Permintaan Maaf Tersangka JT Tak Hentikan Proses Hukum

63

BP/IST
Pakar hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang, Dr H Firman Fready Busroh SH MHum

Palembang, BP- Setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan perawat Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, CR, pada Kamis (15/4), tersangka JT  masih di dalam sel tahanan Polrestabes Palembang.

Pakar Hukum dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang, Dr H Firman Fready Busroh SH MHum mengaku prihatin atas peristiwa penganiayaan yang menimpa perawat yang bertugas di RS Siloam Sriwijaya Palembang.

Menurutnya, kendati pelaku telah meminta maaf dan mengakui perbuatannya hal tersebut tidak dapat menghentikan proses hukum.

Dari kacamata hukum Firman menyebutkan jika pelaku penganiayaan melanggar pasal 351 KUHP dengan ancaman pidana kurungan 2,8 tahun.

“Tentunya terhadap kasus yang saat ini viral dimana ada penganiayaan perawat dari keluarga pasien tentu harus ditindaklanjuti dengan proses hukum, karena tindakan tersebut telah melanggar pasal 351 KUHP. Jadi setiap orang yang melakukan penganiayaan dapat dikenakan dengan pasal tersebut, dengan ancaman pidana penjara 2 tahun 8 bulan,” ungkap Firman Fready Busoh, Selasa (20/4).

Baca:  HP Perawat RS Siloam Dirampas Lalu Dibanting

Meski tersangka telah meminta maaf dan mengakui kesalahan, jika ada upaya damai namun kata Firman hal itu tidak membuat proses hukum mandeg atau terhenti. Menurutnya proses hukum tetap berjalan, karena didalam hukum pidana, bahwa perdamaian tidak dapat menghapuskan pidana.

“Jadi permintaan maaf dari tersangka itu paling tidak untuk meringankan hukuman dan jadi pertimbangan majelis hakim dalam memutuskan perkara tersebut,” ujarnya.

Dia berharap peristiwa yang terjadi tersebut menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas, bahwa harus patuh terhadap hukum, sebagaimana Indonesia merupakan negara hukum.

Baca:  Pelaku Penganiayaan Perawat RS Siloam Sriwijaya Diamankan

“Bagi semua masyarakat yang dilayani perawat, tenaga kesehatan, kita semua harus saling menghargai, karena perawat itu garda terdepan dalam pelayanan kesehatan. Tentunuya kalau kita saling menghargai maka akan tercipta harmonisasi dalam masyarakat,” katanya.

Namun bila ada masyarakat yang tidak puas atau merasa diperlakukan tidak baik oleh tenaga kesehatan bisa melapor ke humas Rumas Sakit atau menejemen tempat pelayan kesehatan tersebut.

“Tidak perlu dengan kekerasan, dengan cara-cara yang tidak terpuji, jadi kita bisa melakukan tindakan yang dibenarkan secara hukum,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, jagat dunia maya dihebohkan dengan video yang memperlihatkan keributan di sebuah kamar Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan pada Kamis (15/4) sore lalu. Kejadian tersebut melibatkan CRS (27) seorang perawat wanita yang diduga dianiaya oleh TJ orang tua pasien.

Baca:  Penangguhan Penahanan JT Ditolak

Sontak kejadian penganiayaan itu pun langsung mencuri perhatian publik. Bahkan pihak kepolisian setempat langsung bergerak cepat menyelesaikan permasalahan tersebut.

Usai kejadian itu, JT pelaku penganiayaan perawat ditangkap polisi dan telah ditetapkan jadi tersangka. Dia dijemput oleh anggota kepolisian di rumahnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) , Jumat (16/4) pukul 21.00 .

Kepala Kepolisian Resor Kota Besar (Kapolrestabes) Palembang Kombes Pol Ivan Prawira menuturkan, setelah ditangkap, JT langsung dibawa ke Palembang untuk diperiksa.
Oleh penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Palembang, JT ditetapkan menjadi tersangka.#osk