Satu Abad Soeharto, “The Smiling General” 

24

Soeharto (IST/BP)

Jakarta, BP- Tepatnya pada 8 Juni 1921 menandai kelahiran seorang anak manusia yang kelak akan memimpin Indonesia dalam jangka waktu paling lama.
Keluarga Presiden RI ke-2, Soeharto menggelar acara doa bersama 100 tahun atau satu abad Presiden Soeharto.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Ketua MPR Bambang Soesatyo dan sejumlah tokoh agama hadir secara offline dalam acara tersebut.
di Masjid Agung At-Tin, TMII, Jakarta Timur (Jaktim) dan secara virtual zoom dan live streaming YouTube Cendana. Selasa, (8/6).

Acara yang dimulai dengan salat Asar berjemaah tersebut juga dihadiri secara ofline oleh anak-anakSoeharto, yakni Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek). Siti Hardijanti atau akrab disapa Tutut sebagai anak pertama memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Setiap tamu yang hadir dalam doa di Masjid At-Tin TMII menjalani dites swab antigen. Setiap duduk tamu yang hadir juga diatur dengan jarak sesuai protokol kesehatan.

Sepeeti diketahui Soeharto dijuluki the Smiling General, sosok bernama Soeharto itu dikenal dalam banyak kesan. Ada yang menganggapnya penuh jasa. Sebaliknya, ada juga yang menganggapnya banyak dosa. Hanya Allah SWT yang lebih memahami setiap hambanya.

Pria kelahiran Kemusuk, Yogyakarta, ini memang tak lepas dari kontroversi. Memulai karier di bidang militer sejak 1942, putra dari pasangan Sukirah dan Kertosudiro ini banyak masuk kesatuan, mulai dari KNIL di zaman Belanda, Peta di zaman Jepang, hingga TNI di era Indonesia Merdeka.

Soeharto dikenal sebagai hasil gemblengan Gatot Subroto. Mengutip Republika, Gatot-lah yang meminta Soeharto sabar di TNI. Sebelumnya, Soeharto sempat berniat mundur karena pangkatnya yang tak kunjung naik. Itu terjadi pada 1960.

Karir Soeharto menanjak pesat tak lama setelah Gerakan 30 September 1965 terjadi. Soeharto, yang kala itu berpangkat Mayjen dengan jabatan Panglima Kostrad, mengambil alih posisi pimpinan Angkatan Darat yang ditinggalkan oleh para jenderal yang terbunuh dalam peristiwa yang kerap disebut ‘G30S’.
Didukung oleh Jenderal TNI AH Nasution, Soeharto, yang ada di posisi strategis, mulai melakukan berbagai langkah. Bersaing dengan Mayjen TNI Pranoto Reksosamodra, yang ditunjuk Soekarno sebagai pejabat sementara pimpinan Angkatan Darat, Soeharto menang telak karena tak lama, Pranoto justru ditangkap terkait dugaan keterlibatan G30S.

Dalam “Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto” yang ditulis Salim Haji Said, Pranoto dianggap terlibat G30S karena operasi intel berhasil menemukan surat yang ditujukan untuk Pranoto dari saku Kolonel Latif, salah seorang yang dianggap penting dalam G30S.

Tidak perlu waktu lama, Soeharto lantas melenggang menduduki kursi RI1. Mulai dari Pejabat Presiden pada 1967 hingga menjadi Presiden setahun kemudian.

Mendudukkan Soekarno sebagai Presiden RI pertama yang mulai kehilangan pengaruh, modal Soeharto, ditulis Salim, adalah dukungan tentara dan kemarahan rakyat kepada Partai Komunis Indonesia yang dinilai mendalangi G30S.

“Soeharto sadar tidak memiliki cukup karisma dan pengalaman politik, seperti yang dipunyai pendahulunya. Dengan latar belakang yang demikian, Soeharto yakin kekuasaanya hanya akan tegak dan bertahan jika potensi pesaing di kalangan militer disingkirkan segera,” kata Salim dalam bukunya.

