Susno Ajak Bertani Dengan Teknologi

41

Komjen Pol (Purn) Susno Duadji didampingi Sultan Palembang Darussalam , Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo, Wikramo RM Fauwaz Diradja,tokoh seniman dan penyanyi legendaris Sumsel Beby Johan Saimima.(BP/IST)

Palembang, BP-Lama menghilang dari pentas nasional, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal  Polri, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji ternyata kini lebih banyak menekuni kegemarannya bertani.

Susno yang  merupakan tokoh masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) sekaligus Penasehat Utama Kesultanan Palembang Darussalam,  saat ini lebih banyak berada di Pagaralam terutama di Dempo Selatan dengan menjalani profesi sebagai petani.

“Bertani, berkebun , kesawah itulah gawean,” kata Susno saat didampingi Sultan Palembang Darussalam , Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo, Wikramo RM Fauwaz Diradja,tokoh seniman dan penyanyi legendaris Sumsel Beby Johan Saimima, Kamis (17/6).

 Dia melihat petani identik dengan keluarga miskin, identik dengan keluarga yang tertinggal dan identik dengan kesehatannya tertinggal , badan kotor, kulit kotor dan sebagainya.

Hal ini menurutnya terjadi karena petani  bertani secara konvensional, tidak ada perubahan .

“Kita harus mengubah itu, supaya menjadi petani itu bangga dan senang , untuk bangga dan senang itu  bertani itu harus dejaratnya  meningkat, pertama jangan miskin dan bertani dengan tehnologi, saya panen disini dekat bandara , manen padi tidak pakai tangan, pakai mesin  yang langsung keluar masuk dalam karung, “ katanya.

Menurutnya jika bertani tetap tradisional tetap miskin terus , karena pemerintah akan menjaga agar harga beras tidak boleh tinggi, harga gabah juga tidak boleh tinggi .

“ Berarti kita mempertahankan kemiskinan, tetap tanam padi tapi disamping padi  kita tanam tanaman yang ada nilai jual bagus , contohnya vanili, merica  atau sahang, kapulaga, porang, cabe, tomat yang cepat sekali dijual, jadi kalau kita lakukan ini Insya Allah duit ada , kopi boleh, nanam kopi tapi dijualnya jangan beras kopi , kalau jual beras kopi harganya Rp18ribu /19 ribu, kita dapat satu ton cuma Rp18 juta , dapat dua ton cuma Rp 36 juta , tapi kalau kopi kita jual  dengan kita sangrai bagus, di paking yang bagus dijual , karena mesin-mesin pembuat kopi di Starbuck dimana-mana  yang dipakai bukan kopi bubuk, kopi yang sudah di sangrai dimasukkan di mesin , kita jual itu, harganya mahal, “ katanya.

        Dan mensangrai kopi menurutnya  bisa dibuat beberapa berbagai kualitas seperti dark, soft, original dan diberikan campuran aroma pisang, cengkeh, vanili, jahe  dan di paking dengan bagus.

“ Maka  1 Kg harganya bisa Rp300 ribu sampai 400 ribu, bandingkan dengan  kopi Rp18 ribu tadi  dan itu merubahnya gampang, paking dapat di pesan kok, sangrai tidak perlu mesin yang hebat-hebat hanya homen industri, kalaupun kita mau buat kopi bubuk yang seperti itu sehingga  hindari menjual kopi dalam bentuk beras harganya bisa mahal, bayangkan kalau 1 Kg harganya Rp250 ribu, kalau 1 ton sudah Rp 250 juta a khan, 4 ton 1 miliar, jadi bertani  harus berpenghitungan ,” katanya.

Susno melihat watak petani Pagaralam tidak mau di ceramahi, karena petani merasa lebih pintar.

“ Jadi kita beri contoh, mereka mau datang, jadi kita buat tanaman yang nilai ekonominya tinggi, kalau nilai ekonominya rendah  kita kita buat jadi industri, mengubah  sehingga ada nilai tambah, industri akan merubah nilai, “ katanya.

Dia melihat kini sedikit-demi sedikit petani Sumsel terutama di Pagaralam sudah  berubah.#osk