Ahmad Basarah: Pancasila Puncak Kebudayaan Bangsa Indonesia

53

Ahmad Basarah

Jakarta, BP–Persatuan Alumni GMNI kembali menggelar webinar Pra Kongres bertema “Tantangan dan Strategi Kebudayaan Dalam memperkokoh Kepribadian Bangsa” Kamis 22 April 2021. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan menuju Kongres IV PA GMNI yang dijadwalkan 19-21 Juni 2021 di Bandung, Jawa Barat.

Sejumlah pembicara dalam webinar kedua ini adalah Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid, mantan Wakil Menteri Pendidikan Wiendu Nuryanti, Akademisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ibnu Maryanto, Budayawan Erros Djarot, Soetanto Soephiadhy dari Universitas Airlangga, Wayan Sudarmaja,Penyantun Rumah Budaya Bedahulu Ubud Bali dan Y. Argo Twikromo dari Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Ahmad Basarah menegaskan, kebudayaan merupakan unsur ketiga dari ajaran Trisakti Bung Karno. “Perjuangan kebudayaan adalah perjuangan membangun cipta, rasa dan karsa yang dalam konteks Indonesia berarti membangun jiwa, membangun jati diri dan kepribadian bangsa yang menuju pada masyarakat yang adil dan makmur. Dengan kata lain, pembangunan kebudayaan Indonesia yang menurut istilah Bung Karno, disebut sebagai Nation and Character Building,”kata Basarah.

Baca:  MPR Gelar Simposium Nasional Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

“Webinar seri kebudayaan ini dilakukan sejalan dengan amanat Pidato Bung Karno pada 17 Agustus tahun 1966 yang isinya pembangunan suatu bangsa harus disandarkan pada jiwa yang besar. Tidak akan mungkin tujuan pembangunan bisa tercapai manakala pembangunan tidak disandarkan pada pembangunan karakter. Sekali lagi mutlak perlunya nation and character building,” kata Basarah.

Menurut Basarah, Pancasila sebagai ekspresi dari cipta, rasa dan karsa bangsa Indonesia yang dirumuskan dan disepakati oleh Bung Karno dan pendiri bangsa lain adalah puncak kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah cita-cita peradaban tertinggi bangsa Indonesia”, tegas Basarah.

Ahmad Basarah menambahkan, Pancasila sebagai puncak kebudayaan nasional juga bukanlah ideologi utopia tapi Pancasila sebagai ideologi yang dinamis dan dapat bekerja di tengah masyarakat.

Suatu contoh, di masa pandemi Covid-19 ada kewajiban dalam setiap agama membantu kesulitan terhadap sesama umat manusia. Dalam Islam disebut zakat, di agama katolik ada ajaran amal kasih. Di agama Kristen ada ajaran persepuluhan dan persembahan. Di agama Hindu ada ajaran Dana dan Danapunya. Begitu juga dalam agama Budha ada ajaran Anisa Dana.

Baca:  Anggota MPR: Kekerasan Pada Anak Sudah Lampu Merah  

“Hal tersebut implementasi dari sila Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Pancasila.” tutur Basarah

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid menekankan pentingnya pengembangan kebudayaan tradisional. Bahwa budaya nasional berakar pada tradisi dan kebudayaan tradisional. Pengembangan kebudayaan ini menjadi salah satu strategi dari Kemendikbud.

“Saat ini banyak orang tidak lagi bersentuhan dengan tradisi di masa lampau. Kita juga sudah lakukan perluasan kegiatan seni, pertunjukan festival dan lain-lain. Tujuannya membangun interaksi masyarakat lebih luas. Intinya membuka ruang interaksi luas dengan masyarakat, dan hasilnya alhamdulillah bagus. Yang jelas Kebudayaan Nasional tumbuh di dalam kerangka aksi. Kepribadian Nasional tak bisa tumbuh dalam ceramah, pidato dan lain-lain, Ia harus dikerjakan dalam bentuk nyata,” kata Wimar.

Sementara itu, Wiendu Nuryanti menekankan pentingnya menggarap generasi milenial sebagai kekuatan penopang kebudayaan. Maka strategi kebudayaan yang harus dilakukan adalah dengan menciptakan milenial sebagai agen pencipta. Hal lain juga disampaikan pentingnya diplomasi kebudayaan.

Baca:  Ma’ruf Cahyono Berharap Pengamanan di Parlemen Tidak Menjauhkan Rakyat

Darmansyah Djumala Duta Besar RI untuk Austria menekankan pentingnya membuat narasi baru tentang diplomasi kebudayaan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Diplomasi budaya tidak hanya menampilkan produk kultural saja, melainkan menyuguhkan narasi baru, yaitu proyeksi terhadap nilai-nilai yang akan diproyeksikan ke luar negeri.

“Berpikir dan bersikap moderat dan toleran adalah jatidiri bangsa kita. Inilah yang saya sebut dengan proyeksi nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam diplomasi kebudayaan,” kata Dharmansyah Djumala

Terakhir budayawan Eros Djarot menguraikan pentingnya memahami budaya bangsa dengan utuh. Pemahaman ini menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi terkini. Bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa dan negara saat ini tidak perlu melakukan invasi militer, melainkan cukup dengan invasi budaya saja.

“Kenyataan inilah yang harus kita pahami. Intinya kita harus kembali kepada hal mendasar. Kembali kepada jatidiri, nation and character building. Pembukaan UUD Tahun 1945 sebagai hasil kebudayaan bangsa Indonesia harus dijadikan pedoman dalam membangun dan mempertahankan eksistensi bangsa dan negara Indonesia dari derasnya arus globalisasi,” tegas Erros.#duk