Bangkitkan Semangat Nasionalisme dan Cinta Tanah Air Melalui Digitalisasi

11

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (29/6).(BP/IST)

Palembang, BP- Kemajuan pesat teknologi digital saat ini di seluruh negara membawa berbagai dampak perubahan. Tidak terkecuali Indonesia. Perkembangan teknologi dan transformasi digital yang terjadi saat ini, membuat generasi muda Indonesia menjadi asing, dan seolah tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Interaksi sosial yang sebelumnya terjadi secara tatap muka, kini telah berubah ke arah digital. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan dan rasa nasionalisme kepada pemuda agar tidak melupakan identitas dan sejarah bangsa.

“Sebagai generasi muda bangsa Indonesia, kita harus membangkitkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air melalui digitalisasi penggunaan internet yang cerdas,” kata Endang Larassati Lelasari ST SH MKn, narasumber kedua Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (29/6).

Di hadapan ratusan peserta webinar yang dipandu moderator Astrid Anggraeni, Sekretaris Karang Taruna Provinsi Sumsel ini membawakan materi dengan judul “Nasionalisme di Era Digital”. Lebih lanjut Endang menjelaskan, perlunya menumbuhkan karakter nasionalisme di kalangan pemuda sehingga dalam pemanfaatan informasi dapat mempertimbangan baik dan buruk demi kepentingan bangsa dan negara.

“Untuk membentengi kaum pemuda di era digital saat ini menjadi prioritas program kerja Karang Taruna yaitu pembentukan karakter dan sikap nasionalisme di kalangan pemuda. Antara lain menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa, memanfaatkan ilmu pengetahuan teknologi (iptek) untuk peningkatan taraf hidup, menghindari sikap apatis, terbuka pada pembaharuan dan perubahan, serta berorientasi pada masa depan, berprestasi, mandiri dan bertanggung jawab, serta siap berkompetisi dengan bangsa lain dan terlibat dalam kerjasama internasional,” katanya.

Selanjutnya narasumber ketiga, Harry Yogsunandar SIP MIKom merupakan seorang dosen di Fakultas Ilmu Komputer (Ilkom) Universitas Sriwijaya (Unsri). Senada Endang, Harry juga berpendapat bahwa digitalisasi telah menjadi pengaruh yang sangat luas pada budaya.

Penghargaan atas budaya yang berbeda menjadi modal utama dalam kompetensi memahami perubahan media dan budaya. Dalam ruang digital, budaya mendapatkan apresiasi. Tetapi tidak tertutup kemungkinan juga mengundang para individu yang melihat beragam kebudayaan dengan cara yang kurang tepat, ataupun cenderung menghakimi secara sepihak.

“Pertanyaannya adalah, apa yang tidak ada di dunia maya/siber seperti saat ini? Semua ada. Mulai dari pengetahuan atau informasi, hiburan, ilmu pengetahuan dan lainnya. Hanya saja hal ini pula yang menjadi tantangan di era digital. Sebagian kita tidak mampu memahami batasan kebebasan berekspresi dengan perundungan siber, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi yang mengarah pada segregasi sosial (perpecahan/polarisasi) di ruang digital,      tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital, termasuk tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi. Literasi digital adalah keharusan, dan kreatifitas tanpa batas adalah kewajiban,” katanya.

Selain Endang dan Harry, dalam webinar seri ketigabelas ini juga menghadirkan dua narasumber lainnya. Sebelum Endang, sebagai narasumber pertama ada Jimi N Mahameruaji MSi, dosen program studi (prodi) Televisi dan Film Ilkom Universitas Padjadjaran (Unpad). Dan narasumber keempat, Arief Rama Syarif ST MKom yang sehari-harinya bekerja sebagai Staf Ahli Bidang IT PT Prima Armada Raya.

Setelah keempat pemateri menyampaikan paparannya masing-masing sesuai durasi waktu yang ditetapkan penyelenggara, kolom chat dipenuhi hujan pertanyaan. Keempat pemateri pun kembali digilir untuk menanggapi empat penanya yang sudah dipilih oleh moderator dan penyelenggara webinar.

Webinar ini sendiri dimulai pukul 09.00  dibuka oleh moderator Astrid Anggraeni. Setelah menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar ini usai, dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI.

Kemudian moderator menyapa Key Opinion Leader (KOL) Wahyu Wiwoho, Senior Anchor Metro TV. “Apapun yang kita lakukan di dunia digital, jika tidak diisi dengan nilai akademis yang bermuatan edukasi maka dampak yang dihasilkan oleh media digital tersebut juga menjadi sangat kurang,” ujar Wahyu.

Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) menyebutkan, webinar mengambil tema

“Menjadi Mahasiswa Cerdas Digital” diikuti 301 orang peserta dari kalangan mahasiswa. Selanjutnya untuk webinar keempatbelas bakal diselenggarakan Rabu, 30 Juni 2021 dengan tema “Peran dan Fungsi E-Market dalam Mendukung Produk Lokal” yang bakal kembali menghadirkan empat narasumber berkompeten.#osk