Gus Jazil: Menghidupkan Tradisi Lailatul Ijtima Penting

6

Jakarta,BP–Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid SQ mengajak seluruh jajaran pengurus dan kader Nahdlatul Ulama (NU) di semua tingkatan di DKI Jakarta untuk menghidupkan dan melestarikan kegiatan Lailatul Ijtima’ yang menjadi tradisi warga NU setiap bulan.
Menurut Jazilul Lailatul Ijtima’ merupakan tradisi ukup lama dilakukan di kalangan NU. Para ulama NU terdahulu sengaja membuat forum Lilatul Ijtima’ yang artinya pertemuan pada malam hari. Alasannya, malam merupakan waktu istimewa, terutama menjalankan kegiatan spiritualitas.
“Peristiwa spiritual itu selalu terjadi pada malam hari. Peristiwa turunnya Alquran pada malam Lailatul Qadar. Begitu pula peristiwa Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW juga pada malam hari,” tutur Jazilul saat menghadiri acara Lailatul Ijtima’ di Jakarta Pusat, Kamis (18/3).
Jazilul menambahkan, di dalam ayat Suci Alquran lain perintah menjalankan Salat Tahajud juga pada malam hari.
Dalam QS Al Isro’ disebutkan, “Dan pada sebagian malam, sembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
“Maksudnya ada Lailatul Ijtima agar hendaknya kita menghidupkan malam dengan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, seperti membaca sholawat Nabi atau majelis ilmu. NU menghidupkan yang disebut dengan Lailatul Ijtima’ itu agar malam itu menjadi tempat memompa spiritualitas,” tuturnya.
Saking pentingnya waktu malam hari, kata Jazil, ada surat dalam Alquran namanya Surat Al-lail. Dia juga mengajak jamaah Lailatul Ijtima’ untuk membedah dan mengkaji bersama QS Al-lail.
“Jadi, Lailatul Ijtima itu adalah malam kita berkumpul untuk mendapatkan dan menghidupkan sunnah nabi, bertukar ilmu, menambah ilmu kita supaya kita lebih dekat kepada Rasulullah,”jelasnya.
Sebelumnya, Jazil cukup intens menjalin silaturahim ke seluruh Pengurus Cabang (PC) NU di DKI Jakarta. Jazil juga menyampaikan niat untuk maju sebagai calon ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) pada 2 April 2021.
“Sebagai kader NU dari kecil, saya terpanggil untuk mengabdi di NU DKI karena saya sejak kuliah aktif menjadi aktivis NU di PMII Jakarta Selatan. Saya berharap karena NU ini bukan organisasi politik maka pemilihan ketua PWNU nanti tidak dilakukan dengan cara-cara politik, tapi dipilih ulama karena NU ini jamiyah yang didirikan ulama. Kalau pemilihan ketua PWNU dilakukan dengan cara politik, itu bisa rusak NU-nya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWC NU Tanah Abang Alit Kustizar mengajak jamah mendoakan hajat Jazil untuk ikut membenahi NU di DKI Jakarta bisa terwujud. “Beliau ini Wakil Ketua MPR tapi mau turun ke (MWC NU) Tanah Abang. Alhamdulillah masih mau memperhatikan kita, mau silaturahim dengan kita semua,” ujarnya. #duk

Baca:  Ma'ruf Cahyono: Mahasiswa Harus Menjadi Pelopor Pelaksanaan Pancasila