya Saing Tinggi di Era Digital

Sebelum kesempatan Hermansyah berbicara di depan para peserta webinar yang hadir secara virtual, moderator yang memandu acara yakni Kartika Sari juga menghadirkan tiga narasumber lainnya masing-masing Habib Musthofa bin Idrus al Khirid (Pengajar Ponpes Anwaruttauhid Batu, Malang), Ir Makmur Solahudin MEng (Penasehat Ikatan Alumni Program Habibie) dan Dr Hj Izzah Zen Syukri SPd MPd (Manager Ponpes Muqimus Sunnah).

Dalam pemaparan berjudul “Hati-Hati dengan Jari”, narasumber ketiga Izzah Zen Syukri menyampaikan materi cukup ringkas namun padat berisikan motivasi dan nasehat bagi penggiat dakwah Islam, tenaga pendidikan di lingkungan ponpes dan madrasah di tengah era digital seperti saat ini.

“Kalau dulu, dunia maya itu cenderung dianggap makruh dan haram oleh pribadi atau kelompok tertentu khawatir terprovokasi dan terjerumus pada kemaksiatan. Kini, saya malah katakan ‘wajib’ hukumnya untuk promosi memperkenalkan diri berdakwah dan menerangi umat,” katanya.

Menurut dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri) ini, mengapa kebaikan mesti disembunyikan. Kebaikan justru harus didakwahkan, dipromosikan secara berjamaah, berjam’iyah dan istiqomah (konsisten).

“Para pimpinan ponpes dan madrasah harus percaya diri dan melek teknologi agar mendapat tempat di hati masyarakat. Kita harus mampu mengimbangi konten-konten porno, radikal, provokasi dan cenderung memecah belah umat. Ponpes atau madrasah harus berani menyatakan dirinya menguasai teknologi, piawai bidang akuntansi, serta punya unit usaha atau bisnis yang bisa berdiri di atas kaki sendiri dan bisa bersedekah,” tandas Izzah.

Baca:  Serba Digital Menuntut Guru Kreatif

Dalam sesi tanya jawab, kolom chat webinar menampung banyak pertanyaan yang cukup kritis ditujukan kepada masing-masing narasumber. Kemudian dipilihlah oleh moderator dan penyelenggara webinar empat peserta yang berhak menyampaikan pertanyaan secara langsung muka via virtual kepada narasumber. Peserta terpilih ini pula dinyatakan beruntung hingga mengantongi hadiah tunai.

Di antara sekian banyak pertanyaan, ada Makmur yang menanyakan bagaimana program pengenalan literasi digital bagi santri, terutama dalam sisi pembelajaran dan penggalian ilmu agar tetap dapat berdaya saing dengan para siswa yang sehari-hari dekat dengan digitalisasi.
Kemudian ada Obi Dwintan yang menanyakan cara agar kita mengedukasi/mengingatkan user untuk selalu menggunakan software original daripada software abal-abal yang terkesan murah ataupun gratis, terkait keamanan software itu sendiri.

Kian sengit, Kholil Abdullah, seorang peserta webinar bertanya kepada Izzah Zen Syukri.
“Bagaimana sebaiknya berdakwah melalui media sosial sedangkan ada banyak pengguna yang acuh pada konten yang bertemakan islami. Adakah teknik yang dapat digunakan dalam berdakwah melalui media sosial yang bisa masuk ke semua elemen masyarakat, pengguna media sosial khususnya,” katanya.

Tidak hanya pertanyaan, bahkan ada salah seorang peserta yang berkonsultasi kepada Izzah Zen Syukri terkait keinginan memasukkan anaknya ke Ponpes Muqimussunah. Hanya saja dia ragu lantaran si anak takut menjalani pendidikan di ponpes yang dikabarkan dengan miring bahwa pendidikan di ponpes kerap diwarnai kekerasan.

Baca:  Pendidik di Tuntut Cerdas dan Cakap Digital

Usai mempersilakan keempat narasumber menanggapi empat pertanyaan dari masing-masing penanya. Kemudian moderator Kartika Sari menyapa Key Opinion Leader (KOL)
Adetyaa, pengusaha @therealfood.jkt, @trfhomemade_beeclub, HDI Executive Diamond.
“Apapun yang kita lakukan di dunia digital, jika tidak diisi dengan nilai akademis yang bermuatan edukasi maka dampak yang dihasilkan oleh media digital tersebut juga menjadi sangat kurang,” katanya.

Webinar ini sendiri dimulai pukul 09.00 WIB dibuka oleh moderator Kartika Sari. Kemudian menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar ini dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI.

Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel menyebutkan, webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti 267 orang peserta dari kalangan tenaga pendidik. Selanjutnya untuk webinar keenambelas bakal diselenggarakan Sabtu, 3 Juli 2021 dengan tema “Menjadi Millenial yang Menjaga Nilai-Nilai Pancasila di Media Sosial” yang tentunya bakal kembali menghadirkan empat narasumber berkompeten.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...