Platform Medsos Miliki Pasar Masing-Masing

14

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Wilayah Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (22/6).(BP/IST)

Palembang, BP– Di tengah menjamurnya kemunculan platform media sosial (medsos), baik yang lokal maupun yang mendunia. Kita tidak bisa hanya menggunakan satu media saja saat ini, karena setiap media sosial mempunyai pasar masing-masing.

Demikian disampaikan seorang konten kreator muda asal Palembang, Fikri Haikal selaku Key Opinion Leader (KOL) Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Wilayah Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (22/6).

Lebih lanjut komedian muda yang namanya melejit lewat Program Kelakar Betok, Studio 42 Pal TV ini mencontohkan, jika kita ingin mengincar pasar remaja maka Instagram menjadi pilihan, namun jika ingin mengincar pasar umur 40 tahun ke atas, mungkin Facebook dapat menjadi pilihan aplikasi media sosial yang digunakan.

“Sekarang masuk TV bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Justru yang dibutuhkan sekarang adalah kreativitas, personal branding dari diri kita karena media kekinian yang tersedia sudah sangat banyak,” tukas Fikri.

Usai menyapa dan berbincang sejenak bareng Fikri, moderator webinar Ayu Irti Baiitul Qolby mempersilakan empat narasumber untuk menyampaikan pemaparan.

Keempat narasumber masing-masing Asrul Sani ST MKom (Operational Manager PT Mega Laras Lestari), Anwar Sadat ST MT (Tenaga Ahli IT Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Auditor SMKI), H Hendri Zainuddin SAg SH MM (Ketua Umum Komite Olahrga Nasional Indonesia/KONI Provinsi Sumsel), Dr Herri Setiawan SKom MKom (Kepala BPT Universitas Indo Global Mandiri/UIGM Palembang).

Pemateri pertama, Asrul Sani menyampaikan materi dengan judul “Mahasiswa Produktif di Media Sosial”. Dia menguraikan, media sosial dapat digunakan untuk beberapa hal seperti berjualan online, belajar secara online, hiburan dan lain-lain. Media sosial dapat dioptimalkan untuk bisnis.

“Namun sebaiknya kita harus melihat dahulu aset yang kita miliki. Lalu kita harus mulai membuat profil bisnis yang kita buat. Hal selanjutnya adalah kita harus mulai me-manage bisnis dan branding yang kita buat. Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah membuat konten/produk yang memang menggambarkan diri kita. Pada intinya adalah pengenalan pada kemampuan diri serta pengenalan pada pasar yang dapat membuat produk kita diterima pasar,” katanya.

Baca:  Setiap Pengguna Medsos Punya Prinsip Kebebasan Bertanggungjawab

Lanjut pemateri kedua yaitu Anwar Sadat yang menyampaikan pemaparan singkat dengan judul “Memahami Cyber Safety”. Di antara uraian materinya, Anwar sempat menyinggung cyber attack yang diartikannya sebagai kegiatan ofensif dengan target sistem komputer/jaringan komputer/infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Ini dilakukan dengan identitas anonim, dengan tujuan merubah, mencuri atau menghancurkan target.

“Adapun prinsip keamanan informasi adalah kerahasiaan data/informasi, kepercayaan data/informasi dan ketersediaan data/informasi. Langkah pencegahan yang dapat diambil adalah verifikasi koneksi pertemanan, sadar apa yang diposting, selalu aman untuk diri dan selalu hati-hati dan profesional,” katanya.

Kemudian pemateri ketiga, Hendri Zainuddin menyampaikan materi berjudul “Menjadi Mahasiswa Produktif di Media Sosial”.

Mula-mula Presiden Sriwijaya FC ini menjelaskan mengenai budaya digital sebagai sebuah konsep yang membentuk perilaku manusia di dunia digital.

Pria kelahiran Palembang 4 Desember 1973 ini mengkategorikan media sosial kepada beberapa tipe yaitu media sosial berbasis proyek kolaborasi misalnya berbentuk website. Media sosial berbasis konten misalnya tiktok dan instagram. Situs berbasis media sosial contohnya Facebook dan Instagram. Sedangkan blog dan mikroblog adalah media untuk mengekspresikan curahan perasaan pengguna.

“Penggunaan media sosial saat ini sangat besar pengaruhnya untuk media mengekspresikan diri. Misalnya mahasiswa yang mempunyai potensi berdagang dapat memanfaatkan media sosial seperti instagram dan facebook untuk berjualan. Pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar,” katanya.

