Ahmad Basarah: Catatan Merah Guntur Soekarno Putra Layak Dibaca Pemuda Milenial

72

Jakarta,BP–Putera pertama Presiden Soekarno, Mohammad Guntur Soekarnoputra, meluncurkan buku berjudul ‘’Catatan Merah dari Putera Bung Karno, Mulai Asian Games 1962 di Jakarta Sampai ke Galaxy Bima Sakti’’ secara virtual di Jakarta, Sabtu (10/4). Sebagian royalti penjualan buku ini akan disumbangkan kepada Komunitas Unidentified Flying Object (UFO), Komunitas Elvis Presley, dan Komunitas Masyarakat Fotografi.
Kumpulan tulisan Mas Tok, panggilan akrab Mohammad Guntur Soekarnoputra, ini diedit Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah.

Di dalam buku itu, Guntur menulis tentang sejarah Asean Games 1962, kisah Bung Karno menyelamatkan Universitas Al-Azhar di Kairo yang hampir ditutup pemerintah Mesir saat itu, kisah fiksi spionase James Bond, sampai pesan-pesan kewaspadaan nasional menghadapi Covid-19.

Sebagai editor buku ini, Ahmad Basarah menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tokoh-tokoh nasional yang hadir secara virtual di acara peluncuran buku ini. Mereka yang hadir antara lain Wakil Presiden VI, Try Sutrisno, AM Hendropriyono, Marsekal Pur TNI Cheppy Hakim, Ganjar Pranowo, Kwik Kian Gie, Soekarwo, Theo L. Sambuaga, Basuki Tjahaja Purnama, dan Prof. Dr. Edi Swasono.

Baca:  Ketua MPR: Jangan Beri Ruang Spekulasi Jual-Beli Vaksin Corona

‘’Saya berharap buku ini dibaca banyak generasi muda, generasi milenial, yang belum banyak tahu kisah-kisah heroik proklamator Republik Indonesia Bung Karno,’’ jelas Ahmad Basarah, yang mengaku kerap berdiskusi tentang Bung Karno dengan Mas Tok di rumahnya sebelum Covid-19 merebak.

Ahmad Basarah menilai, penulisan buku ini positif karena ia merupakan upaya intelektual Guntur Soekarnoputra melawan pihak-pihak yang berusaha menghapus memori bangsa tentang Bung Karno. ‘

’Padahal kita tahu, Bung Karno sangat berjasa pada tanah air, bahkan pada dunia internasional. Inilah bagian dari jurus jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,’’ tandas Ahmad Basarah, yang menulis juga buku ‘’Bung Karno, Islam dan Pancasila’’.

Baca:  Golkar Layak Pimpin MPR

Dalam catatan Doktor ilmu hukum lulusan Universitas Diponegoro Semarang itu, jejak politik untuk menghapus jasa dan kepahlawanan Bung Karno terlihat dari dikeluarkannya Ketetapan MPRS Nomor XXXIII/ MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Presiden Soekarno.

Dalam bagian konsideran/menimbang TAP MPRS tersebut dikatakan bahwa Presiden Soekarno dituduh terlibat memberikan dukungan terhadap peristiwa G-30-S/PKI.

Apalagi, tambah Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini, Bung Karno lewat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 83 tahun 2012 telah mendapat gelar pahlawan nasional.

‘’Jika benar Bung Karno berkhianat pada bangsa, tidak mungkin ia mendapat gelar pahlawan nasional,’’ jelas Ahmad.
Untuk dunia Islam, Bung Karno juga punya jasa besar.

Baca:  Nono Sampono: Tenggelamkan Kapal Asing Merupakan Penegakan Hukum

Menurut Ahmad Basarah, Bung Karno berjasa besar di balik dibatalkannya penutupan Universitas Al-Azhar Mesir oleh Presiden Gamal Abdul Nasser, penemuan makam Imam Bukhari di Uzbekistan, difungsikannya kembali Masjid Biru di Moskow, tokoh di balik terselenggaranya Konferensi Islam Asia Afrika 1965 di Bandung, serta ditanamnya pohon Sukarno di Arafah Saudi Arabia.

Try Sutrisno memuji editor buku ini yang disebutnya terkesan sangat mengenal jatidiri penulis buku. Try memuji tulisan tentang James Bond yang tampaknya ringan, tapi sesungguhnya berisi pesan agar bangsa Indonesia waspada terhadap spionase asing.

Sementara mantan Kepala BIN AM Hendropriyono tertarik pada cita-cita revolusioner Bung Karno yang pada 5 Oktober 1965 ingin melakukan percobaan bom atom buatan Indonesia meski rencana ini batal terjadi akibat politik dalam negeri.#duk