Ultimate magazine theme for WordPress.

Sumsel Dapat Perhatian Khusus Presiden Terkait Peningkatan Kasus Covid-19

Tito Karnavian (BP/IST)

Palembang, BP- Langkah Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru yang mengizinkan masyarakat di dalam wilayah Sumsel untuk melakukan aktivitas mudik saat perayaan Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah, justru berdampak pada peningkatan kasus penyebaran Covid-19 khususnya di wilayah kota Palembang.

Hal ini juga mendapat perhatian khusus dari presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang disampaikan melalui Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian.

Hal ini dibuktikan saat kunjungan Mendagri ke RSUD Bari Palembang pada, Minggu (2/5). Dalam kunjungan tersebut, Mendagri Tito Karnavian mengaku sangat kaget saat mengetahui angka keterisian Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit-rumah sakit di Sumsel meningkat hingga 65 Persen.

“Beberapa waktu lalu kami mendapatkan laporan tingkat BOR mencapai 59 persen, nah tiba-tiba sekarang melonjak menjadi 65 persen. Ini diluar perkiraan kami bahwa Sumsel tingkat BORnya tertinggi se-Indonesia. Di tempat-tempat lain yang kami perkirakan seperti Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur yang biasanya ramai itu tidak lebih dari 30 persen,”ungkap Mendagri.

Baca:  Soal Anggaran, Sumsel Dapat Teguran Keras Mandagri

Tito mengingatkan, Sumsel sudah lampu kuning penyebaran Covid-19 dan perlu menjadi perhatian.

Tito menilai, pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro di Sumatera Selatan tidak berjalan optimal.

Sehingga hal itu berdampak pada buruknya performa Sumatera Selatan dalam penanganan pandemi.

Ini terlihat dari empat indikator pandemi di Sumsel yang sebagian besar menunjukan tren negatif.

Tingkat kesembuhan misalnya, Sumsel hanya mencatatkan tingkat kesembuhan sekitar 87,7 persen, lebih rendah dibanding angka nasional sekitar 91,3 persen.

Sementara angka kematian sekitar 4,7 persen lebih tinggi dibanding nasional sekitar 2,7 persen.

Adapun dari 1.600 tempat tidur yang tersedia di Sumsel, sekitar 59 persen diantaranya, sudah terisi oleh pasien Covid-19.

Angka ini jauh lebih tinggi dari sebagian besar wilayah di Indonesia yakni di bawah 30 persen.

Baca:  Soal Anggaran, Sumsel Dapat Teguran Keras Mandagri

“Tidak ada skenario siapa berbuat apa sehingga semua kegiatan berjalan secara auto pilot,” katanya.

Padahal koordinasi antara instansi seperti Pemda, TNI/Polri, organisasi dan tokoh masyarakat sangat diperlukan agar pelaksanaan PPKM bisa optimal mulai dari tingkat provinsi hingga ke tingkat rukun tetangga.

Bahkan untuk di Palembang tingkat keterisian tempat tidur mencapai 65 persen atau mendekati standar maksimal yakni 70 persen.

Tito mengatakan, Sumatera Selatan mendapatkan atensi Presiden mengingat angka BOR Tertinggi secara nasional.

Sebagai putra daerah asli Sumsel ia pun berharap agar penyebaran kasus Covid-19 ini bisa dikendalikan.

“Tren angka penyebaran di Sumsel ini cenderung meningkat, artinya kecepatan penambahan kasusnya Sumsel nomor satu, meski secara total keseluruhan kasus kita tidak seperti Jawa Tengah atau Jawa Timur,” ujarnya

Baca:  Soal Anggaran, Sumsel Dapat Teguran Keras Mandagri

Ini terjadi, dikatakan Tito, karena adanya peningkatan mobilitas masyarakat menjelang lebaran.

Dari hasil laporan perkembangan peningkatan kasus Covid-19 di Sumsel ini, Mendagri menilai bahwa penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) belum berjalan dengan baik. Bahkan menurutnya, belum ada konsep secara tegas di tingkat pimpinan kepala daerah.

Sedangkan PLT Kadinkes Kota Palembang dr Fauziah didampingi Sekda Palembang Drs Ratu Dewa saat mendampingi Tito mengatakan, rawat inap saat ini 65 persen, namun dari jumlah tersebut 50 persen yang terisi ada yang merupakan pasien rujukan Covid-19 dari Kabupaten/Kota di luar Kota Palembang.

Disebutkan Fauziah, pada awal Maret kemarin jumlah rawat inap menurun sehingga beberapa rumah sakit pada akhir April lalu terjadi pengurangan ruangan isolasi di RS sebesar 25 persen dari 1.000 lebih hanya 780 kamar.#osk

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...