Soeharto juga menegaskan posisinya dengan menyingkirkan semua perwira berorientasi kiri dan loyal pada Sukarno. Ia juga mempromosikan para jenderal yang dianggap tidak punya potensi menggunakan tentara melawan sang Presiden hingga menyingkirkan orang yang berjasa bagi kemenangan politiknya, tetapi terlalu menonjol dalam masyarakat atau dinilai punya agenda sendiri.

Bapak Pembangunan

Soeharto lekat dengan citranya sebagai Bapak Pembangunan. Julukan itu disematkan oleh Ali Moertopo, yang pada dekade 80 menjabat sebagai Menteri Penerangan. Menurut Ali, julukan ini adalah apresiasi atas prestasi yang ditorehkan oleh Soeharto dalam pembangunan Indonesia.
Mengutip laman Kemendikbud, pembangunan memang sudah jadi fokus pemerintahan Soeharto. Program yang diunggulkan di antaranya Pembangunan Lima Tahun atau Pelita, Program Swasembada Pangan, program Keluarga Berencana, transmigrasi, intensifikasi dan pertanian dengan menyiapkan pupuk, irigasi, penyuluh dan koperasi. Kemudian pembangunan di segala bidang, seperti sekolah, puskesmas, industri strategis nasional dan jalan nasional, waduk, embung, dan berbagai pengendalian banjir perkotaan juga dilakukan.

Saat Ali Moertopo menggagas julukan ini pada 1981, Soeharto sempat menolak. Namun, melalui Tap MPR No V tahun 1983, MPR mengangkat Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Republik Indonesia. Gelar ini terus dipakai sampai sekarang.

Mulai Limbung

Krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak pertengahan 1997 mulai membuat kursi nyaman Presiden goyah. Masyarakat yang selama ini merasa dibungkam mulai menggeliat di tengah kegagalan pemerintah mengatasi permasalahan ekonomi. Suara kritis mulai makin keras.

Suara-suara ini memang tidak begitu saja didengar. Soeharto pun mencoba menyaringnya dengan berbagai cara. Namun makin sini, suara kritis ini makin bergema. Kencang dalam aksi demonstrasi sipil di banyak daerah. Tuntutan pada pemerintah mengemuka yang salah satunya: Soeharto harus mundur!

Di masa-masa ini, Soeharto mencoba mempertahankan posisi dengan berupaya memulihkan kembali kepercayaan publik. Salah satunya dengan mewujudkan tuntutan reformasi dengan merombak kabinet.

Namun upaya Soeharto kalah kencang dengan tuntutan sipil. Apalagi setelah kekerasan pada demonstran, yang direstui negara, mulai memakan korban. Kondisi memburuk, para menteri mundur, dan Soeharto pun memilih menanggalkan jabatannya pada 21 Mei 1998. Tepat 70 hari setelah ia dipilih menjadi Presiden RI untuk kali ketujuh.
Jadi Irit Bicara

Setelah tak menjabat lagi sebagai Presiden, Soeharto diketahui menjadi sosok yang irit bicara. Merdeka, mengutip Tempo edisi Februari 2008 menyebut, keluarga Cendana jadi seolah menutup diri. Jarang mau menerima banyak tamu, meski masih banyak para petinggi yang hendak mampir ke kediamannya di wilayah Menteng itu.

Sejak 2003, kesehatan Soeharto juga dikabarkan mulai memburuk. Berkali-kali ia keluar masuk rumah sakit. Ia lalu meninggal pada 4 Januari 2008.

Dua bulan setelah mundur dari posisinya sebagai Presiden, Soeharto memang sempat mengumpulkan keluarganya di Puri Retno, Anyer, Banten. Ia meminta semuanya tabah menghadapi situasi ini. Menurutnya, biar sejarah yang mencatat apa yang sudah ia lakukan untuk negeri ini.

“Kalau masih ada hujatan mari, diterima dengan ikhlas. Mudah-mudahan mengurangi beban saya di akhirat,” kata Soeharto dikutip dari Tempo.osk/net