CPI Berbuka Puasa Dengan Bubur Ramadhan di Masjid Mahmudiyyah

36

Palembang, BP- Organisasi Masyarakat (Ormas) Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI) menikmati buka puasa bubur Ramadhan Masjid Besar Mahmudiyyah Suro Palembang, Jumat (30/4).

Ustadz Fahmi selaku Pengurus Masjid, mengatakan sangat senang dengan kedatangan pengurus dan anggota dari CPI ke Masjid Besar Mahmudiyyah Suro untuk berbuka puasa bersama menikmati bubur daging Ramadhan yang telah menjadi tradisi setiap bulan suci Ramadhan yang diperkirakan telah berlangsung 1 abad lebih bersama jemaah masjid dan warga sekitar. “Bubur ini selalu menjadi tradisi yang harus terus dilanjutkan dan kita patut bersyukur masih ada anak-anak muda dari CPI yang ikut serta dalam kegiatan bubur ramadhan ini,” ungkapnya.

Fahmi juga menjelaskan bahwa Masjid ini didirikan oleh KH.Abdurrahman Delamat dan Kiagus Khotib Mahmud yang hidup satu masa dengan Ulama terkenal di Palembang yaitu KH.Masagus Abdul Hamid (Kyai Marogan).

Baca:  APH Harus Profesional Tanpa Diskriminasi

Bubur ramadhan sendiri sendiri dimasak dimulai dari pukul 13:30 dengan komposisi beras 4 Kilogram, daging sapi 2 Kilogram yang sudah diberi rempah-rempah serta daun seledri.
Setiap harinya masjid Mahmudiyyah membagikan 100 Porsi ke warga sekitar yang hendak menikmati di rumah masing-masing.

Raden Muhammad Ilmi S.Pd selaku Ketua Bidang Pendidikan CPI yang juga alumni FKIP Sejarah Universitas Sriwijaya mengatakan, jika tradisi bubur Ramadhan ini telah menjadi kearifan lokal bagi masyarakat Palembang yang dimulai pada abad 19 dikarenakan Masjid Mahmudiyyah Suro ini sendiri didirikan oleh Ulama besar Palembang yang bernama KH.Abdurrahman Delamat dan pewakaf Khotib Mahmud pada Tahun 1889 Masehi dan selesai pada Tahun 1891 Masehi.

Baca:  CPI Bagikan Paket Sembako di Malam Hari

Awalnya disebut dengan nama Masjid Suro lalu Kiagus H. Matjik Rosad, cucu dari Kiagus H Khotib Mahmud mengusulkan nama Al-Mahmudiyah, hingga akhirnya jadilah nama Al-Mahmudiyah dan sekarang dikenal dengan Masjid Besar Mahmudiyyah Suro.

Menurutnya tradisi yang ada di Palembang memiliki kemiripan dengan tradisi bubur Ramadhan warisan Sunan Bonang yang ada di Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur yang sudah berjalan dari abad ke 14 Masehi.

“Dapat kita lihat, bahwa bubur merupakan salah satu cara dakwah dari ulama terdahulu dalam membumikan Islam di Nusantara, penduduk lokal di Nusantara menjadikan beras sebagai makanan pokok sehingga para ulama terdahulu menjadikan bubur sebagai makanan untuk membatalkan puasa karena isinya adalah nasi yang diberi air sehingga lembut membuat orang tidak lama dalam menyantap bubur yang ada karbohidrat sehingga jarak antara berbuka dengan makanan dan mendirikan sholat Magrib tidak lama,”pungkasnya.

Baca:  Peringati 9 Ramadhan, Hari Kemerdekaan Indonesia, CPI dan DPT Bagi Takjil

Ustadz Siddiq yang juga merupakan pemuka agama sekitar saat diwawancarai mengatakan, jika harapannya di Palembang akan banyak lahir orang-orang seperti Anggota CPI. “Semoga makin banyak orang seperti CPI yang punya jiwa sosial dan kesadaran bermasyarakat yang tinggi,” harapnya.#osk