Selamatkan Kawasan Talang Tuo, Disbudpar Sumsel Resmi Bentuk Tim Pengembalian Marwah Talang Tuo

30

Terkait pemberitaan sejumlah media yang menyatakan kalau areal lokasi penemuan prasasti  Kedatuan Sriwijaya yaitu Prasasti Talang Tuo di Kawasan Talang Kelapa, Kecamatan Sukarami, Palembang di kuasai oleh M Alfaro yang merupakan anggota DPRD Kota Palembang, direspon cepat oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dengan melakukan pertemuan bersama M Alfaro bersama stafnya di aula Disbudpar Sumsel, Sabtu (24/4). (BP/DUDY OSKANDAR)

Palembang, BP-Terkait pemberitaan sejumlah media yang menyatakan kalau areal lokasi penemuan prasasti  Kedatuan Sriwijaya yaitu Prasasti Talang Tuo di Kawasan Talang Kelapa, Kecamatan Sukarami, Palembang di kuasai oleh M Alfaro yang merupakan anggota DPRD Kota Palembang  , di respon cepat oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dengan melakukan pertemuan bersama pemilik lahan M Alfaro bersama stafnya di aula Disbudpar Sumsel, Sabtu (24/4).

Turut hadir Kadisbudpar Sumsel  Aufa Syahrizal Sarkomi, Cahyo Sulistyaningsih, Ssos selaku Kabid Kebudayaan, Disbudpar Sumsel, akademisi Unsri , Ari Siswanto , Aryandini Novita  dari Balai Arkeologi Sumsel, staf Hukum Pemprov Sumsel, Dudy Oskandar perwakilan jurnalis sejarah

Kadisbudpar Sumsel  Aufa Syahrizal Sarkomi mengatakan,  dalam pertemuan tersebut di sepakati untuk membentuk tim pengembalian marwah Talang Tuo yang di ketuai M Alfaro dan Wakil Ketua Kadisbudpar Sumsel  Aufa Syahrizal Sarkomi.

Aufa memastikan pihaknya bersama pemilik lahan M Alfaro, tim cagar budaya,  tim pencari fakta, para sejarawan, budayawan akan mengembalikan marwah Sriwijaya melalui pengungkapan Prasasti Talang Tuo.

Apalagi pemilik lahan M Alfaro siap berkolaborasi dan menyelamatkan kawasan Talang Tuo ini dalam tim ini.

“ Ini memang berkah, dan kita berharap ini membuka jalan membuka situs-situs Sriwijaya  yang lain, jadi betul-betul tidak ada orang yang komplain dan orang meyakini Sumsel adalah tempat pusatnya Sriwijaya, kita ada bukti-bukti,” katanya, Selasa (27/4).

Karena itu tim ini menurutnya bergerak sama-sama , karena memiliki potensi  masing-masing

Prasasti Talang Tuo (BP/IST)

Sedangkan M Alfaro mengapresiasi langkah Kadisbudpar Sumsel  dan tim pencari fakta menemukan situs kerajaan Sriwijaya yaitu Prasasti Talang Tuo

“Lahan kami ini  sampai kebawah perbatasan kolam luasnya 5,6 hektar, kaitan dengan apa disampaikan  pak Aufa , kami menyambut baik kami siap berkolaborasi dan mendukung program pemerintah untuk melestarikan situs ini, sehingga bisa menjadi daya tarik dimana di lahan ini kami juga akan membangun pondok pesantren,” katanya.

Alfaro mengaku prihatin dimana banyak prasasti Kerajaan Sriwijaya di Palembang terbengkalai , sehingga  untuk itu menurutnya perlu kerja keras  untuk melihat titik yang perlu dilestarikan.

Baca:  Laporan I-Tsing! (Kisah Tentang Kerajaan Sriwijaya)

“Kami siap untuk sama sama kita sumbangkan tapi harus ada suport dari pemerintah untuk bagaimana infastrukturnya seperti jalan,” katanya.

Sekadar mengingatkan, Prasasti Talang Tuo ditemukan Residen Palembang Louis Constant Westenenk pada 17 November 1920 di Talang Tuo, yang kini disebut Talang Kelapa. Saat ini lokasinya berada di tengah perkebunan sawit.

Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Keadaan fisiknya cukup baik, berukuran 50 x 80 centimeter. Prasasti berangka 606 Saka (23 Maret 684 Masehi) ini menggunakan aksara Pallawa berbahasa Melayu yang terdiri 14 baris.

Prasasti yang kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.145.p, kali pertama mampu dibaca dan dialihaksarakan oleh Van Ronkel dan Bosch yang dimuat di Acta Orientalia.

