Wakil Ketua MPR: Perlu Kebijakan Menyeluruh terhadap Rumah Tangga Sebagai Dampak Pandemi

13

Lestari Moerdijat

Jakarta, BP–Dampak Covid-19 menciptakan berbagai perubahan di sejumlah sektor hingga rumah tangga. Diperlukan kebijakan menyeluruh agar mampu mengatasi permasalahan di setiap kelompok masyarakat.

“Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada negara, tetapi secara langsung pada unit terkecil yaitu rumah tangga,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi virtual bertema Menakar Dampak Sosial Ekonomi Rumah Tangga dan Langkah Antisipasinya yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (10/3).
Dalam diskusi yang dimoderatori Arimbie Heroepoetri (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI, Koord Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah) itu dihadiri Sri Wulan (Anggota DPR RI 2019-2024), Athia Yumna (Deputy Director of Research and Outrech SMERU), Agus Eko Nugroho (Kepala Pusat Penelitian Bidang Ekonomi LIPI), Nani Zulminarni (Pendiri dan Ketua Yayasan PEKKA/Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) dan Khomisah (Ibu Rumah Tangga Asal Kab. Kudus) sebagai narasumber.
Dalam diskusi itu juga dihadiri Diyah Puspitarini (Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah) dan Ahmad Rizali (Wakil Ketua Umum, Koodinator Bidang Pendidikan dan SDM, NU Circle) sebagai penanggap.
Menurut Lestari, akibat perekonomian rumah tangga terganggu menyebabkan gangguan sosial dan kesehatan terhadap anggota keluarga seperti ibu dan anak.
Menurut Lestari gangguan ekonomi keluarga, mendapat respon berbeda dari setiap kelompok masyarakat.
Kelompok pra sejahtera, menurut bahkan pandemi Covid-19 menyebabkan potensi kerawanan pangan terhadap anak meningkat, dampak psikologis juga diderita orang tua dan anak karena tekanan sosial menjalani kehidupan di masa pandemi.
Beragamnya dampak sosial dan ekonomi di masa pandemi diharapkan para pemangku kepentingan mampu menerapkan kebijakan komperhensif.
Deputy Director of Research and Outrech SMERU,
Athia Yumna mengungkapkan, survey yang dilakukan SMERU pada Oktober-November 2020 terhadap 12.216 responden di 34 provinsi, terungkap dampak pandemi Covid-19 sangat parah terhadap rumah tangga. Tiga dari empat rumah tangga mengalami penurunan pendapatan, 14% pencari nafkah terpaksa pindah kerja dengan sektor pertanian dan sebagai penyerap tenaga kerja. Fakta lain, setengah dari responden tidak memiliki tabungan.
Berdasarkan kondisi itu, disarankan pemangku kepentingan memperhatikan kesehatan fisik dan mental anak dan perempuan yang merupakan kelompok yang rentan mendapatkan gangguan di masa pandemi Covid-19.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Fraksi NasDem, Sri Wulan berpendapat, pemerintah harus kembali memberikan stimulus ekonomi kepada masyarakat yang rentan terdampak pandemi. Karena, pemulihan ekonomi nasional memerlukan waktu cukup panjang.
Kepala Pusat Penelitian Bidang Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho menyatakan, dampak pandemi Covid-19 di sektor ekonomi sangat berat.
Karena perekonomian kelompok masyarakat kalangan bawah mengalami kontraksi, di sisi lain kelompok masyarakat yang mampu secara ekonomi menahan konsumsi.
Program vaksinasi, menurut Agus, sangat berpengaruh terhadap proses percepatan pemulihan ekonomi nasional 2021.
Agus menyarankan, salah satu langkah yang bisa diambil mempercepat pergerakan ekonomi adalah memperbesar alokasi anggaran pemulihan ekonomi nasional untuk UMK dan LKM dan intervensi di sisi permintaan.
Ketua Yayasan Pekka, Nani Zulminarni berpendapat, di masa pandemi ini masyarakat perlu bantuan pemberdayaan ekonomi dan kebijakan afirmasi, terutama untuk kelompok tereksklusi antara lain perempuan kepala keluarga, lansia, disabilitas dan kelompok minoritas lainnya.
Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini sependapat bahwa pandemi Covid-19 mengancam kelompok rentan. “Di masa pandemi terjadi peningkatan angka kematian bayi 19% demikian angka stunting terhadap anak yang diperkirakan meningkat,”paparnya.#duk