MPR: Jaga Kesucian Ramadan Dengan Menjunjung Tinggi Toleransi

60

KH. Bukhori Yusuf

Jakarta,BP–Anggota MPR KH. Bukhori Yusuf, mengatakan, bulan suci Ramadan 1442 H akan segera hadir. Seluruh umat Islam Indonesia melaksanakan ibadah puasa mulai terbit matahari hingga terbenam.

Ritual ibadah selama satu bulan penuh itu sangat dimuliakan seluruh umat sanga. Untuk itu dibutuhkan toleransi dari seluruh rakyat Indonesia yang berbeda keyakinan untuk menjaga kesucian Ramadan dengan saling menghormati.

Selama bulan suci berlangsung, baik yang menjalankan ibadah puasa atau tidak berpuasa karena perbedaan agama atau umat Islam memang ada halangan yang diperkenankan syariat, mesti bersama-sama menjaga sikap di ruang publik.

“Ketika toleransi itu terbangun, akan menjadi satu perilaku kolektif yang baik sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara akan berjalan nyaman, damai. Perbedaan yang ada menjadi sesuatu yang tidak lagi sumber pertentangan,” kata Bukhori secara virtual dalam acara Diskusi Empat Pilar MPR RI bertema ‘Menjaga Toleransi di Bulan Suci Ramadan’ kerjasama Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR RI dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, di Media Center MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin (12/4).

Baca:  Wakil Ketua MPR: Target Pertumbuhan Ekonomi Harus Realistis

Menurut Bukhori, untuk membangun toleransi seperti itu, masyarakat mesti menjadikan tradisi, keadaban, dan etika menjadi sebuah standar hubungan antar sesama. Jika berhasi, akan muncul kehidupan bermasyarakat yang saling memahami.

Dikatakan, negara sangat tegas terhadap persoalan penghormatan kepada pemeluk agama Islam dan agama lain, serta menjamin kebebasan beragama tanpa gangguan, yakni melalui UUD NRI Tahun 1945 Pasal 29 ayat 1 yang jelas memposisikan agama sebagai satu dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak bisa dipertentangkan lagi dan ayat kedua, negara menjamin tiap penduduk bebas menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya.

Baca:  MPR Usulkan Sosialiasi 4 Pilar Masuk Kurikulum Pendidikan

Bukhori berharap semua elemen bangsa menjaga toleransi dengan baik selama Ramadan berlangsung. Dan kepada umat Islam, tidak usah diragukan lagi, negara sangat menjamin kebebasan beribadah.

Namun, saat ini pandemi Covid-19 masih melanda. Sehingga, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk memutus rantai penyebaran virus dengan pembatasan kegiatan, termasuk ibadah.

“Sekali lagi, hal itu bukan untuk menghalangi hak beribadah tapi untuk alasan kesehatan. Isilah bulan mulia ini dengan amal ibadah seperti sholat Tarawih dan lain, tentu dengan mematuhi protokol kesehatan, dan selalu menerapkan gaya hidup sehat,” tuturnya.

Peneliti Okky Tirto mengatakan, soal toleransi, bangsa Indonesia sudah matang dipanggang sejarah. Toleransi adalah nyawa rakyat Indonesia sejak dulu hingga kini. Sebab, walaupun berbeda suku, budaya dan lain saling menghormati.

Baca:  Bamsoet Harap Kapal Selam Nanggala 402 Segera Ditemukan

Contohnya, suku Abui yang biasa juga disebut suku Barawahing, Barue atau Namatalaki merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Suku ini memiliki satu semboyan yang sangat terkenal yakni ‘Tara Miti Tomi Nuku’ , meskipun berbeda tapi satu dalam hati. Lalu ada Pela Gandong di Maluku, dan masih banyak lagi suku yang memiliki semboyan persatuan. Luarbiasa dewasanya mereka menghadapi perbedaan.

“Intinya, rakyat Indonesia sangat memahami bagaimana menyikapi perbedaan bahkan perbedaan agama. Sikap mereka biasa saja, tidak ada yang perlu diributkan. Saya rasa toleransi sudah menjadi bibit di negara Indonesia. Kita hanya dituntut untuk selalu menyiram dan menjaga agar terus tumbuh kuat bisa bertahan dari segala gangguan,” katanya.#duk