Partai Ummat Dideklarasikan, Agus Sutikno: “Mari Kita Beradu Ide, Gagasan, Simpatik Kepada Masyarakat”

52

Agus Sutikno (BP/IST)

Palembang, BP–Tokoh reformasi tahun 1998, H Amien Rais resmi mendeklarasikan Partai Ummat. Pendeklarasian Partai Ummat dilaksanakan bertepatan pada tanggal 17 Ramadan 1442 Hijriah atau Kamis (29/4).

“Well come selamat datang Partai Ummat dan partai-partai lainnya termasuk Partai Gelora, Partai UKM  yang ada itu, mari kita sama-sama untuk beradu ide dan gagasan , beradu simpatik kepada masyarakat sehingga pada saatnya masyarakat menentukan pilihan,” kata Ketua DPW PPP Sumatera Selatan (Sumsel) Agus, Minggu (2/5).

Menurut mantan Wakil Ketua Komisi III DPRD Sumsel menilai tidak ada yang bisa mengklaim untuk bisa memonopoli  kalau Partai Ummat adalah partai yang memikirkan ummat.

Baca:  KPU Coret 4 Parpol di 6 Kabupaten/Kota di Sumsel

“Dalam konteks Partai Ummat, adalah partai yang religius yang satu barisan dengan PPP, PAN, PKS , bahwa kaitannya akan menggerus suara PPP itu terlalu dini untuk melihat seperti itu,” katanya.

Apalagi menurutnya , terbentuknya partai baru karena undang-undang memungkinkan untuk itu.

Apalagi menurutnya setiap warga negara  berhak berserikat dan berkumpul menyampaikan pendapat salah satunya dengan pendirian partai politik dan pendirian partai politik di Indonesia menurutnya ada yang murni dibentuk dan ada yang sempalan seperti partai Gelora yang merupakan sempalan dari PKS, Partai Berkarya merupakan sempalan dari Golkar termasuk Nasdem, Partai Masyumi Baru merupakan sempalan dari Partai Bulan Bintang (PBB).

Baca:  Pemilu 2019: Bagaimana Nasib Partai Politik Islam?

“Berkaitan dengan Partai Ummat adalah rentetan muktamar PAN di Sulawesi lalu muncul Partai Ummat dimana penggagasnya Amien Rais, karena Amien Rais tidak di akomodir dalam PAN,” katanya.

Dalam konteks organisasi kepartaian  menurut Agus hal tersebut yang biasa saja karena partai terbentuk juga belum tentu serta merta menjadi peserta pemilu dimana harus ada persyaratan administratif yang cukup berat untuk dipenuhi untuk lolos sebagai partai politik peserta pemilu.

“Belum berbicara bagaimana kemungkinan partai itu nanti mendapatkan parliamentary threshold (PT) atau tidak  itu nanti, sekarang bagaimana  100 persen kepengurusan di  tingkat wilayah seIndonesia terpenuhi , bagaimana kepengurusan di tingkat kabupaten  terpenuhi bagaimana 50 persen  kepengurusan di tingkat kecamatan terpenuhi,” katanya.

Baca:  Gelora Sumsel Optimis Hadapi Pileg 2024

Bagi PPP sudah cukup berpengalaman karena PPP sendiri sempat beberapa kali komponen di dalamnya memisahkan diri (Split) contoh munculnya Partai Bintang Reformasi yang dulu PPP Reformasi, muncul  Partai Bintang Reformasi .

“Sementara PAN itu sudah  dua kali pecah, pertama muncul Partai Matahari Bangsa (PMB) sekarang pecah menjadi Partai Ummat,” katanya.

Dalam kontek konstalasi  politik , siapapun partai adalah rivalitas walaupun beda aliran politik.#osk