Baca:  Mewujudkan Misi IKM Yang  Berdaya Saing Tinggi di Era Digital

Pemateri terakhir, Herri Setiawan dalam materi berjudul “Etika Digital Menjadi Mahasiswa Produktif di Media Sosial” mengungkapkan, etika dalam komunikasi digital antara lain yang perlu diingat adalah selalu ingat bahwa tulisan adalah perwakilan dari kita. Yang kita ajak berkomunikasi adalah manusia.

Dia menyarankan, sebaiknya kita selalu mengendalikan emosi dan menggunakan kesantunan. Menggunakan tulisan dan bahasa yang jelas, menghargai privasi orang lain, menyadari posisi kita dan jangan memancing perselisihan.

“Adapun perilaku mahasiswa adalah sangat dekat dengan teknologi, lebih suka terhadap ide atau pemikiran baru, lebih mencari pengakuan dan terobsesi dengan hal nyata. Lebih percaya pada User Generated Content (UGC). Untuk mempersiapkan generasi milenial menghadapi tantangan kedepan, yang terpenting adalah menata karakter mereka,” tandasnya.

Selanjutnya dalam sesi tanya jawab webinar kali ini, kolom chat seolah dihujani banyak pertanyaan dari peserta. Seluruh narasumber pun kebagian jatah untuk menanggapi sejumlah pertanyaan peserta yang dipilih oleh moderator dan penyelenggara webinar. Salah satunya pertanyaan dari Rahyuni Sartika, seorang mahasiswa Universitas Bina Darma (UBD) Palembang ditujukan kepada narasumber keempat Herri Setiawan.

“Era digital memunculkan pertanyaan mengenai etika. Apakah etika yang dianut media selama ini masih relevan? Nilai dasar etika jurnalistik dibangun abad lalu, dan didesain bagi sebuah penerbitan koran yang dijual komersil ke publik, lalu bagaimana dengan mereka yang menyajikan berita secara gratis melalui portal, blog maupun media sosial lainnya? Apakah mereka terikat dengan etika jurnalistik?” tulis Rahyuni di kolom chat yang juga diberi kesempatan bertatap muka via virtual dengan narasumber Herri Setiawan.

Menanggapi pertanyaan di atas, Herri mengemukakan bahwa manusia akan terus berhubungan dengan etika sehingga sampai kapanpun etika akan relevan. “Setiap produk khususnya produk jurnalistik ketika akan disampaikan ke ruang publik tentu akan berkaitan dengan etika di dalamnya,” tegasnya.

Baca:  Pandemi Covid-19, Akses Media Digital Bermanfaat Untuk Promosi Budaya

Sebelumnya, di awal pembuka webinar seperti biasa dibuka dengan menayangkan video Keynote Speech pertama dari Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI).

Dilanjutkan sambutan dari Keynote Speech kedua yaitu Drs H Akhmad Najib SH MHum selaku Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel. Najib menuturkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel menyambut baik terselenggaranya Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital yang digagas Kemenkominfo RI.

“Kepemimpinan adalah sebuah tanggung jawab. Generasi muda identik dengan keberanian serta karakter yang dimiliki. Dalam kondisi saat ini kecepatan adalah kunci untuk mengatasi persaingan saat ini. Komunikasi menjadi penting sebagai bekal pemimpin milenial saat ini. Selain itu, sikap tanggap juga penting terkait cepatnya perubahan yang terjadi di sekitar kita. Hal ini agar kita tidak terperdaya oleh pesatnya perkembangan teknologi saat ini,” tutur Najib.

Sedangkan  Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel menyebutkan, webinar kemarin mengambil tema

“Menjadi Mahasiswa Produktif di Media Sosial” diikuti 473 orang peserta dari kalangan mahasiswa. Selanjutnya untuk webinar kesepuluh bakal diselenggarakan Kamis 24 Juni 2021 dengan tema

“Sukses Belajar Online dengan Kemampuan Literasi Digital” yang rencananya bakal menghadirkan empat narasumber berkomputen antara lain Dr Bukhori, Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al Azhar 33 Palembang serta KOL-nya seorang pegiat media sosial yang juga aktivis serta peraih Kartini Milenial Award 2020, Della Dwi Oktarina.#osk