Stop Wacana Presiden 3 Periode, Satu Periode Saja Sudah Pusing

16

JAKARTA–Hentikan wacana presiden 3 periode. Stop wacana amandemen pasal 7 UUD 1945. Jangan bermimpi 3 periode, satu periode saja sudah pusing.

Itulah benang merah yang dapat ditarik dari dialog di Realita TV, Selasa (22/6/2021), dengan narasumber Prof Dr Tjipta Lesmana, Dr Mulyadi, dan wartawan senior Ilham Bintang dengan presenter Rahma Sarita.

Wacana Presiden 3 periode yang digulirkan Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, baru-baru ini terus mendapat reaksi. Salah satunya adalah munculnya ulasan tulisan wartawan senior Ilham Bintang yang juga Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat.

Catatan IB dengan judul ‘Awas Sound Bite Presiden 3 Periode’ telah beredar luas di media online, termasuk Semangatnews.com yang tayang Senin, (21/6/2021).

Selasa tanggal 22/06 kemarin Realita TV mengulas isu yang sama dengan judul ‘Setujukah Anda Jokowi 3 Periode?’.

Pembicara pertama Prof Dr Tjipta Lesmana dengan tegas menyatakan menolak dan itu sangat bertentangan dengan konstitusi UUD 1945 khususnya pasal 7 yang telah membatasi jabatan Presiden Indonesia hanya 2 kali dengan periode 5 tahunan.

Menurut Prof Tjipta Lesmana, pakar komunikasi politik, Jokowi selaku presiden harus menyatakan secara resmi baik kepada publik maupun kepada partai pendukung, hentikan wacana presiden 3 periode, stop keinginan amandemen UUD 1945. Jangan biarkan wacana ini bergulir liar yang bisa mengganggu kondisi bangsa yang fokus menghadapi pandemi Covid-19.

Dari pengamatan Tjipta Lesmana, Jokowi memang sering tidak konsisten antara ucapan dan tindakan.

Pengalaman adalah tatkala Jokowi menjabat gubernur DKI, yang menyatakan tak terpikir mencalonkan jadi presiden. Sebab, ingin menuntaskan tugas dan janji sebagai gubernur. Eh, tak tahunya kepincut maju dan jadi.

Oleh karena itu, wacana presiden 3 periode ini bisa saja sama nasibnya dengan ketika menjabat gubernur DKI. Walaupun berkali kali dibantah lewat pembantunya, tapi apakah benar itu murni dari keinginan presiden? Tidakkah nantinya kenyataan menjadi lain.

Baik Prof Tjipta maupun Dr Mulyadi dan Ilham Bintang sangat meragukan tekad dan kemauan Jokowi, sepanjang belum ada pernyataan resmi dari Jokowi sendiri menghentikan wacana ini.

Demokrasi kita sedang sakit, keluh Tjipta Lesmana. Jika saja PDIP dan Gerindra bersatu ingin berbuat sesuatu di luar konstitusi sekalipun, pasti bisa mereka lakukan. Sebab hampir semua partai (kecuali PKS dan Demokrat) sudah berkoalisi dengan Jokowi.

“Memang politik itu sangat dominan mengubah sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin dan sebaliknya,” tukas Dr Mulyadi yang dosen Politik Pasca Sarjana UI.

Sementara Ilham Bintang menyatakan, wacana ini bisa saja tidak menjadikan Jokowi 3 periode, namun setidaknya paling meleset atau semati-mati angin; Jokowi adalah penentu siapa yang akan menjadi presiden berikutnya.

Menurut Dr Mulyadi, wacana presiden 3 periode adalah hal yang bertentangan dengan konstitusi. Bila ini menjadi kenyataan, rakyat akan bereaksi.

Sekarang mereka diam karena bangsa ini tengah menghadapi pandemi.

“Jangan bermimpi dan berobsesi 3 periode, satu periode saja rakyat sudah pusing,” ujar Mulyadi.

Ilham Bintang dalam dialog kemarin itu, kembali mengutip tulisannya. Biar saja peneliti Mohammad Qodari yang gencar mewacanakan presiden 3 periode menerima risiko dituduh sebagai intelektual yang asosial atau sejenisqorin zaman now.

Mengacu pada literatur Islam, qorin adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pada malaikat dan jin (golongan setan) yang mendampingi setiap manusia.

Istilah ini digunakan di dalam Alquran di mana dikatakan qorin itu mengikuti manusia sejak lahir hingga hayat dikandung badan. Kedua makhluk itu dianggap sebagai kembaran setiap manusia’.

Jin qorin ini bertugas mendorong man7sia dampingannya untuk berbuat hal yang berlawanan dengan kenyataan yang ada.

Ia juga membisikkan rasa was-was, melalaikan salat, berat ketika hendak membaca Alquran dan sebagainya.

Ia bekerja sekuat tenaga menghalangi dampingannya untuk setia pada amanah dan perduli kepada kesulitan masyarakat.

Untuk mengimbangi adanya pendamping jahat, Allah mengutus malaikat qorin yang selalu membisikkan hal-hal kebenaran dan mengajak membuat pada kebaikan.

Dalam beberapa hadits dikatakan jin qorin yang mendampingi Nabi Muhammad telah memeluk Islam, sehingga Rasul selalu terjaga dari kesalahan.

Manusia pada hakekatnya memang terdiri atas dua zat yang mendampinginya sepanjang hidup. Ada yang baik dan yang jahat. Dua zat inilah yang akan saling berperang, tarik menarik hingga banyak membuat manusia binasa karena lepas kendali.

Dalam konteks wacana presiden tiga periode ini kemungkinan qorin dalam tubuh Muhammad Qodari lah yang sekarang bergentayangan menggoda banyak pihak termasuk Jokowi.

“Sehingga ada WhatsApp yang masuk ke saya mengingatkan, bila ketemu Qodari perbanyak zikir”, sebut Ilham

Dalam bahasa komunikasi politik qorin ini bisa disetarakan fungsinya dengan sound bite.

Sound bite adalah terminologi yang digunakan oleh jurnalis televisi atau reporter radio yang mengangkat potongan pernyataan yang penting (Kaid & Haltz-Bach, 2008).

Menurut Lilleker (2005), sound bite merupakan satu garis kalimat yang diambil dari pidato atau pernyataan yang panjang atau dari seperangkat teks yang dapat digunakan sebagai indikasi dari pesan yang lebih besar.

Tentunya kita berharap Jokowi tidak mau terjebak dan merusak harapan banyak tokoh yang akan maju bertarung di Pilpres nanti. #duk