Aksi Terorisme Marak, Ramlan Holdan : “Perlu di Bedah dari Sisi Pendidikan Agama, Apa Yang Salah”

17

BP/DUDY OSKANDAR
Ramlan Holdan

Palembang, BP

Menyikapi aksi terorisme yang kembali marak dengan menyasar sejumlah fasilitas publik , masyarakat diharapkan tak cukup sebatas mengutuk.

Tapi harus bisa membedah akar persoalan ini sampai ke hulunya, termasuk kenapa serangkaian peristiwa ini dilakukan oleh kalangan milenial.

“Perlu dibedah terutama dari sisi pendidikan agama, apa yang salah karena tidak ada satu agamapun yang mengajarkan bahkan membenarkan tindak kekerasan terhadap sesama,”  kata Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sumsel, Drs Ramlan Holdan, Jumat (2/4).

Politisi PKB ini melihat  dengan menyasar kaum milenial baik pelajar hingga mahasiswa yang kaidah dan pemahamannya terhadap ajaran agama sangat lemah, terlebih mereka yang belajar di sekolah umum.

Baca:  Kapolda Sumsel Ikuti Upacara Penerimaan Perwira Lulusan Pendidikan Alih Golongan (PAG) TA. 2020

“Ini kian diperparah dari hasil survei dari sebuah lembaga survei independen yang sempat saya baca menunjukkan hampir 60 persen guru agama telah terpapar bibit-bibit intoleransi. Artinya yang perlu juga dibenahi disini sistem pendidikan kita tidak hanya pembelajaran tentang akidah syariah melainkan juga soal akhlak yang harus lebih didalami lagi dengan silabus-silabus yang ada,” kata Ramlan yang juga Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumsel ini.

Hal lain yang juga tak kalah pentingnya, menurut Ramlan yang santer disebut-sebut bakal diusulkan menjadi Calon Wakil Bupati (Cawabup) Muara Enim ini peran alim ulama yang juga mestinya mengikuti erkembangan kemajuan tekhnologi. Karena kaum milenial dalam kesehariannya lebih banyak menghabiskan waktunya berkutat dengan gadget dan media sosial.

Baca:  Update 31 Mei: Tambah 19 Kasus, Pasien Covid-19 di Sumsel Totalnya 982 orang

“Terlebih lagi mereka yang belajar di sekolah umum belajar agama dengan skup dan waktu yang sangat terbatas. Sehingga kurang mendapatkan pemahaman mengenai pelajaran agama yang dikaitkan dengan pemahaman agama dengan konteks keberagaman dalam kehidupan berbangsa bernegara di Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara ini,” katanya.

Peran pemerintah daerah (pemda) yang mestinya menyisir jangan lagi ada guru-guru agama baik di sekolah semua tingkatan hingga di kampus perguruan tinggi yang justru mengajarkan sikap-sikap intoleran disertai dengan doktrin-doktrin tertentu untuk tak menghormati sesama penganut agama.

Baca:  “Bunda Sangat Terharu di Doakan Santriwan-Santriwati”

Padahal, dan konteks agama manapun terutama agama islam mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang baik dengan sesama manusia. Terakhir, peran keluarga juga menjadi penting mengingat dari pengalaman yang ada sebagian besar pelaku bom bunuh diri inj terpapar paham radikalisme dari luar karena sifatnya yang tertutup terhadap keluarga.#osk