MPR : Olahraga Menjadi Alat Pemersatu Bangsa

8

Jakarta, BP–Anggota MPR dari Fraksi Partai Demokrat Bramantyo Suwondo menegaskan, olahraga harus mengedepankan sportivitas dan terlepas dari kepentingan politik. Tim Bulutangkis Indonesia yang didiskualifikasi dari All England menunjukkan masih ada diskriminasi dalam olahraga. Perlakuan yang diterima Tim Bulutangkis Indonesia berbeda dengan tim lain yang mengalami kasus serupa.
“Saya melihat ada kejanggalan dalam peristiwa itu,” ujar Bramantyo dalam Diskusi Empat Pilar MPR di Media Center Jakarta, Senin (22/3).
Menurut Bramantyo, sebelum berangkat Tim Indonesia sudah melakukan tes PCR dengan hasil negatif. Ketika sampai di Inggris pun,Tim Indonesia kembali melakukan tes PCR dan juga negatif. Bahkan anggota Tim Indonesia sudah divaksinasi Covid-19.
Namun panitia penyelenggara mendiskualifikasi Tim Bulutangkis Indonesia setelah Kementerian Kesehatan Inggris menginformasikan salah seorang penumpang yang satu pesawat dengan Tim Indonesia menuju Inggris terkonfirmasi Covid-19. “Anehnya, ada tim dari negara lain yang sempat diberitakan terpapar Covid-19, panitia penyelenggara mengakomodir tim negara itu untuk melakukan tes ulang dan dinyatakan negatif sehingga bisa berlaga kembali di All England,” kata Bramantyo.
Dikatakan, ketidakadilan dan diskriminasi jelas kelihatan. Panitia mengakomodir tim negara lain untuk melaksanakan PCR ulang dan dengan hasil negatif mereka diperbolehkan berlaga kembali. Seharusnya Indonesia juga mendapat perlakukan yang sama.
Karena itu Bramantyo menilai peristiwa ini menjadi catatan dan perhatian Komisi X DPR. “Kita akan mengadakan rapat dengan Kemenpora. Salah satu isu yang kita tanyakan soal All England. Bagaimana dan langkah apa yang harus dilakukan bila menghadapi situasi seperti itu,” kata anggota Komis X DPR ini.
“Kita juga mendorong pemerintah dalam hal ini Kemenpora dan pengurus olahraga lain seperti KOI dan KONI untuk memastikan tidak ada diskriminasi dalam olahraga seperti kejadian yang dialami Tim Bulutangkis Indonesia di All England,” tuturnya.
Anggota MPR dari Fraksi PDI Perjuangan H. Muchamad Nabil Haroen menyebutkan Tim Bulutangkis Indonesia memiliki mental juara. “Kita terus menerus melakukan kritik kepada panitia penyelenggara, kita suarakan melalui berbagai kanal yang ada. Tapi kita tidak melakukan hal-hal yang sifatnya destruktif. Ini merupakan salah satu karakter dari tim yang bermental juara,” katanya.
Menurut Gus Nabil, sapaan akrab Nabil Haroen, Tim Bulutangkis Indonesia dan masyarakat harus bisa move-on dari kejadian tersebut. Sekalipun demikian kritik dan upaya mendapat keadilan tetap harus dilanjutkan. “Kritik harus tetap dilanjutkan untuk mendapatkan keadilan sesungguhnya. Namun kita juga harus move-on. Saya kira penting bagi kita untuk move on. Kalau kita berputar di sini saja tanpa move-on, akan menjadi sesuatu yang mubazir dan sia-sia,” katanya.
Gus Nabil juga mengapresiasi diplomasi yang dilakukan Kedubes Indonesia di Inggris. Tanpa diplomasi tidak mungkin Tim Bulutangkis Indonesia bisa kembali ke Tanah Air lebih cepat. “Tim Indonesia bisa kembali lebih cepat. Ini karena diplomasi. Kalau tidak ada diplomasi yang baik, saya kira atlet-atlet kita masih terkurung di sana selama 10 hari. Upaya ini perlu kita apresiasi,” tambahnya.
Terkait nasionalisme, Gus Nabil menyebutkan olahraga dan nasionalisme tidak dapat dipisahkan. Apa yang dialami Tim Bulutangkis Indonesia di All England telah membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat di Tanah Air.
“Kita melihat ketika Tim Bulutangkis Indonesia dipaksa mengalah atau dipaksa kalah, datang dukungan dari semua pihak, mulai dari rakyat di bawah hingga pimpinan. Semua mendukung Tim Indonesia. Ini bukti bahwa olahraga bisa menjadi alat pemersatu bangsa. Bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga yang bisa kita banggakan,” paparnya.#duk

Baca:  Wakil Ketua MPR Dukung Pemerintah Suarakan Perempuan Miliki Hak Ambil Keputusan