Gus Jazil: Generasi Muda Lebih Senang Sinetron Dibandingkan Wayang

15

Jazilul Fawaid bersama dalang Ki Manteb Soedarsono.

Jakarta,BP–Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengajak masyarakat, terutama generasi muda untuk melestarikan budaya pewayangan yang mulai kurang dikenal kalangan muda.

“Anak muda zaman sekarang lebih mengenal dan menggemari sinetron atau drama Korea (drakor) dibandingkan wayang. Padahal, pewayangan sarat dengan tuntunan kebaikan dan keteladanan yang ditunjukkan tokoh pewayangan, 2ujar Gus Jazil panggilan akrab Jazuli Fawaid di Jakarta, Minggu (25/4).

Menurut Jazil, generasi muda harus paham, harus sadar dan mengerti tentang sejarah wayang.
Karena, wayang adalah budaya tinggi dari leluhur, termasuk para wali, dan ini dijadikan sebagai sarana berdakwah, menuju kebaikan.

” Dakwah itu membina, bukan menghina. Wayang ini cara orang merasa terhibur, tapi dikasih pelajaran meski kadang nggak terasa. Orang merasa senang tapi tidak terasa kalau dia diberikan nasihat,” kata Gus Jazil.

Dikatakan, generasi muda harus diberikan pemahaman mengenai pewayangan sebagai sebuah budaya warisan leluhur yang harus dilestarikan. ”Ini adalah tontonan yang menghibur dan menyehatkan. Goro-goro atau prahara yang ada di wayang itu artinya bahwa dalam hidup ini banyak variasinya. Anak-anak sekarang yang ditonton sinetron, drakor daripada wayang. Drakor itu tak ada isinya dibanding wayang yang sarat nilai-nilai, ketokohan, keteladanan, contoh-contoh bagaimana kebenaran harus ditegakkan,” katanya.

Baca:  Oesman Sapta Terima SK Kepengurusan dari Menkumham

Ditambahkab, budaya dan agama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan dipertentangkan. Wayang merupakan sebuah budaya yang di dalamnya sarat dengan ajaran agama. ”Kata ‘santri’ dan ‘cantrik’ itu khas Indonesia, tidak ada di Arab Saudi dan negara Islam yang lain. Santri itu orang yang hidup di lingkungan pesantren yang didik ulama, kiai untuk mengenal Yang Di Atas, Allah SWT. Nah cantrik itu dididik di sebuah tempat oleh brahmono, orang sakti agar dia tahu adat istiadat, tata krama, dan lainnya. Jadi agama dan budaya tidak bisa dipisah-pisah, harus berjalan beriringan,” tuturnya.

Baca:  Ketua MPR: Membangun Indonesia Perlu Komitmen Kebangsaan

Melalui kesenian, lanjut dia, wayang, diharapkan lahir masyarakat yang mengerti agama dan budaya. Kalau itu yang memimpin Indonesia, pasti bagus karena sesuai dengan akal budaya. Pemimpin itu harus mengenal Allah SWT, Tuhan, tapi juga harus tahu budaya, cara hidup bermasyarakat. Agama dan budaya tak hisa dipisahkan, jadi satu.

Wayang sambungnya, akulturasi kebudayaan yang melampaui zaman, memadukan antara agama dan budaya sehingga menjadi manusia yang utuh. ”Ada tontonan dan tuntunan. Nah, saat ini menjadi tantangan karena kita masuk zaman milenial, zaman now yang kurang mengerti budaya wayang,”tegasnya.
Jazil menilai, hal penting untuk diambil pelajaran dari wayang, bahwa hidup adalah pertempuran terus menerus antara yang baik dengan yang salah, antara yang buruk dengan yang benar.”Hidup selalu ada musuhnya. Musuh, pertama musuh dalam diri sehingga harus topo broto, tarak (tirakat) dan lain-lain. Kedua musuh dari luar, yang fisik yang kelihatan
Di dalam Islam, disebutkan sebuah pertempuran, kebenaran pasti akan menang. Wa qul jaa al-haqqu wa zahaqal baatihilu innal baathila kaana zahuuqaa. Dan katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap,” kata Gus Jazil.

Baca:  Wakil Ketua MPR Berharap Pancasila Diperkenalkan Dalam Buku Bahan Pengajaran ASEAN

Gus Jazil mencontohkan apa yang dilakukan Parikesit dalam tokoh pewayangan, dia bangkit dengan gagah berani untuk memperjuangkan kebenaran. ”Karena kebenaran tidak bisa muncul dengan tiba-tiba seperti matahari terbit karena dalam hidup ini banyak musuh, baik musuh dalam diri maupun dari luar,” paparnya.#duk