Prasasti Talang Tuwo bercerita tentang pembuatan taman Sri Ksetra oleh Raja Sri Baginda Srijayanasa atau Punta Hyang Sri Jayanasa, yang merupakan raja pada kerajaan Sriwijaya di abad ke-7. Prasasti ini berisi titah sekaligus amanah dari Sang Raja kepada rakyatnya perihal rencana mempercantik wilayah dengan mengatur pemukiman, perkebunan, air, kolam-kolam, dan taman-taman. Kepada warga, Raja meminta menanam tumbuhan tertentu yang hasilnya kelak bisa untuk dimanfaatkan dan kemakmuran bersama. Prasasti juga memuat doa dalam ajaran Buddha.

Prasasti Talang Tuwo terbilang unik. Dia memiliki teks terpanjang bila dibandingkan dengan teks pada prasasti peninggalan Sriwijaya yang lain seperti prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Telaga Batu, Prasasti Boom Baru, dan Prasasti Sabokingking. Selain itu, Talang Tuwo merupakan satu-satunya prasasti yang berisikan petuah dalam tata kelola air, ruang, lingkungan hidup, taman, dan tumbuh-tumbuhan. #osk

 

Berikut adalah tulisan yang terdapat pada Prasasti Talang Tuwo:

  1. // śwasti . śri śaka warṣa titā . 606 . diŋ dwitiya ṣuklapakṣa wulan caitra . sāna tatkālāña parlak śri kṣetra ini . niparwuat
  2. parwaṇḍa punta hiyaŋ śrī jayanāga . ini priṇadhānāṇḍa punta hiyaŋ . sawañakña yaŋ nitanaŋ di sini . ñīyur pinaŋ hanāu . ru
  3. mwiya . dṅan samigra . ña yaŋ kāyu nimakan wuaḥña . tathapi hāur wuluḥ pattuŋ ityewamādi . punarapi yaŋ parlak wukan
  4. dṅan tawad talāga sawañakña yaŋ wuatku sucarita parāwis prayojanākaḥ puṇyaña sawwa satwa sacarācara waropāyāña tmu
  5. sukha . di āsannakala di antara mārgga lai . tmu muaḥ ya āhāra dṅan āir niminuŋña . sawañakña wuatña huma parlak mañcak mu
  6. aḥ ya . maŋhidupi paśu prakāra . marhulun tuwi wṛddhi muaḥ ya jāṅan ya niknāi savañakña yaŋ upasargga . pidanna swapnawighna . waraŋ wua
  7. taña kathamapi . anukūla yaŋ graha nakṣatra parāwis diya . nirwyadhi ajara kawuatanāña . tathāpi sawañakña yaŋ bhṛtyāna
  8. saṭyārjjawa dṛḍhabhagti muaḥ ya dya . ya mitrāña tuwi jāṅān ya kapaṭa yaŋ winiña mulang anukūla bhāryya muaḥ ya waraŋ sthā
  9. naña lāgi jāṅān cūri ucci wadhañca . paradāra di sāna . punarapi tmu ya kalyāṇamitra . marwwaṅun wodhicitta dṅan maitri
  10. ṭadhāri di daŋ hyaŋ ratnatraya jāṅān marsarak dṅan daŋ hyaŋ ratnatraya . tathāpi nityakāla tyaga marśila kṣānti . marwwaṅun wiryya rājin
  11. tāhu di samiśraña śilpakalā parāwis . samāhitacinta . tmu ya prajñā . smṛti medhāwi . punarapi dhaiyyamāni mahāsa(ttwa)
  12. wajra śarira . anupamaśakti . jaya . tathāpi jātismara . awikalendriya . mañcak rupa . subhaga hāsin hālap āde
  13. yawākya . wrahmaswara . jādi lāki swayaŋbhu puna(ra)pi tmu ya cintāmaṇinidhāna . tmu janmawaŋśitā . karmmawaśitā . kleśa(va)śi(ta)
  14. awasāna tmu ya anuttarābhisaŋmyaksaŋ wodhi //:// O //://
Baca:  Kemas Said, Ulama Pejuang yang Syahid di Perang Palembang 1819

 

Berikut di bawah ini adalah terjemahan prasasti tersebut menurut George Cœdès.

Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa.

Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula aur, buluh, betung, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan.

Baca:  Komunitas Pecinta Sejarah UIN RF “Jelajah Kota Tua “ Palembang

Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur.

Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan bintang menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka.

Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagipula semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga istri mereka menjadi istri yang setia.

Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah.

Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir pikiran Boddhi dan persahabatan (…) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan.

Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahāsattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahmā.

Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung.