Sejarah Sebagai Sapujagat

61

Palembang, BP- Untuk mempererat persaudaraan dan menjaga keutuhan bangsa dan negara serta kebhinekaan AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia), Jumat (4/6)  malam menggelar silaturahmi nasional yang dikemas dalam acara syawalan.

Pembicara yang didapuk memberikan wawasaan tentang kebangsaan adalah KH. Mukti Ali Kusyairi, Lc., MA anggota Komisi Fatwa MUI Pusat dan Romo Baskara T Wardaya, PhD sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Acara yang diikuti oleh semua anggota AGSI di seluruh Indonesia dan didukung oleh MGMP sejarah SMA/MA/SMK dan MGMP SMP IPS seluruh Indonesia itu menghadirkan tamu kehormatan Dra. Triana Wulandari, M.Si dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan  kebudayaan Riset dan teknologi. Tidak lupa panitia juga mengundang pendiri AGSI sekaligus presiden pertamanya Ratna Hapsari, M.Si.

Dalam kesempatan itu Triana Wulandari menuturkan bahwa sejarah merupakan ilmu yang berfungsi sebagai sapu jagat karena sejarah sebagai metode pemajuan kebudayaan.

“Guru sejarah merupakan garda paling depan sehingga tugasnya super mulia karena menyampaikan informasi pertama terhadap generasi penerus bangsa. Kita harus membudayakan gerakan melek sejarah yaitu menjadikan peristiwa sejarah dapat dianalisis dari sudut pandang kausalitas karena segala peristiwa pasti ada sebab akibat dan berdampak pada peristiwa berikutnya “katanya.

Baca:  AGSI Sumsel Pertanyakan Permasalahan Mapel Sejarah Hingga Sertifikasi Guru ke Komisi X DPR RI

Triana juga berharap agar guru-guru sejarah dapat mengikuti diklat tenaga kesejarahan yang akan diluncurkan nanti dan mendapat sertifikat resmi sehingga berhak  memandu pengunjung di situs-situs sejarah dan wisata sejarah karena kompeten di bidangnya.

Sementara itu Ratna Hapsari mengapresiasi AGSI sekarang sebagai komunitas yang dinamis dan berkemajuan memikirikan pendidikan bangsa khususnya pendidikan sejarah sehingga pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan tetap menjadikan sejarah sebagai mata pelajaran penting agar generasi mudanya tidak amnesia dengan sejarah bangsanya.

Dalam sambutannya Sumardiansyah Perdana Kusuma menyampaikan bahwa acara silaturahmi ini segaja menghadirkan dua tokoh sebagai pembicara dari latar belakang agama yang berbeda, hal ini wujud dari keharmonisan yang dibangun AGSI untuk bangsa Ini sehingga akan mengimbas kepada seluruh komponen bangsa bahwa untuk membangun bangsa dibutuhkan keharmonisan dari berbagai elemen bangsa, bukan bercerai berai apalagi saling membenci dan menghujat.

Sumardiansyah juga berpesan agar guru sejarah tidak mudah termakan hoax. Guru sejarah harus mencerna secara matang dari mana sumber informasi itu didapat valid atau tidak sehingga terbiasa berfikir dengan konsep historical thingking skill.

Baca:  Kepengurusan AGSI Sumsel Periode 2019-2022 di Lantik

Sebagai pembicara utama dalam acara yang dipandu oleh Lilik Suharmaji, Kepala Departemen Litbang AGSI pusat, Kyai Mukti Ali berujar sekarang media sosial sangat mengkhawitrkan.

Informasi seperti air bah sehingga informasi itu harus ada filter yang kuat agar setiap orang tidak mudah terhasut yang akan memecah belah bangsa.

Kyai Mukti menandaskan negara yang kuat adalah negara mampu menjaga persatuan dan kesatuan, sebaliknya negara yang gagal adalah negara yang tidak bisa mempersatukan elemen satu dengan elemen yang lain. Kyai alumni pondok pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini mengingatkan bahwa paham-paham yang membuat berantakan seperti negara-negara di Arab jangan sampai diterapkan di Indonesia jika akan memecah belah bangsa yang akhirnya menjadi negara yang gagal.

Kyai Mukti berpesan agar guru-guru sejarah dan sejarawan serta elemen lain bangsa agar tidak mudah termakan informasi yang sumbernya tidak jelas dan tidak valid. Untuk menulis sejarah harus dengan sumber yang kuat dan dapat dipercaya. Sejarah merupakan sapu jagat karena sejarah juga menulis sejarah yang keci-kecil seperti sejarah ekonomi, sejarah budaya dan sejarah orang kecil bukan hanya sejarah orang besar.

Baca:  AGSI Sumsel Ikuti Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Jatim

Setali tiga uang, Romo Baskara T Wardaya menguatkan bahwa Indonesia yang beragam ini ternyata disatukan oleh sejarah. Mereka dari berbagai suku, agama, budaya, bahasa,  dan daerah-daerah yang letaknya saling berjauhan disatukan oleh sejarah yang sama yakni Majapahit dan Sriwijaya.

Peran sejarah sangat penting dan sangat sentral dalam mempersatukan bangsa dan negara dari disintegrasi bangsa. Sejarawan sekaligus rokhaniawan alumni  Marquette University Amerika Serikat itu menandaskan bahwa  AGSI sangat penting tetapi juga sentral dan guru sejarah bukan saja penting tetapi juga sangat sentral.

Acara syawalan silaturahmi nasional AGSI ini dimeriahkan dengan penampilan berbalas pantun dari anggota AGSI Riau dan pembacaan puisi dari anggota AGSI Banten dan anggota AGSI Riau sehingga malam itu bertebaran pantun di mana-mana. Acara juga diwarnai pembagian doorprize berupa buku sumbangan dari Kyai Mukti Ali Qusyairi.#osk