Aziz Sjamsudin: DPR dan Pemerintah Sepakat Untuk Penguatan Kejaksaan

56

Bukan Cuma Kurir Berkas Perkara dari Kepolisian ke Persidangan

Aziz Sjamsudin dan Hinca Panjaitan dalam diskusi Forum Legislasi menyoal LRUU Kejaksaan, Komitmen DPR Perkuat Kinerja Korps Adhyaksa di Media Centre DPR Jakarta, Selasa (13/4/2021).

Jakarta, BP–Wakil Ketua DPR Aziz Sjamsudin mengatakan, rencana pembahasan Ramcangan Undang-Undang (RUU) revisi atas Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, hingga kini DPR masih menunggu surat presiden (surpres) dilanjutkan pembahasan di Komisi III DPR.

“Pada prinsipnya, DPR dan pemerintah sepakat untuk penguatan lembaga kejaksaan,” ujar Aziz dalam diskusi Forum Legislasi menyoal LRUU Kejaksaan, Komitmen DPR Perkuat Kinerja Korps Adhyaksa di Media Centre DPR Jakarta, Selasa (13/4/2021).

Menurut Azis, DPR sedang menunggu surpres untuk menunjuk salah satu menteri tertentu atau menteri secara bersama-sama melakukan pembahasan RUU Kejaksaan tersebut.

“Tinggal Komisi III kemudian melakukan RDPU, rapat dengar pendapat umum, kemudian melakukan RDP, kemudian persiapan-persiapan dalam penyusunan daftar inventarisasi masalah, yang tertuang di dalam proses tata tertib dan undang-undang tentang penyusunan perundang-undangan,” tuturnya.

Baca:  21 Caleg Terpilih Dapil Sumsel Ke Senayan, H Alex Noerdin Raih Suara Terbanyak

Dikatakan, tujuan revisi untuk melakukan penguatan di semua lembaga, termasuk kejaksaan. Penguatan ini harus sinergi dengan aparat penegak hukum kepolisian, kemudian PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil), dan dalam hal ini dengan hakim.

“Sehingga bagaimana lembaga yuridis ini bisa bersinergi, karena proses penyidikan, masuk ke penuntutan, masuk kepada peradilan, tapi di dalam tindak pidana tertentu, lex spesialis-nya bahwa yang namanya kejaksaan dalam tindak pidana korupsi dapat melakukan namanya proses pengumpulan data, kemudian penyidikan, dan sekaligus penuntutan,” jelasnya.

Anggota Komisi III DPR Hinca Panjaitan, mengatakan, Komisi III DPR siap mendengar masukan publik untuk menguatkan Korps Adhyaksa. Secara prinsip, Komisi III sudah siap melanjutkan atau menjalankan amanah pimpinan DPR.

Baca:  DPR Usulkan RUU Penyelenggaraan Haji dan Umrah

Dia menambahkan, DPR menunggu surpres dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski reses, Komisi III akan terus mendiskusikan hal-hal penting dalam RUU Kejaksaan. “Tentu nanti banyak masukan. Kami siap mendengarkan. Kami akan terima masukan dalam pembahasan nanti,” katanya.

Kejaksaan, lanjut Hinca, kerap dianggap sebagai kurir atau pengantar berkas perkara yang disidik kepolisian ke meja persidangan. Padahal, kejaksaan merupakan pengendali utama terhadap suatu perkara sudah memenuhi unsur formal dan material.

“Sekarang kira-kira apa yang membuat pikiran Komisi III menginisiasi RUU Kejaksaan. Kami ingin melakukan penguatan pada semua lembaga penegak hukum, termasuk institusi kejaksaan. Kejaksaan sebagai lembaga penuntut atas nama negara sudah waktunya diperkuat,” tegas Hinca.

Ketua Komisi Kejaksaan Barita Simanjuntak menyatakan, kinerja kejaksaan sudah semakin baik. Namun, Korps Adhyaksa tetap membutuhkan penguatan. “Kami melihat perkembangan kinerja kejaksaan sekarang semakin baik, tetapi perlu penguatan yang signifikan,” katanya.

Baca:  DPR Dukung Penuh Indonesia Exposition di Pasifik

Dittmbahkan, kejaksaan sudah patut mempunyai kewenangan yang kuat karena lembaga itu merupakan pelaksana kekuasaan negara di bidang penuntutan.
“Tepat sekali apabila DPR memperkuat kejaksaan melalui pembahasan RUU Kejaksaan,” katanya.

Dia juga mengatakan kejaksaan terkadang menghadapi dilema dan sering terimpit di dalam dua kekuatan besar penegak hukum, yaitu kepolisian dan kehakiman. Namun, konstitusi tidak menyebut secara tegas bahwa kejaksaan sebagai kekuasaan yang juga ada pada lembaga pengadilan.

“Tidak masalah kalau ini diatur implementasinya di dalam RUU yang baru, karena azas dominus litis ini merupakan asas universal bahwa kejaksaan yang menentukan dapat tidaknya satu perkara diajukan ke pengadilan,” papar Barita.#duk