Di Balik Konflik AS-IRAN Semakin Memanas

63

Palembang, BP-Cikal Bakal perselisihan Amerika Serikat dan Iran bermusuhan ketika adanya insiden pasca-kematian Jenderal Qasem Soleimani masih terus berlanjut.

Qasem Soleimani, pemimpin pasukan al-Quds Iran, tewas setelah dihantam rudal oleh pesawat nir-awak AS di Bandara International Baghdad, Jumat (3/1/2020) silam.

Peristiwa itu sangat memicu kemarahan besar, baik dari masyarakat maupun Pemerintah Iran.

Sebagai balasan, iran menyerang markas militer AS di Irak pada Rabu (8/1/2020) dini hari.

Tak hanya persoalan itu saja kian memanas, iran juga menyatakan telah keluar dari kesepakatan nuklir pada tahun 2015 lalu.

Intermezo ke belakang, sejak kapan perselisihan AS-Iran ini dimulai ?

Mahasiswa Program Studi Politik Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang Muhammad Yunizar mengatakan, seyogyanya hubungan AS-Iran dari dahulu tak pernah harmonis hubungan diplomasinya ketika sejak Revolusi Islam Iran pada tahun 1979.

Sebelum itu, AS memiliki hubungan yang sangat akrab dengan iran dan selalu mendukung Shah Mohammed Reza Pahlevi.
Bahkan, saat terjadinya merosot naik minyak besar-besaran yang dilakukan oleh negara-negara di Timur Tengah karena pendudukan Israel, Iran menjadi penyuplai minyak tetap AS.

Saat revolusi, mahasiswa Iran menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran selama kurang lebih 444 hari.

Dalam Ilmu Hubungan Internasional, menurut Muhammad Yunizar, kedutaan dalam suatu institusi negara seyogyanya harus dianggap sebagai ekspansi wilayah dari negara tersebut.

“Artinya, apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa Iran berarti sama dengan menduduki negara atau bisa dikatakan mereka telah melakukan langkah-langkah besar untuk kemajuan negaranya,“kata dia.
Hal itu diperburuk dengan memuncaknya skandal Iranian Gate, ketika Presiden AS Ronald Reagen diketahui menjual senjata kepada Iran tanpa perundingan Senat.
Ironisnya penjualan senjata tersebut dilakukan mellaui barter dengan tawanan AS pada tahun 1980.

Muhammad Yunizar mengatakan, atas terjadinya kejadian tersebut membuat AS sangat malu karena melanggar Undang-undangnya sendiri.
“Sebab bagi AS kan tentunya Ilegal, akhirnya kan malu sendiri AS karena melanggar UU yang telah dibuatnya,” ujar Muhammad Yunizar.

Gejolak cikal bakal terjadinya permusuhan antara AS-Iran dikarenakan dendam-dendam masa lalu, menurut dia, menjadi akar penyebab panasnya hubungan diplomatik AS-Iran hingga saat ini.

Akibat rasa dendam kian memuncak sehingga dilampiaskan dengan meroketnya suplai minyak, maka dari itu AS dan negara-negara sahabatnya tidak akan mensuplai minyak dari Iran.

Selain meroketnya harga minyak, AS juga menuding Iran tengah mengembangkan senjata nuklir.

“Sedangkan menurut Iran sendiri hal tersebut dilakukan karena kepentingan kemanusiaan, penerangan, dan Medis. Akan tetapi AS tidak percaya sampai Iran dikenakan hukuman atau Sanksi,”Kata Muhammad Yunizar”.

Pasang surut hubungan AS-Iran

Dalam perjalanannya, hubungan AS dan Iran diwarnai pasang surut. Berikut catatan hubungan kedua negara :

1953 – membantu pelengseran Perdana Menteri Iran kal itu, Mohammed Mossadeh dan memulihkan kekuasaan Shah Mohammmed Reza Pahlevi.

1957 – AS-Iran menandatangani perjanjian kerjasama nuklir sipil.

1967 – AS member Iran reactor nuklir dan senjata uranium.

1968 – Iran menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir yang mengizinkannya memiliki program niklir sipil sebagai imbalan atas komitmennya untuk tidak membeli senjata nuklir.

1979 – Revolusi Islam Iran memaksa Shah Reza Pahlevi yang didukung AS untuk melarikan diri. Setelah ayatollah Ruhollah Khomeini Kembali dari pengasingan dan menjadi pemimpin tertinggi Iran, ratusan orang menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera staffnya.

1980 – AS memutuskan hubungan diplomatik dengan Iraan, menyita asset Iran dan melarang hubungan dagang Iran, serta kegagalan misi penyelamatan sandera yang dipesan oleh Presiden Jimmy Carter.

1981 – Iran melepaskan 52 sandera AS beberapa menit setelah Carter turun dari Ronald Reagen dilantik sebagai presiden AS.

1984 – Iran melepaskan 52 sandera AS beberapa menit setelah Carter turun dan Ronald Reagan dilantik sebagai presiden AS.

1986 – Reagen mengungkap perjanjian senjta rahasia dengan Teheran yang melanggar embargo senjata AS.

1998 – Kapal perang AS Vincennes salah menembak pesawat penumpang yang terbang di atas Teluk Arab dan 290 penumpangnya meninggal.

2002 – Presiden George W Bush menyatakan Iran, Irak dan Korea Utara sebagai “poros kejahatan”. Para pejabat AS menuduh Teheran mengoperasikan program senjata nulir rahasia.

2006 – Washington mengatakan bersedia untuk bergabung dengan perundingan nuklir multilateral dengan Iran jika negara itu menangguhkan program nuklir.

2008 – Bush untuk pertama kalinya mengirim seorang pejabat untuk mengambil bagian secara langsung dalam negosiasi nuklir dengan Iran di Geneva.

2009 – Presiden Barack Obama memberitahu pemimpin Iran bahwa bersedia membantunya jika Iran melepas kepalan tangan mereka.

2009 – Inggris, Perancis dan AS mengumumkan bahwa Iran tengah membangun situs pengayaan uranium rahasia di Fordow.

2012 – Hukum AS member Obama wewenang untuk menjatuhkan sanksi kepda bank asing jika mereka gagal mengurangi impor minyak Iran secara signifikan. Penjualan minyak Iran pun anjlok dan memicu kemerosotan ekonomi.

2013 – Hassan Rouhani terpilih sebagai presiden Iran dan memiliki tujuan untuk meningkatkan hubungan Iran dengan dunia.

2013 – Pada bulan September, Obama dan Rouhani berbicara melalui telepon, kontak tertinggi antara dua negara dalam tiga dekade terakhir.

2013 – Pada bulan November, Iran dan enam negara besar menandatangani kesepakatan nuklir dalam fakta Joint Plant of Action. Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

2016 – Iran melepas 10 pelaut AS di perairan territorial Iran; AS dan Iran melakukan pertukaran tahanan.

2018 – Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir dan menerapkan kembali sanksi ekonomi kepada Iran.

2019 – AS memasukkan Korps Pengawal Revolusi Iran ke dalam daptar organisasi teroris pada bulan April.

2019 – AS memasukkan Korps Pengawal Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris pada bulan April.

2019 – Iran meningktkan produksi uranium dan membatalkan komitmennya pada perjanjian nuklir.

2019 – Pada bulan Juni Iran menembak jatuh pesawat tak berawak AS yang disebut sedang berada di wilayah udara Iran; Iran merebut kapal tanker minyak Inggris.

2019 – Pada bulan September, perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco diserang oleh drone dan rudal yang diyakini berasal dari Iran. Teheran membantah terlibat dalam serangan itu.

2019 – Pada bulan Desember terjadi serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak yang menewaskan seorang warga AS. AS menyalahkan sekelompok milisi yang didukung Iran dan melakukan aksi balasan dengan menembak pangkalan-pangkalan militer Iran.

2019 – Milisi yang didukung Iran melakukan aksi protes di luas Kedutaan Besar AS di Baghdad dan menyerbu pos keamanan.

2020 – Jenderal top Iran Qasem Soleimani meninggal dalam serangan udara AS yang dilakukan atas arahan Donald Trump. #zar