Tim Pencari Fakta  Kunjungi Pulau Kemaro, Banyak Ditemukan Fakta Baru

67

Tim pencari fakta  Pulau Kemaro melakukan kunjungan ke Pulau Kemaro, Palembang, Sabtu (14/3) guna melihat langsung kondisi Pulau Kemaro dan melihat Kelenteng Yayasan  Topekong  Kramat Pulau Kemaro sekaligus menggali fakta dan sejarah yang ada di Pulau Kemaro. (BP/IST)

Palembang, BP–Tim pencari fakta  Pulau Kemaro melakukan kunjungan ke Pulau Kemaro, Palembang, Sabtu (14/3) guna melihat langsung kondisi Pulau Kemaro dan melihat Kelenteng Yayasan  Topekong  Kramat Pulau Kemaro sekaligus menggali fakta dan sejarah yang ada di Pulau Kemaro.Dalam kunjungan tersebut tim menemukan banyak fakta baru di Pulau Kemaro.

Tim pencari fakta Pulau Kemaro di pimpin Ahmad Dailami didampingi budayawan kota Palembang Vebri Al Lintani, sejarawan kota Palembang Kemas Ari Panji, Azim Amin (Zuriat Saudagar Yu Ching 3-4 Ulu), Ketua Ikatan Arsitek  Lanskap  Indonesia (IALI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Yanti Muchtar., Muhamad Rustam (dari Forum Pariwisata dan Kebudayaan (Forwida) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) , Mang Dayat (Youtuber).

Menurut  juru kunci Kelenteng Yayasan  Topekong  Kramat Pulau Kemaro, Burhan mengatakan di Pulau Kemaro ada dua agama Budha dan  Islam (muslim).

“Makam Siti Fatimah dan Tan Bun An itu dua-duanya muslim, kalau makan kiri kanannya itu makam dayang dan pengawalnya,” katanya.

Menurutnya  yang berziarah ke Pulau Kemaro adalah mereka dari agama Budha, Islam.

“Kalau muslim yang datang kesini baca fateha, ngirim doa, kalau yang budha khan jelas pasang garu semuanya dia pasang,” katanya.

Baca:  Pembangunan Pulau Kemaro Rusak Histori, Sosial, Budaya dan Ancam Masa Depan Keberlanjutan Ekologis

Kelenteng ini menurutnya dibangun saat orangtuanya masuk Pulau Kemaro tahun  1947 saat itu menurutnya sudah ada bentuk kelenteng cuma dulu terbuat dari kayu lalu di permanenkan  tahun 1960 dan selesai tahun 1962 dan dipugar tahun 2010 sampai sekarang.

“Memang dulu ada tulisan arab melayu tapi artinya tetapi artinya tetap  tidak di hilangi tetap Yayasan Topekong Kramat Pulau Kemaro dan tahun 1975, 1976  diubah huruf arab melayunya  saran dari Departemen Agama, mereka bilang ini bukan masjid tapi Kelenteng, jangan sampai di sangka orang ini masjid, Kelenteng ini,” katanya.

Burhan mengaku berada di Pulau Kemaro sejak 1969 sejak di boyong orangtuanya ke Pulau Kemaro pada waktu itu umurnya dua tahun  kelahiran di 16 Ilir  tapi orang tuanya tahun 1947 sudah berada di Pulau Kemaro.

“Tiap cap go meh datang rame-rame, ngurusin, bersihin, baru tahun 1962 baru tinggal disini orangtua saya sebelumnya tinggal di 16 Ilir,” katanya.

Baca:  Warga Pulau Kemaro Demo ke Pemkot Palembang, Minta Pemkot Buktikan Kepemilikan Lahan di Pulau Kemaro

Sedangkan Azim Amin , Zuriat Saudagar Yu Ching 3-4 Ulu menjelaskan Januari akhir tahun 1971 dirinya ke Pulau Kemaro saat itu masih ada tulisan arab melayu di Pulau Kemaro lalu di bagian lain ada gapura tulisan makam kramat Pulau Kemaro menggunakan huruf arab melayu

“Gapura itu tempat orang masuk  untuk pengampunan, dia ziarah ke makam ini minta ampun kepada leluhur kito, jadi kapitan bongsu itu tertulis dalam naskah salinan tahun 1838 lalu disalin lagi tahun 1910 lalu disalin tahun 1971, itu menyatakan Raja Cina bersahabat dengan Raja Palembang kemudian tiga putranya bersahabat dengan susuhunan Palembangsebagai teku, teku sunan di Bangka namanya kapitan bela , penguasa tanah Bangka, meninggal di Bangka dan dikuburkan di Bangka, sudah aku selidiki ternyata disana ada kuburan kayak Kelenteng ini di Mentok, kampung Belo,” katanya.

Lalu dia meneruskan kapitan asing  dalam versi Johan Hanafiah (budayawan Palembang)  namanya Un Asing , dia memiliki anak perempuan , nyonya besak, sedangkan kapitan bela punya anak  namanya Kiyai Mahkucing atau baba yaujian dan dia sudah muslim sejak zaman kakeknya yang juga muslim.

Baca:  Buaya Besar Betah di Sekitar Pulau Kemaro Membuat Warga Risau

“Dia meninggal di Palembang dan di kuburkan di negeri Cina, kapitan asing ini dan tidak di makamkan di Palembang tapi di Cina,” katanya.

Lalu kapitan bongsu yang meninggal waktu masih bujang, tenggelam kapal hijuk serta wangkang anak buahnya  di makamkan di Pulau Kemaro.

“Dulu sebelum ada kelenteng  keluarga kami selalu kesini (Pulau Kemaro) tapi sejak  ada kelenteng ini  tidak lagi kesini tapi berdoa dari jauh, karena  ada keluarga yang fanatik itu  kalau kita ke Kelenteng dosa kita 40 hari ditolak, kalau aku tidak , aku punya paham , kelenteng itu  adalah bangunan kebudayaan  dari Cina, tidak apa-apa,” katanya.

Lalu lima tahun yang lalu Azim mengaku mengajak ustad Nawawi Dencik menanyakan makam Kapitan Bongsu yang seorang muslim di Pulau Kemaro dan beliau khataman Al Quran disini.

Menurutnya  Azim Saudagar Yu Ching memiliki anak namanya Baba Muhammad Najib bergelar Kiyai Demang Wiroguno yang membangun Benteng Pulau Kemaro. #osk