Ultimate magazine theme for WordPress.

Tuan Syekh Abdur Rahman Cirebon Ulama Abad ke-17, Pendekar Agama di Desa Campangtiga – Oku Timur

Oleh Vixkri Mubaroq
Guru SD IT Bina Ilmi Palembang

ULAMA merupakan pemuka dan pemimpin agama yang mengayomi, membina umat Islam dalam ilmu agama, dan kehidupan sosial dari sisi agama. Menurut M. Qurais Shihab, ulama ialah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyah maupun Quraniyah, dan mengantarnya kepada pengetahuan
tentang kebenaran Allah, takwa, dan khasysyah (takut) kepada Nya.

Ulama memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Termasuk di Sumatera Selatan yaitu masa kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-16, yang memiliki pengaruh dari
ulama yang ada di pulau Jawa.

Selain di Palembang, ulama di pulau Jawa juga memiliki peran penting dalam proses Islamisasi di Desa Campangtiga, Kabupaten Oku Timur, Sumatera Selatan. Salah satunya adalah Tuan Syekh Abdur Rahman pada abad ke-17, yang dikenal masyarakat Campangtiga dengan nama Tuan Syekh.

Tuan Syekh Abdur Rahman lahir pada tahun 1660 M, di desa Adumanis Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), dan wafat pada tahun 1750 M di desa Campangtiga, makamnya berada di pemakaman keluarga guruh-guruh Campangtiga km 124 antara
jalan Palembang dan Martapura. Dalam silsilah nya, Tuan Syekh merupakan anak dari Tuan Suksamad yang merupakan keturunan atau cicit Tuan Ratu yang berasal dari Cirebon Provinsi Jawa Barat, sebagai pusat penyebaran Islam di tanah Jawa yang dipelopori oleh Sunan Gunung Jati. Proses Islamisasi atau dakwah Islam di tanah Jawa oleh
para ulama, termasuk Tuan Ratu, melakukannya melalui seni yaitu pertunjukan perwayangan dan musik rebana, yang dikenal dengan terbangan, kemudian diselipkan dengan ceramah agama tentang pelajaran agama Islam. Dalam proses tersebut terjadinya perselisihan antara agama Hindu dan agama Islam, sehingga membuat Tuan Ratu yang sebagai Panglima, mengundurkan diri dan mengasingkan diri sampai ke pulau Sumatera
yaitu Sumatera Selatan, hingga bertemu dengan aliran sungai Komering. Tuan Ratu membuat Rakit dan naik rakit menuju hilir, sampai di satu pulau yaitu pulau Tjintung, persis di seberang desa Adumanis tua OKUT.

Baca:  Misteri Nekara Air Puar, Lahat
Rumah peninggalan Tuan Syeh Abdur Rahman

0Dalam riwayatnya anak keturunan tertua dari Tuan Ratu yang menikah dengan putri dari desa Adumanis tersebut ialah Pangeran Bala Seribu, beliau memiliki keturunan yaitu Tuan Sirih Kembang, yang memiliki anak bernama Tuan Suksamad, yaitu orang tua dari Tuan Syekh Abdur Rahman. Tuan Suksamad memperdalam ilmu agama Islam di Cirebon setelah mendapat izin dari Pangeran Bala Seribu. Tuan Suksamad memperdalam ilmu agama Islam dengan mudah dan bebas, karena pada masanya, penganut agama
Hindu berpindah ke arah timur di Jawa. Setelah memperdalam agama Islam Tuan Suksamad kembali ke OKUT yaitu desa Adumanis dan bertemu dengan Said Alay Iderus, penyebar Islam juga. Sehingga desa Adumanis menjadi pusat penyebaran Islam, Tuan Suksamad juga mengajarkan ilmu agama Islam kepada ketujuh putra nya.

Perjuangan Tuan Suksamad dalam mengajarkan agama Islam di tanah Komering berlanjut kepada putra-putranya. Tuan Makodum putra pertamanya tetap tinggal di Adumanis Tua. Anak keduanya Muyang Tuan Syekh dikirim ke Desa Campangtiga, anak ketiganya bernama Lebai Sapian dikirim ke desa Cempaka, Anak keempatnya Tuan Sambu dikirim ke desa Gunung Batu, dan Tuan Pegadu dikirim ke kota Kayu Agung, Tuan Siap dikirim ke desa Ulak Tembaga, serta Lebai Tjili dikirim ke desa Kangkung.

Baca:  SMB IV: Harusnya Belanda Selain Minta Maaf Juga Kembalikan Peninggalan Supaya Anak Cucu di Indonesia Tahu yang Sebenarnya

Tuan Syekh Abdur Rahman hidup di masa abad ke 17 dan 18. Artinya secara kronologis abad ke 17 dan 18 adalah masa Kesultanan Palembang Darussalam dan masa Kehilafahan Turki Usmani. Kedatangan Tuan Syekh disambut baik oleh masyarakat Campangtiga dan sekitarnya. Tuan Syekh aktif dalam ceramah agama atau khatib sebagai misi dari ayahnya Tuan Suksamad Adumanis. Tuan Syekh sebagai guru agama yang
mengajarkan tentang tauhid dan tasauf, dijuluki sebagai pendekar agama.

Dalam catatan kisah yang bersumber dari HA. Mahir Mallawie, beliau adalah pensiunan Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang. Sebagai pewaris benda pusaka dari Tuan Syekh, yaitu sebilah pedang dari besi murni dan sebuah gelang dari gangsa. Juga bersumber dari tulisan Saifuddin Sofyan yang bermukim di
Jakarta, yang kedua beliau adalah keturunan ke sembilan dari Tuan Syekh Abdurrahman.
Menyatakan bahwa Tuan Syekh adalah sosok pahlawan di desa Campangtiga, yang menyelamatkan masyarakat Campangtiga dari musibah ular naga besar yang berada di aliran anak sungai Komering yang meresahkan masyarakat, sehingga memutus aktivitas mayarakat seperti bertani, berkebun, dan lain sebagainya.

Baca:  SMAN 1 Belitang Juara I LCC Sejarah Tahun 2019

Melalui tirakat Tuan Syekh, dan musyawarah serta kerjasama nya dengan masyarakat. Beliau dengan sebilah pedangnya bisa menghunus ular naga besar yang terperangkap oleh jaring ikan yang sudah dipasang pada rakit pohon pisang. Atas
keberhasilan Tuan Syekh tersebut, ia diberikan hadiah tanah dari Puyang Ratu Nyaman sebagai tetua adat di desa tersebut, dan Tuan Syekh menjadi sosok yang dihormati sebagai pahlawan, pendekar dan ulama, yang berdampak pada kemudahannya dalam berdakwah dan mengajarkan agama Islam, sehingga Islam berkembang pesat hingga sekarang, yang telah diteruskan oleh anak keturunannya di desa Campangtiga.

Demikian tulisan ini, saya kutip dari sumber tulisan KH. Mallawie 14 September 1965, yang bersumber dari kutipan M. Jusuf Darmo bin Krio Ahmad Adumanis dari tambo (silsilah) yang ada pada pemegangnya yaitu Jakqub bin Mangku Negara. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan kita senantiasa peduli dengan sejarah lokal, tentang ilmu  pengetahuan, termasuk kontribusi dan peran ulama lokal dalam proses Islamisasi di Indonesia.#

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...